Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

5 Jenis Olahraga Terbaik untuk Pasien Emfisema dan Manfaatnya

5 Jenis Olahraga Terbaik untuk Pasien Emfisema dan Manfaatnya

Penyakit emfisema dapat menimbulkan gejala berupa napas pendek sehingga penderitanya kesulitan bernapas. Karena alasan ini, banyak pasien emfisema yang enggan berolahraga karena takut sesak napas akan memburuk. Padahal, olahraga justru dapat memberikan manfaat untuk pasien emfisema bila dilakukan dengan tepat.

Pentingnya olahraga untuk pasien emfisema

olahraga untuk penderita gagal ginjal

Emfisema adalah sebuah kondisi ketika alveolus, kantung udara di dalam paru-paru, mengalami kerusakan. Kerusakan ini tidak terjadi secara mendadak dan memakan waktu bertahun-tahun sampai akhirnya menimbulkan gejala.

Gejala emfisema muncul ketika jaringan alveoli mengalami kerusakan, hancur, atau pecah. Ini membuat udara terperangkap di dalam paru-paru dan menyebabkan penyumbatan.

Penumpukan udara mengurangi luas permukaan paru-paru sehingga tidak ada ruang bagi udara segar kaya oksigen yang akan masuk ke dalam tubuh. Kondisi ini juga menghambat keluarnya udara yang mengandung karbondioksida dari paru-paru.

Saat kerusakan paru-paru makin parah, pasien akan mulai merasakan gejala sesak napas, terutama ketika melakukan aktivitas yang membutuhkan tenaga seperti naik tangga. Nah, hal inilah yang membuat pasien cenderung menghindari aktivitas fisik seperti berolahraga.

Banyak pasien berpikir bahwa olahraga akan semakin memperburuk gejala yang mereka alami. Tanpa mereka sadari, minimnya aktivitas yang dilakukan malah semakin memperparah sesak napas.

Selain itu, tubuh pasien juga menjadi lebih lemah karena jarang bergerak. Ini merupakan salah satu tanda seseorang kurang olahraga.

Menghindari aktivitas fisik dapat melemahkan otot-otot tubuh, padahal otot yang lemah membutuhkan lebih banyak oksigen agar bisa bekerja.

Pada saat yang sama, pasokan oksigen ke tubuh berkurang karena paru-paru yang bermasalah. Semua ini membuat bernapas terasa sangat melelahkan.

Maka dari itu, pasien emfisema tetap disarankan untuk melakukan olahraga. Ada banyak sekali manfaat olahraga rutin, antara lain memperkuat otot, menambah energi agar tidak mudah lelah, dan meningkatkan pertahanan tubuh.

Olahraga yang cukup juga dapat memperkuat otot paru-paru, yang mana akan meningkatkan kapasitas kerjanya dalam menyimpan lebih banyak oksigen. Dampaknya, gejala sesak napas akan berkurang.

Dengan demikian, jangan biarkan penyakit paru-paru yang Anda miliki menjadi penghalang untuk menjalani gaya hidup yang lebih aktif.

Jenis olahraga yang baik untuk pasien emfisema

olahraga penyakit jantung koroner, olahraga lansia

Olahraga tak melulu harus yang berat. Asal Anda melakukannya secara rutin, olahraga yang ringan tetap dapat memberikan manfaat untuk meringankan kondisi Anda.

Berikut merupakan beberapa jenis olahraga yang bisa menjadi pilihan.

1. Peregangan

Peregangan amat penting sebelum dan sesudah Anda berolahraga. Melakukan peregangan pada lengan dan kaki akan membantu mempersiapkan otot untuk berolahraga serta membantu mencegah cedera dan tegang otot.

Bila dilakukan secara rutin, peregangan dapat meningkatkan fleksibilitas tubuh dan jangkauan gerak. Tubuh juga jadi lebih rileks setelahnya.

Cobalah berlatih meregangkan tubuh selama 10 hingga 30 detik. Di sela-sela latihan ini, Anda juga bisa melatih pernapasan dengan menarik dan mengembuskan napas perlahan. Ulangi latihan ini beberapa kali seperlunya.

2. Berjalan kaki

Berjalan merupakan olahraga yang aman dan efektif untuk semua orang, termasuk pasien yang memiliki penyakit paru seperti emfisema. Selain mudah, berjalan kaki bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Rutinitas jalan kaki yang teratur dapat membuat pasien emfisema lebih mampu bertahan saat melakukan olahraga. Manfaatnya juga telah terbukti pada sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Respirology.

Dalam jurnal tersebut, terlihat bahwa pasien penyakit paru yang berjalan kaki minimal tiga kali seminggu dibarengi olahraga lain memiliki risiko yang lebih rendah untuk dirawat di rumah sakit.

Tidak usah langsung memasang target untuk berjalan sampai berkilo-kilometer jauhnya. Mulailah dengan berjalan kaki selama lima menit setiap hari, lalu tambahkan durasi dan jaraknya secara bertahap ketika tubuh mulai terbiasa.

3. Berenang

latihan berenang untuk pemula

Berenang dapat melatih tubuh dalam menggunakan oksigen dengan lebih efisien dan memperlambat laju pernapasan sehingga Anda tidak mudah sesak napas. Olahraga yang satu ini bantu memperkuat otot paru-paru dan diafragma.

Berenang juga dapat meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas otot. Karena tekanan dalam air lebih besar, otot akan dipaksa untuk bekerja sedikit lebih keras.

Meski demikian, Anda harus berhati-hati bila ingin melakukan kegiatan ini. Sebab, kaporit yang biasa ditemukan dalam air kolam renang dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menyebabkan batuk atau mengi.

Penguapan senyawa klorin lebih tahan lama pada ruangan yang tertutup. Jadi, guna menghindari risiko tersebut, pilihlah berenang di kolam renang luar ruangan.

4. Bersepeda

Sebagai salah satu jenis olahraga low impact, risiko tegang otot dan cedera karena bersepeda bisa dibilang cukup rendah bila dibandingkan dengan olahraga lain. Bersepeda dapat menjadi pilihan olahraga yang tepat untuk pasien emfisema.

Rutin bersepeda membantu Anda bernapas lebih dalam dan lega, serta membuat otot lebih kuat dan fleksibel.

Agar lebih aman, cobalah memulai olahraga ini dengan menggunakan sepeda stasioner di dalam ruangan. Bila Anda melakukannya di pusat kebugaran, mintalah bantuan dan pengawasan dari pelatih profesional sepanjang berolahraga.

Setelah kemampuan dan kekuatan Anda meningkat, mulailah bersepeda di luar ruangan dalam jarak tempuh yang dekat.

5. Angkat beban

dumbbell shoulder press

Siapa bilang orang-orang yang punya masalah pernapasan tidak boleh berlatih angkat beban? Faktanya, angkat beban yang ringan sangatlah bermanfaat untuk melatih kekuatan otot-otot tubuh, termasuk otot paru-paru.

Anda bisa berlatih dengan menggunakan dumbbell kecil atau botol yang terisi penuh oleh air minum. Salah satu gerakan dasar yang baik untuk memulai olahraga ini yaitu biceps curl.

Caranya, Anda cukup berdiri tegak dengan kedua kaki terbuka sejajar dengan bahu. Pegang dumbbell di tangan kanan dan kiri Anda. Kemudian, angkat salah satu tangan Anda ke arah bahu dengan lengan atas yang tetap menempel pada sisi dada.

Lakukan bergantian dengan tangan di sisi lain. Ulangi gerakan sebanyak 1015 kali atau secukupnya.

Ingat, apa pun jenis olahraganya, pastikan Anda memulainya dengan intensitas yang ringan. Konsultasikan dahulu kepada dokter untuk menentukan jenis olahraga yang tepat dan aman bagi kondisi Anda.

Jangan berolahraga bila Anda sedang mengalami demam, infeksi, merasa mual, sakit dada, atau kehabisan oksigen. Segera hubungi dokter bila Anda merasakan gejala ini saat berolahraga.

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

COPD Guidelines For Exercise & Pulmonary Rehab. (2018). Cleveland Clinic. Retrieved March 8, 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/articles/9450-copd-exercise–activity-guidelines

Physical Activity and COPD. (2021). American Lung Association. Retrieved March 8, 2022, from https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/copd/living-with-copd/physical-activity

Exercise. (n.d.). National Emphysema Foundation. Retrieved March 8, 2022, from https://www.emphysemafoundation.org/index.php/healthy-habits/exercise

How Will Being Active Affect My Breathing? (n.d.). Asthma and Lung UK. Retrieved March 8, 2022, from https://www.blf.org.uk/support-for-you/keep-active/how-will-it-affect-my-breathing

Breathing Problems and Exercise. (n.d.). Better Health Channel. Retrieved March 8, 2022, from https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/breathing-problems-and-exercise

Take the Plunge for Your Heart. (2009). Harvard Health Publishing. Retrieved March 8, 2022, from https://www.health.harvard.edu/newsletter_article/take-the-plunge-for-your-heart

Spruit, M. A., Burtin, C., De Boever, P., Langer, D., Vogiatzis, I., Wouters, E. F., & Franssen, F. M. (2016). COPD and exercise: does it make a difference?. Breathe (Sheffield, England), 12(2), e38–e49. Retrieved March 8, 2022.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui Apr 04
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.