5 Langkah Cerdas Memberi Pengertian Pada Anak Soal Kematian Orang Terkasih

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 16 April 2018 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Kematian adalah hal sulit untuk dibicarakan. Apalagi ketika harus menjelaskannya pada anak-anak sewaktu ada orang terdekatnya yang meninggal dunia. Walaupun demikian, cepat atau lambat Anda tetap harus memberikan pengertian soal konsep kematian pada anak. Kematian bisa terjadi kapan saja pada orang-orang di sekitarnya, sehingga Anda tidak akan mungkin terus-terusan menghindar ketika anak bertanya “Om X pergi ke mana, sih, Bu?” atau “Ibu perginya lama, yah? Kapan pulangnya?” Lantas, bagaimana caranya menjelaskan kematian pada anak?

Bagaimana cara menjelaskan kematian pada anak?

Tanpa Anda sadari, anak mungkin sudah sedikit memiliki gambaran tentang kematian. Misalnya dari buku dongeng yang ia baca atau kematian binatang yang dilihatnya — entah di TV atau di sekitarnya. Namun, tentu ini tidaklah cukup. Anda perlu menjelaskan kematian kepada anak dengan lebih matang agar ia bisa mempersiapkan diri dan berduka dengan baik, ketika suatu saat nanti kematian datang menghampiri orang terkasihnya.

1. Jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami

Banyak yang menjelaskan kematian pada anak hanya sesederhana seperti, “Tante X lagi tidur” atau “Kakek sedang pergi lama.”

Sekilas, cara ini dirasa tepat. Namun, ini bisa menimbulkan kesalahpahaman karena cara berpikir anak sangatlah sederhana. Anak-anak tahu bahwa orang yang sedang pergi atau tidur akan bisa kembali. Itu sebabnya mereka akan terus bertanya sampai rasa penasaran dan keingintahuan mereka terjawab — “Memang pergi ke mana? Sampai kapan? Kok aku nggak diajak pergi? Kok tidurnya lama banget, sih?” dan seterusnya.

Padahal, kematian adalah suatu kejadian permanen. Tidak dapat dibatalkan atau diperbaiki. Lambat laun, cara penyampaian yang seperti ini akan memupuk rasa penolakan dalam diri anak seiring ia bertambah besar. Ia tidak akan percaya bahwa orang terkasihnya benar-benar sudah tiada, dan pada akhirnya ini bisa memicu depresi.

Untuk itu, jelaskanlah konsep kematian dengan pilihan kata yang akrab, mudah dimengerti, dan singkat. Misalnya berikan pengertian bahwa kematian membuat tubuh seseorang tidak dapat berfungsi lagi, tidak dapat bergerak lagi, tidak bernapas, tidak bisa berbicara atau makan.

2. Jangan hindari pertanyaan

Sangat normal bila anak terus bertanya mengenai kematian, bahkan mengulang pertanyaan yang sama. Sebab anak memerlukan waktu untuk memahami semua itu dan juga keadaan di sekitarnya. Jawablah dengan tenang dan tetap tunjukkan senyum Anda. Dalam kesempatan ini Anda bisa menjelaskan sekaligus membantu anak dalam menghadapi rasa kehilangan orang yang dicintainya.

Selain menjelaskan apa itu kematian, Anda juga menjelaskan apa penyebabnya. Misalnya, kakek meninggal karena kondisinya sudah sangat tua atau karena suatu penyakit. Beri tahukan bahwa tidak semua penyakit dapat menyebabkan kematian, hanya penyakit parah yang sudah tidak bisa diobati. Penyakit seperti batuk atau pilek yang sering dialami olehnya tidak akan menyebabkan kematian karena bisa diobati dan sehat kembali.

3. Pahami respons anak

Kematian bisa menyebabkan trauma pada anak. Maka, berilah waktu pada anak untuk berduka dengan caranya sendiri. Setiap anak menunjukkan respons yang berbeda ketika Anda menjelaskan apa itu kematian. Ada yang menunjukkan perasaan sedih, diam, atau normal seperti biasanya. Bila anak Anda menangis, cobalah menenangkannya.

Jangan biarkan ia sendiri tenggelam dalam kesedihannya. Anda bisa mengatakan hal-hal yang membuat dirinya tenang. Katakan padanya sedih dan berduka adalah suatu yang normal. Berilah dia pelukan dan hapus air matanya. Pilih waktu lain untuk melanjutkan penjelasan ketika emosi anak sudah membaik dan mereka sendiri yang memulai pertanyaan.

Namun, tetap beri pengawasan dan perhatikan apa pun yang dilakukan anak. Setelah mulai membaik, Anda bisa mengalihkan anak pada sesuatu yang disukainya. Jadi, anak tidak terus berlarut-larut dalam kesedihan.

4. Kembali ke aktivitas normal

Berduka adalah cara terbaik untuk menyembuhkan rasa kehilangan. Bukan anak saja, Anda juga bisa menunjukkan kesedihan Anda. Jangan sampai Anda tidak memikirkan kesehatan diri sendiri karena fokus pada anak. Hanya saja, jangan mengekspresikan kesedihan Anda secara berlebihan sehingga membuat anak jadi merasa tak nyaman berada di sekitar Anda. Ingat bahwa dirinya juga sama-sama kehilangan orang terkasihnya.

Jangan biarkan kesedihan membuat anak dan Anda melupakan waktu makan, istirahat, dan kegiatan lain yang biasanya dilakukan. Mencoba kembali beraktivitas seperti biasanya bisa membuat perasaan Anda menjadi lebih baik dan tidak akan terus terpuruk dalam kesedihan.

5. Hubungi dokter

Bila anak mengalami kesulitan untuk menerima kematian orang terdekatnya, seperti sampai mengganggu tidur dan aktivitas lainnya, sebaiknya segera konsultasikan kepada dokter. Begitu pula dengan Anda, jangan biarkan hal ini terus terjadi dan bisa memengaruhi kesehatan fisik dan mental Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penjelasan Lengkap Imunisasi, Mulai dari Pengertian, Manfaat, Sampai Jenisnya

Imunisasi penting untuk mencegah si kecil terkena penyakit berbahaya di kemudian hari. Untuk lebih jelasnya, berikut semua hal yang perlu diketahui.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 2 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Orangtua Perlu Waspada, Ini 5 Kenakalan Remaja yang Kerap Dilakukan

Masa remaja adalah masa ketika anak sedang ingin coba-coba. Di masa ini pula anak bisa terjerumus dalam kenakalan remaja. Apa saja jenisnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Kesehatan Mental Remaja, Parenting 1 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

Tanda yang Muncul Jika Anak Anda Jadi Korban Bullying

Bullying bisa terjadi pada siapa saja termasuk anak Anda. Kenali tanda saat anak menjadi korban bullying dalam ulasan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Kesehatan Mental Remaja, Parenting 1 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

Penyebab Gangguan Makan pada Remaja dan Cara Mengatasinya

Takut gemuk dan anggapan body goals adalah yang tinggi, kurus, dan langsing kerap jadi penyebab gangguan atau penyimpangan makan pada remaja.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Remaja, Kesehatan Mental Remaja, Parenting 19 September 2020 . Waktu baca 10 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Kulit bayi Sensitif

Ketahui 4 Tips Merawat Kulit Bayi Sensitif

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
menghadapi anak masturbasi

Yang Perlu Ortu Lakukan Saat Memergoki Anak Masturbasi

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
cara membersihkan badan bayi

Cara Membersihkan Badan Bayi dari Kepala, Tali Pusat, Sampai Organ Intim

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 5 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
cara bedong bayi

Bedong Bayi: Ketahui Manfaat dan Cara Memakaikan yang Tepat

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 3 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit