home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Ablasi Radiofrekuensi, Prosedur untuk Meredakan Nyeri Kronis

Mengenal Ablasi Radiofrekuensi, Prosedur untuk Meredakan Nyeri Kronis

Sistem saraf memiliki peran penting dalam menciptakaan rasa nyeri di tubuh Anda. Ketika tubuh mengalami gangguan, saraf mengirimkan sinyal ke otak mengenai apa yang terjadi. Otak kemudian menafsirkan sinyal tersebut, kemudian saraf mengirimkannya kembali ke bagian tubuh yang bermasalah. Dengan mengganggu proses pengiriman sinyal tersebut, rasa nyeri yang semula Anda rasakan dapat berkurang. Proses ini dapat dilakukan melalui prosedur ablasi atau neurotomi, yang salah satunya adalah ablasi radiofrekuensi.

Apa itu ablasi radiofrekuensi?

Ablasi radiofrekuensi atau radiofrequency ablation adalah salah satu bentuk prosedur rhizotomy (neurotomi/ablasi).

Prosedur medis ini menggunakan panas dari gelombang radio untuk meredakan rasa nyeri.

Pada prosedur ini, dokter menargetkan serabut saraf yang mengirimkan sinyal rasa nyeri untuk kemudian dipanaskan dengan gelombang radio tersebut.

Tindakan ini dapat menghentikan saraf dalam mengirimkan sinyal rasa nyeri ke otak sehingga sakit yang Anda rasakan bisa mereda.

Siapa saja yang membutuhkan prosedur ini?

Dokter seringkali merekomendasikan prosedur ini pada penderita nyeri kronis yang sudah berlangsung lama, seperti sakit leher, punggung, pinggul, atau lutut.

Umumnya, penderita nyeri kronis ini tidak membaik meski sudah mendapat obat-obatan atau terapi fisik, dan operasi bukanlah pilihan yang tepat.

Pada penderita nyeri punggung, dilansir dari Mayo Clinic, biasanya dokter merekomendasikan ablasi frekuensi pada kondisi tertentu, seperti:

  • Terjadi pada satu atau kedua sisi punggung bawah.
  • Rasa nyeri menyebar ke bokong dan paha, tetapi tidak di bawah lutut.
  • Nyeri terasa memburuk jika Anda memutar badan atau mengangkat benda.
  • Rasa nyeri terasa membaik saat Anda berbaring.

Untuk mengurangi rasa nyeri di punggung dan leher tersebut, dokter umumnya menargetkan saraf pada sendi facet atau sendi sakroiliaka di tulang belakang.

Saraf-saraf pada jenis sendi ini membawa pesan rasa sakit dari tulang belakang ke otak serta terhubung ke saraf yang membawa sinyal ke bagian lain dari tubuh.

Selain mengobati nyeri pada bagian tubuh tersebut, ablasi frekuensi juga sering dokter gunakan untuk mengatasi rasa sakit lainnya.

Ambil contohnya, sakit perut yang terkait dengan kanker pankreas, nyeri panggul akibat kanker ovarium, atau nyeri wajah yang terjadi karena trigeminal neuralgia.

Konsultasikan dengan dokter untuk informasi selengkapnya.

Apa saja persiapan sebelum menjalani ablasi frekuensi?

cara mengobati peyronie secara alami

Tidak semua penderita nyeri akan mendapat prosedur ini.

Oleh karena itu, dokter akan melakukan beberapa tes pemeriksaan guna memastikan Anda bisa mendapatkan prosedur pengobatan ini.

Selain itu, tes pemeriksaan juga bertujuan untuk mencari tahu mana saraf yang berperan dalam memicu rasa nyeri.

Untuk mengujinya, dokter akan menyuntikkan obat mati rasa ke area saraf tertentu. Jika rasa sakit berkurang secara signifikan, ablasi radiofrekuensi dapat dokter lakukan pada saraf yang sama.

Selain tes tersebut, ada beberapa hal yang perlu Anda persiapkan sebelum prosedur ini, yaitu sebagai berikut.

  • Tidak merokok atau menggunakan produk tembakau pada hari prosedur.
  • Pastikan Anda tidak berhenti atau melanjutkan minum obat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Umumnya, Anda tidak boleh mengonsumsi obat apapun dua jam sebelum prosedur. Bila Anda mengonsumsi obat tertentu secara rutin, pastikan obat itu Anda minum lebih awal atau setelah prosedur.
  • Jika Anda mengonsumsi obat pengencer darah, dokter akan meminta Anda untuk menghentikan konsumsi ini untuk mengurangi risiko perdarahan.
  • Jika Anda memiliki diabetes dan menggunakan insulin, Anda harus menyesuaikan dosis insulin pada hari prosedur. Konsultasikan dengan dokter untuk penyesuaiannya.
  • Tidak makan dan minum (berpuasa) sejak malam hari sebelum prosedur, kecuali air putih hanya untuk minum obat.
  • Pastikan ada orang lain yang akan mengantar dan menjemput Anda ke rumah sakit. Pasalnya, Anda tidak boleh menyetir selama 24 jam setelah prosedur.

Jika ada persiapan khusus yang harus Anda lakukan, dokter dan perawat akan menginformasikannya kepada Anda. Tanyakan pada dokter untuk informasi lebih lanjut.

Bagaimana dokter melakukan prosedur ablasi radiofrekuensi?

Umumnya, ablasi radiofrekuensi hanyalah prosedur rawat jalan. Artinya, Anda boleh pulang setelah prosedur ini selesai.

Untuk memulai prosedur ini, Anda perlu mengganti pakaian dengan baju khusus yang sudah perawat sediakan. Setelah itu, Anda perlu berbaring di meja rontgen.

Kemudian, perawat akan menyuntikkan obat bius lokal ke area kulit di mana saraf yang menjadi target berada.

Dengan obat bius ini, area kulit tersebut akan menjadi mati rasa, sehingga Anda tidak akan merasakan sakit saat prosedur berjalan.

Setelah mulai merasa mati rasa, dokter akan memasukkan jarum tipis ke area kulit tersebut.

Selama prosedur ini, dokter akan menggunakan alat sinar-X khusus (fluoroscope) yang dapat memandu jarum agar masuk ke lokasi saraf yang tepat.

Kemudian, dokter akan memasukkan mikroelektroda melalui jarum.

Melalui mikroelektroda inilah arus frekuensi radio kecil akan dikirimkan, yang kemudian dapat memanaskan jaringan saraf Anda.

Saat prosedur berjalan, dokter mungkin akan bertanya apakah Anda merasakan sensasi kesemutan.

Hal ini untuk membantu dokter mengetahui apakah elektroda telah berada pada posisi yang tepat.

Apa yang terjadi setelah prosedur ablasi radiofrekuensi?

ilustrasi pasca operasi usus buntu

Setelah selesai, perawat akan memindahkan Anda ke ruang pemulihan. Selama masa pemulihan ini, Anda mungkin akan mulai merasakan nyeri pada area tubuh yang menjadi target.

Namun umumnya, rasa nyeri ini hanya berlangsung sementara dan akan hilang selama 1-2 hari setelahnya.

Setelah beberapa jam beristirahat di ruang pemulihan, dokter akan memperbolehkan Anda pulang.

Hanya saja, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi rasa nyeri ini selama di rumah. Berikut adalah beberapa tips perawatannya.

  • Mengompres dengan es ke area bekas masuknya jarum suntik. Kompres selama 20 menit, tiga hingga empat kali sehari pada hari pertama masa pemulihan Anda di rumah.
  • Jangan gunakan kompres atau bantalan panas ke area kulit tersebut.
  • Hindari berendam pada dua hari setelah prosedur. Anda mungkin baru boleh mandi pada 24 jam setelah prosedur.

Apa hasil dari prosedur ini?

Ablasi radiofrekuensi bukanlah pengobatan permanen untuk menghilangkan rasa nyeri Anda. Beberapa orang mungkin merasakan nyeri mereda pada jangka pendek atau hanya sebentar.

Namun, nyeri pada beberapa orang lainnya mungkin mereda lebih lama.

Cleveland Clinic menyebutkan bahwa prosedur ini bisa meredakan rasa nyeri hingga 6-12 bulan. Namun, beberapa pasien juga bisa merasakan hingga tahunan.

Meski demikian, terkadang, perawatan ini tidak memperbaiki rasa nyeri sama sekali.

Agar prosedur ini efektif, saraf yang menjadi target haruslah saraf yang memang berperan pada rasa nyeri Anda.

Oleh karena itu, konsultasikan dengan dokter untuk memastikan bahwa pengobatan ini tepat.

Apa risiko atau komplikasi yang mungkin muncul setelah ablasi radiofrekuensi?

Ablasi radiofrekuensi adalah prosedur yang aman. Risiko komplikasi dari prosedur ini pun sangat rendah. Meski demikian, komplikasi yang serius pun bisa saja terjadi.

Berikut adalah beberapa risiko atau komplikasi dari prosedur ablasi ini:

  • infeksi,
  • perdarahan,
  • pembengkakan, memar, atau nyeri pada area kulit tempat masuknya jarum,
  • kerusakan saraf, dan
  • kelemahan atau mati rasa pada kaki.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Radiofrequency neurotomy – Mayo Clinic. Mayoclinic.org. (2021). Retrieved 7 July 2021, from https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/radiofrequency-neurotomy/about/pac-20394931.

Selective Dorsal Rhizotomy. Cleveland Clinic. (2021). Retrieved 7 July 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/17458-selective-dorsal-rhizotomy.

Radiofrequency Ablation. ucsfhealth.org. (2021). Retrieved 7 July 2021, from https://www.ucsfhealth.org/treatments/radiofrequency-ablation.


Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ihda Fadila Diperbarui 3 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri