Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Apakah Pengidap Emfisema Bisa Sembuh Total? Ini Jawabannya

Apakah Pengidap Emfisema Bisa Sembuh Total? Ini Jawabannya

Emfisema adalah salah satu penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang ditandai dengan sesak napas, batuk, mengi, dan sesak di dada. Perubahan gaya hidup merupakan penanganan penting yang harus dilakukan, sebab penyebab utama emfisema sendiri adalah merokok. Lantas, apakah dengan begitu emfisema bisa sembuh total? Simak penjelasannya di bawah ini.

Apakah pengidap emfisema bisa sembuh total?

cara mencegah emfisema, apakah emfisema bisa sembuh

Emfisema dapat terjadi akibat paparan jangka panjang dari zat iritan yang merusak paru-paru dan saluran pernapasan.

Penyebab emfisema di antaranya asap rokok, asap tembakau, polusi udara, bahan kimia, asap kendaraan, dan kondisi genetik (meski jarang terjadi).

Siapa pun berisiko terkena emfisema. Akan tetapi, dilansir dari MedlinePlus, sekitar 75% penderita emfisema ialah orang-orang yang merokok atau pernah merokok.

Akan tetapi, apakah emfisema bisa sembuh total jika semua hal tersebut berhasil dihentikan?

Sejauh ini, berbagai pengobatan telah dilakukan agar emfisema bisa sembuh dan tidak kambuh lagi. Namun, belum ada pengobatan yang berhasil.

Hal ini karena belum ada obat yang betul-betul mampu menyembuhkan pasien emfisema. Akibatnya, kondisi pasien emfisema bisa saja memburuk dari hari ke hari.

Walaupun demikian, penanganan yang dilakukan setidaknya mampu meringankan gejala emfisema yang dirasakan oleh pengidapnya.

Cara mengatasi emfisema

Meskipun Anda tidak tahu kapan emfisema bisa sembuh, terdapat beberapa cara yang bisa meredakan gejala serta memperlambat perkembangan penyakit tersebut.

1. Perubahan gaya hidup

Hampir sebagian besar penyakit paru disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat dan teratur. Oleh sebab itu, Anda bisa mengubahnya dengan cara:

  • berhenti merokok jika Anda perokok aktif,
  • menghindari asap rokok,
  • menghindari tempat dan benda yang berdebu, serta
  • jangan berolahraga di luar ruangan saat kualitas udara sangat buruk.

2. Obat-obatan

Berikut merupakan beberapa jenis obat yang dapat meredakan gejala emfisema.

Bronkodilator

Obat ini bekerja dengan cara merelaksasi dan membuka saluran udara di paru-paru sehingga Anda merasa lebih lega. Dengan demikian, sesak napas yang menjadi gejala utama emfisema bisa berkurang.

Biasanya, obat bronkodilator diberikan secara oral (lewat mulut) atau semprotan aerosol (dihirup melalui hidung). Contoh obatnya yaitu terbutalin, aminofilin, salbutamol, dan teofilin.

Steroid

Obat-obatan berbahan steroid membantu mengurangi proses peradangan yang terjadi di dalam paru-paru Anda. Cara pemberian steroid sendiri bisa dalam bentuk oral, inhalasi, dan injeksi (suntikan)

Contoh obat steroid yang digunakan adalah prednison, metilprednisolon, budesonide, dan flutikason.

Antibiotik

Antibiotik berfungsi untuk melawan infeksi pernapasan yang umumnya terjadi pada pasien emfisema seperti pneumonia, flu, dan bronkitis.

Contoh antibiotik untuk pasien emfisema adalah amoxicillin, sefalosporin, dan kuinolon.

3. Terapi oksigen

Saat emfisema kambuh, mungkin pasien akan merasa kesulitan untuk bernapas sendiri. Oleh sebab itulah diperlukan oksigen tambahan yang bisa didapatkan melalui terapi oksigen.

4. Rehabilitasi paru

konsultasi dokter paru

Bagian terpenting dalam pengobatan emfisema yaitu rehabilitas paru, yang meliputi konseling gizi, pendidikan, belajar teknik pernapasan khusus, berhenti merokok, dan memulai olahraga.

Hal ini karena orang dengan emfisema seringkali menghindari segala jenis aktivitas fisik. Padahal, aktivitas fisik secara teratur bisa meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan Anda.

5. Pembedahan

Pembedahan merupakan cara terakhir untuk orang-orang yang mempunyai gejala emfisema parah dan masih belum membaik dengan obat-obatan di atas.

Ada dua pilihan pembedahan yang bisa Anda pilih, yaitu transplantasi paru dan pengurangan volume paru untuk mengangkat jaringan paru-paru yang rusak.

Mungkin sebagian orang berpikir kalau operasi akan membuat penyakit emfisema bisa sembuh total. Akan tetapi, penanganan ini belum mampu mengobati emfisema.

Tips menjaga kesehatan paru

Kesehatan paru-paru

Orang-orang yang hidup dengan emfisema sering kali mengalami kesulitan ketika bernapas, baik saat beraktivitas berat maupun ringan.

Meskipun tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya, Anda bisa mencegah kekambuhan dengan menjaga kesehatan paru. Inilah berbagai tipsnya.

1. Berhenti merokok

Merokok merupakan penyebab utama terjadinya kanker paru-paru dan penyakit paru obstruktif kronis seperti bronkitis dan emfisema.

Asap rokok akan mempersempit saluran udara sehingga Anda merasa kesulitan saat bernapas. Hal ini dapat menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada paru-paru.

Apabila Anda berhenti merokok, tentu saja semua hal buruk di atas dapat segera dihindari.

2. Batuk yang terkontrol

Batuk merupakan cara alami tubuh untuk mengeluarkan racun yang terperangkap dalam lendir. Dengan batuk yang terkontrol, kelebihan lendir dalam paru-paru pun dapat diatasi.

Anda bisa lakukan langkah-langkah berikut ini untuk membersihkan paru dari kelebihan lendir.

  1. Duduk di kursi dengan kondisi bahu rileks dan jaga kedua kaki agar tetap menapak lantai.
  2. Lipat tangan di atas perut.
  3. Tarik napas secara perlahan lewat hidung.
  4. Embuskan napas perlahan sambil mencondongkan tubuh ke depan.
  5. Dorong lengan ke perut.
  6. Batuk 2 atau 3 kali ketika mengembuskan napas dalam keadaan mulut sedikit terbuka.
  7. Tarik napas perlahan lewat hidung.
  8. Istirahat, lalu ulangi hingga beberapa kali.

Dengan berkurangnya lendir dalam paru, sesak napas yang merupakan gejala emfisema bisa berkurang dengan perlahan.

3. Olahraga yang teratur

Saat berolahraga, otot akan bekerja lebih keras dalam meningkatkan laju pernapasan, menghasilkan pasokan oksigen lebih banyak ke otot, dan meningkatkan sirkulasi darah.

Apabila tubuh Anda sudah terbiasa, tidak akan berat untuk melaksanakan olahraga secara rutin. Dengan begitu, perlahan gejala emfisema dapat teratasi meskipun belum sembuh total.

Beberapa olahraga yang bisa Anda lakukan antara lain bersepeda, menari, berenang, jogging, dan jalan kaki.

4. Berupaya mencegah infeksi

Infeksi pada sistem pernapasan memang menimbulkan masalah yang sangat serius. Maka dari itu, Anda bisa lakukan beberapa cara berikut untuk melindungi diri dari infeksi.

  • Sering-sering mencuci tangan dengan air dan sabun, lalu dilanjutkan dengan menggunakan hand sanitizer.
  • Menghindari keramaian selama musim penghujan dan flu.
  • Mendapatkan vaksin influenza.
  • Sikat gigi setidaknya dua kali sehari agar terhindar dari bakteri gigi dan mulut.

Jadi, saat Anda sudah merasakan beberapa gejala penyakit emfisema, jangan berdiam diri saja. Walaupun emfisema tidak bisa sembuh total, segeralah periksakan diri ke dokter agar gejalanya tidak semakin parah.

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Emphysema | Emphysema Symptoms | Emphysema Treatment | MedlinePlus. (2022). Retrieved 21 April 2022, from https://medlineplus.gov/emphysema.html

7 natural ways to cleanse your lungs. (2022). Retrieved 11 April 2022, from https://www.medicalnewstoday.com/articles/324483#outlook

Emphysema: Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatments. (2022). Retrieved 11 April 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9370-emphysema

Emphysema Treatment. (2022). Retrieved 11 April 2022, from https://www.ucsfhealth.org/conditions/emphysema/treatment

National Emphysema Foundation – Lifestyle Changes to Improve COPD Symptoms, Quality of Life. (2022). Retrieved 11 April 2022, from http://www.emphysemafoundation.org/?id=197

Pulmonary Emphysema. (2022). Retrieved 11 April 2022, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/pulmonary-emphysema

Tips to Keep Your Lungs Healthy. (2022). Retrieved 11 April 2022, from https://www.lung.org/lung-health-diseases/wellness/protecting-your-lungs

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ocha Tri Rosanti Diperbarui 4 weeks ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.