4 Tips Menjalani Ibadah Puasa Saat Sedang Diare

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Anda biasanya terlalu bersemangat menjalani awal-awal puasa sehingga tidak memperhatikan lagi pola makan. Karena itu, gangguan pencernaan adalah salah satu masalah yang sering dijumpai di minggu pertama puasa. Gangguan pencernaan yang paling sering dikeluhkan adalah diare. Jika Anda sedang mengalami hal ini, bagaimana bisa Anda menjalani ibadah puasa dengan lancar? Jangan khawatir, berikut tips puasa saat diare untuk Anda yang tetap bersemangat ibadah.

Apa penyebab diare saat berpuasa?

Menjaga kesehatan di bulan Ramadan merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Kebersihan diri dan makanan pun menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap prima. Bila kondisi tubuh tidak sehat, maka aktivitas puasa Anda pun akan terganggu.

Gangguan kesehatan yang kerap terjadi pada bulan puasa adalah diare dan sakit perut akibat penerapan pola makan yang salah. Selain menjalankan kebiasaan yang kurang sehat, pada minggu-minggu awal puasa seseorang biasanya mulai merasakan ketidaknyamanan karena adanya perubahan derajat keasaman (pH) pada tubuh akibat berubahnya pola makan serta tubuh yang masih mencoba untuk beradaptasi.

Diare biasanya terjadi karena Anda salah makan saat sahur atau berbuka.  Saat puasa biasanya Anda akan cenderung mengonsumsi makanan berbuka dengan tidak tepat, seperti makanan yang terlalu pedas atau terlalu banyak sehingga saat malam atau pagi hari justru Anda merasa diare.

Bagaimana cara aman menjalankan ibadah puasa saat diare?

Jika Anda mengalami diare saat sedang puasa, Anda bisa mengikuti beberapa tips berikut ini, agar puasa Anda bisa berjalan lancar.

1. Perbanyak konsumsi cairan saat sahur dan buka puasa

Diare bisa menyebabkan Anda kekurangan cairan, terlebih lagi dalam waktu lebih dari 12 jam, Anda tidak akan mendapatkan asupan cairan. Hal ini akan memperburuk kondisi tubuh Anda. Untuk mengatasi hal ini, usahakan pada saat jam sahur Anda banyak mengonsumsi cairan seperti air putih.

Penggunaan oralit sangat dianjurkan jika seseorang memiliki risiko dehidrasi. Oralit terdiri dari campuran air dengan gula dan garam. Cairan ini berfungsi untuk menggantikan karbohidrat, elektrolit/ion, dan mineral penting lainnya yang hilang dalam tubuh agar tidak terjadi dehidrasi. Oralit bisa dibeli di apotek-apotek tanpa menggunakan resep.

Dari waktu berbuka hingga waktu imsyak, usahakan Anda selalu terhidrasi dengan baik. Air putih dapat mencegah seseorang mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh yang bisa menyebabkan lemas dan sakit.

2. Konsumsi yoghurt setelah berbuka

Menurut American Journal of Clinical Nutrition, mengonsumsi yogurt secara teratur dapat meningkatkan imunitas, terutama yang berhubungan dengan pencernaan. Sebuah studi menunjukkan, yogurt dapat mengatasi masalah infeksi pencernaan.

Bakteri probiotik yang terkandung di dalam yogurt dapat melawan bakteri jahat pada sistem pencernaan dan membantu ‘perjalanan’ makanan di saluran cerna. Yogurt sebaiknya dikonsumsi pada malam hari sebelum tidur.

Pilih yoghurt yang tidak mengandung pemanis buatan, karena yang mengandung pemanis buatan justru akan memperparah diare Anda. Jika Anda sering diare atau diare lebih parah ketika Anda minum susu atau makan produk olahan susu, bisa jadi Anda mengidap intoleransi laktosa.

3. Hindari makanan berlemak dan berminyak

Puasa saat diare harus membuat Anda memilih makanan untuk berbuka puasa ataupun sahur. Makanan tinggi lemak dapat memperparah diare dan sakit perut, jadi sebisa mungkin, hindari makanan ini untuk menjadi santapan buka puasa atau menu sahur Anda. Jika Anda belum sembuh 100%, hindari daging merah, mentega, margarin, produk susu, makanan yang digoreng, makanan cepat saji, makanan kemasan siap makan, dan makanan olahan. Batasi konsumsi lemak  kurang dari 15 gram per hari.

4. Mengatasi diare dengan obat-obatan

Ada beberapa jenis obat antidiare, dan umumnya obat antidiare mampu mengurangi gejala, serta mempersingkat lamanya diare sebanyak  satu hari. Obat antidiare yang paling sering digunakan adalah loperamide. Obat ini terbukti efektif dan memilki efek samping yang sedikit. Loperamide mampu menjadikan kotoran Anda lebih padat dan mengurangi frekuensi buang air besar Anda.

Sejumlah obat antidiare bisa dibeli di apotek tanpa menggunakan resep dari dokter. Anda disarankan untuk membaca petunjuk pada kemasan agar tahu takaran dosis yang tepat dan tahu apakah obat tersebut cocok untuk Anda. Obat antidiare sebetulnya tidak diperlukan, kecuali Anda terdesak oleh aktivitas penting. Penderita diare disarankan untuk tidak mengonsumsi antibiotik jika penyebabnya belum diketahui.

Puasa saat diare mungkin akan menjadi tantangan tersendiri untuk Anda. Pastikan Anda banyak beristirahat, ini akan membantu Anda melawan infeksi yang mungkin menyebabkan diare dan memulihkan stres fisik karena sakit. Jika diare Anda bertambah parah, ada baiknya segera konsultasikan ke dokter.

Berapa Banyak Kalori yang Anda Butuhkan?

Selain rajin berolahraga, mengetahui berapa banyak asupan kalori yang harus dikonsumsi juga penting untuk menjaga kesehatan. Cari tahu kalori harian yang Anda butuhkan di sini.

Cari Tahu!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sistiserkosis

Sistiserkosis adalah penyakit. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, serta cara mengontrol dan mencegahnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit Infeksi, Infeksi Jamur dan Parasit 3 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Mengenal Penyebab Hingga Cara Mengatasi Diare pada Anak

Infeksi bisa memengaruhi pencernaan anak sehingga terjadi diare. Apakah ini normal atau bisa berbahaya? Simak penjelasan diare pada anak di artikel ni!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Gangguan Pencernaan pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 31 Desember 2020 . Waktu baca 11 menit

Ambeien (Wasir)

Ambeien (wasir) adalah membengkaknya pembuluh vena di anus yang menyebabkan rasa tidak nyaman dan BAB berdarah. Bagaimana mengobati ambeien?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Pencernaan, Ambeien 30 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit

Salmonellosis

Salmonellosis adalah penyakit akibat infeksi bakteri Salmonella yang menyerang usus. Bagaimana mengatasi penyakit ini? Simak selengkapnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Pencernaan, Gangguan Pencernaan Lainnya 22 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pertolongan pertama keracunan makanan

Pertolongan Pertama untuk Mengatasi Keracunan Makanan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
penyakit pada sistem pencernaan

11 Penyakit yang Paling Sering Terjadi pada Sistem Pencernaan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
keracunan makanan

Keracunan Makanan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
Infeksi Bakteri E Coli

Infeksi Bakteri E. coli

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit