Tahi Lalat Anda Banyak? Ternyata Ini Penyebabnya

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Anda punya tahi lalat? Apakah jumlahnya sedikit atau banyak? Setiap orang biasanya memiliki tanda ini di bagian tubuh yang terlihat maupun tidak terlihat oleh mata. Apakah Anda penasaran, bagaimana Anda bisa memiliki bintik kecil berwarna coklat atau hitam ini di kulit? Dan apa artinya jika tahi lalat Anda lebih banyak dari orang lain? Simak artikel berikut.

Proses terbentuknya tahi lalat di kulit

Tahi lalat atau nevus pigmentosus adalah bintik kecil berwarna coklat atau agak kehitaman yang terlihat di atas permukaan kulit. Orang-orang yang berkulit lebih terang biasanya akan memiliki tahi lalat lebih banyak dibandingkan mereka yang berkulit lebih gelap. Nevus biasanya mulai muncul pada masa anak-anak dan tumbuh selama 25 tahun pertama kehidupan seseorang, dan sebagian lainnya sudah ada sejak lahir.

Menurut penelitian, satu orang manusia rata-rata memiliki 10 hingga 40 bintik kecil ini di tubuhnya dan hal ini dianggap normal dan wajar. Tahi lalat adalah pertumbuhan kulit yang biasa terjadi dan dihasilkan dari proses alami di dalam kulit.

Melanin adalah pigmen atau zat warna alami yang memberikan kulit, rambut, dan selaput pelangi di mata menjadi berwarna. Di kulit, melanin diproduksi di dalam sel yang disebut melanocytes. Melanocytes terletak di bagian dua lapis teratas lapisan kulit. Melanocytes cenderung menyebar merata di sepanjang kulit dan memberikan warna alami pada kulit.

Ketika terpapar matahari, melanocytes memproduksi lebih banyak melanin, dan menghitamkan kulit dengan menghasilkan warna coklat pada kulit karena berjemur atau terpapar matahari. Ketika melanocytes tidak dapat menyebar secara merata dan tertumpuk di kulit di satu titik di bagian kulit, tahi lalat terbentuk di kulit Anda.

Bintik ini dapat terbentuk di manapun pada bagian tubuh. Tetapi cenderung lebih sering tumbuh pada bagian tubuh yang sering terkena paparan matahari seperti tangan, lengan, dada, leher ataupun wajah. Tampilan atau jumlah nevus pigmentosus seseorang dapat berubah. Hal ini disebabkan oleh perubahan hormon.

Bintik kecil ini ada yang berbahaya dan ada juga yang tidak berbahaya. Meski tidak berbahaya, sebagian orang menjadi tidak percaya diri karena bentuknya yang terkadang mengganggu penampilan.

Mengapa ada orang yang memiliki banyak tahi lalat?

1. Faktor genetik

Seseorang yang memiliki kulit terang cenderung memiliki nevus lebih banyak dibandingkan dengan orang yang memiliki kulit gelap. Tumbuhnya tahi lalat biasanya akan muncul selama 25 tahun di masa awal kehidupan. Namun banyak juga orang yang memiliki tanda ini dari lahir. Hal ini akan lebih besar kemungkinan terjadi pada seseorang yang anggota keluarganya juga mempunyai banyak tanda ini dan hal ini bisa menurun.

2. Tinggal di wilayah beriklim panas

Menurut penelitian tahi lalat akan mudah muncul pada orang-orang yang tinggal di wilayah beriklim panas. Hal ini disebabkan oleh seringnya mereka terpapar matahari. Karena ketika terpapar matahari, melanin akan lebih banyak memproduksi melanocytes dan jika banyak melanocytes yang tertumpuk dan tidak tersebar secara merata, nevus akan mudah terbentuk dan muncul.

3. Obat-obatan tertentu

Munculnya tahi lalat yang semakin bertambah terus di tubuh bisa jadi dipicu oleh konsumsi obat-obatan tertentu, seperti misalnya obat hormonal, antibiotik, dan antidepresan.

Obat-obat tersebut akan membuat kinerja dari sistem kekebalan tubuh menurun sehingga sensitivitas kulit dapat meningkat terhadap cahaya matahari. Hal ini kemudian berkaitan dengan penyebab yang disebutkan sebelumnya dan meningkatkan risiko untuk memiliki lebih banyak tahi lalat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Lulur Ekstrak Bengkoang Bisa Memutihkan Kulit?

Produk perawatan kulit biasanya mengandung bahan yang diklaim dapat memutihkan kulit, seperti bengkoang. Apa benar ekstrak bengkoang bisa memutihkan kulit?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Perawatan Kulit, Kesehatan Kulit 8 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Pilihan Cara Menghilangkan Selulit yang Mengganggu

Banyak yang menyangka penyebab selulit adalah tumpukan lemak di tubuh, namun ini ternyata kurang tepat. Lalu, bagaimana cara menghilangkan selulit?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Kulit, Penyakit Kulit Lainnya 5 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Cek Menu Harian Anda: 9 Makanan Ini Membuat Anda Tampak Cepat Tua

Ingin terus terlihat awet muda hingga bertahun-tahun ke depan? Hindari makanan yang ada di dalam artikel ini jika tidak ingin tampak cepat tua!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Kesehatan, Informasi Kesehatan 1 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Apa Saja Efek Samping Suntik Filler di Wajah?

Tertarik melakukan filler wajah? Ketahui terlebih dulu efek samping dan hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan perawatan wajah satu ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan, Operasi A-Z 31 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

brazilian blowout

Waspada Brazilian Blowout, Teknik Meluruskan Rambut dengan Formalin

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
penyebab bulu mata rontok

Tanpa Disadari, Hal-Hal Ini Bisa Menyebabkan Bulu Mata Rontok

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
masker mengecilkan pori-pori

3 Masker Alami untuk Mengecilkan Pori-pori Wajah

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
minyak jojoba untuk melawan keriput

Penuaan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit