home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Gejala Tipes dan Hepatitis Sering Kali Mirip. Kenali Perbedaannya.

Gejala Tipes dan Hepatitis Sering Kali Mirip. Kenali Perbedaannya.

Penyakit hepatitis adalah salah satu masalah kesehatan umum di negara berkembang seperti di Indonesia. Sama seperti hepatitis, tipes juga merupakan salah satu penyakit menular yang mengancam kesehatan masyarakat Tanah Air. Kedua penyakit ini juga sama-sama bisa disebabkan oleh kebersihan diri yang kurang baik. Lalu apa bedanya tipes dan hepatitis?

Apa itu tipes?

Menurut CDC, tipes atau demam tifoid adalah infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella. Bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh manusia melalu makanan atau minuman yang terkontaminasi feses.

Bakteri salmonella menyerang bagian usus halus manusia, kemudian berkembang biak dan menyebar. Masa inkubasi atau masa timbulnya gejala sejak bakteri masuk ke dalam tubuh penderita tipes diperlukan waktu kurang lebih 14 hari.

Apa itu hepatitis?

Hepatitis merupakan kondisi peradangan yang terjadi di sel-sel hati manusia yang bisa disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, toksin, parasit), obat-obatan (termasuk obat tradisional), konsumsi alkohol, dan penyakit autoimun. Penyakit hepatitis juga memiliki beberapa jenis berdasarkan virus yang menyerangnya, yakni hepatitis A, B, C, D, dan E.

Masa inkubasi orang yang mengalami hepatitis membutuhkan waktu berbeda-beda, hepatitis A memerlukan masa inkubasi rata-rata 28 hari, hepatitis B 120 hari, dan hepatitis C 45 hari.

Apa bedanya gejala tipes dan hepatitis?

Secara umum, terdapat beberapa gejala yang sama antara tipes dan hepatitis, yakni mual, muntah, pusing, demam, nafsu makan berkurang, dan perut nyeri. Namun, ada gejala utama yang membedakan tipes dan hepatitis yaitu terjadinya jaundice (sakit kuning) pada pasien hepatitis.

Jaundice atau yang sering disebut ikterus adalah kondisi di mana jaringan tubuh menjadi kekuningan disebabkan oleh menurunnya konsentrasi bilirubin di cairan ekstraseluler pada pasien yang mengalami hepatitis. Sedangkan pada penyakit tipes tidak terjadi gejala ini, melainkan dapat ditemukannya bintik-bintik merah muda pada dada pasien tipes.

Selain itu, orang yang mengalami hepatitis biasanya memiliki gejala demam. namun perbedaanya adalah pada penderita tipes, suhu tubuh cenderung akan meningkat menjelang sore hari, dan akan menurun mendekati normal kembali pada pagi hari.

obat demam

Apa bedanya tipes dan hepatitis dari segi penularan penyakit?

Pada penyakit tipes, penularan dapat terjadi melalui minuman atau makanan yang terkontaminasi salmonella typhi. Makanan atau minuman tersebut terkontaminasi oleh lalat yang sebelumnya menempel pada muntahan, urin, dan kotoran dari penderita tipes. Makanan pun masuk ke saluran pencernaan manusia, sebagian kuman dari makanan tersebut mati oleh pengaruh asam lambung dan sebagian lagi dapat menjebol masuk ke dalam usus halus.

Setelah masuk ke dalam usus halus, kuman masuk ke kelenjar getah bening, pembuluh darah, dan seluruh tubuh (terutama ke organ hati, dan empedu) sehingga air seni penderitanya mengandung bakteri salmonella yang siap mencemari manusia lainnya.

Pada hepatitis, penularan terjadi bermacam-macam berdasarkan jenis virusnya. Pada hepatitis A dan E, penularan mirip dengan tipes yakni umumnya terjadi karena pencemaran air minum, makanan yang tidak dimasak, makanan yang tercemar, sanitasi yang buruk, dan kebersihan tubuh yang tidak terjaga.

Sedangkan hepatitis B penularannya 95% terjadi saat persalinan (hubungan ibu dan anak). Namun bisa juga terjadi melalui tranfusi darah, jarum suntik tercemar, pisau cukur, tato, atau transplantasi organ. Hepatitis C penularannya dapat terjadi melalui darah dan cairan tubuh.

Apa perbedaan pengobatan untuk penderita hepatitis dan tipes?

Penyakit tipes biasanya akan ditangani dengan pemberian antibiotik oleh dokter, sedangkan pada penyakit hepatitis berbeda-beda. Pada penderita hepatitis A, tidak terdapat pengobatan khusus, hanya diberikan pengobatan pendukung dan dijaga keseimbangan gizinya. Untuk penderita hepatitis tipe B, C, D akan diberikan antiviral khusus dan interferon.

Bagaimana dengan pencegahannya?

Tipes, hepatitis A, dan E dapat dicegah dengan menjaga kebersihan lingkungan, terutama kebersihan makanan dan minuman seperti mencuci tangan sebelum makan, minum, dan mengolah bahan makanan. Selain itu, masaklah bahan makanan dan minuman hingga matang.

Untuk penderita hepatitis B, C, dan D dapat dilakukan dengan menghindari hubungan badan bersama orang yang terinfeksi, menghindari pemakaian jarum suntik, sikat gigi, dan alat cukur bersama.

Selain itu hati-hati juga terhadap penggunaan alat pembuat tato dan alat tindik yang kurang terjamin kebersihannya. Untuk bayi yang baru lahir, terdapat imunisasi yang dapat mencegah adanya penularan hepatitis.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  1. Kinsey, Brian. 2010. Encyclopedia of Health 4th ed. New York : Marshall Cavendish
  2. Emeluth, Donald. 2004. Deadly Disease and Epidemics : Thypoid Fever. New York : Chelsea House
  3. Kementrian Kesehatan RI. 2014. Info Datin : Situasi dan Analisis Hepatitis. Jakarta : Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI
  4. Berkman, Alan., Bakalar, Nicholas. 2001. Hepatitis A to G. New York : Warner Books
  5. Nelms, Marcia., Sucher, KP.,Lacey, K., dan Roth, SR. 2011. Nutrition Therapy and Pathophisiologhy. Belmont : Wadsworth Cengage Learning
  6. Purba dkk. 2016. Program Pengendalian Demam Tifoid di Indonesia: Tantangan dan Peluang. Media Litbangkes, Vol. 26 No. 2, Juni 2016, 99 – 108
  7. CDC. 2016. The ABCs of Hepatitis. [online] tersedia pada : https://www.cdc.gov/hepatitis/resources/professionals/pdfs/abctable.pdf (Diakses 8 Nov 2017)
  8. CDC. 2016. Symptoms & Treatment. [online] tersedia pada : https://www.cdc.gov/typhoid-fever/symptoms.html (Diakses 8 Nov 2017)
  9. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Depkes RI. 2007. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hati. Jakarta : Depkes RI
  10. Inawati. Tanpa Tahun. Demam Tifoid. Surabaya : Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Tanggal diperbarui 11/11/2017
x