Menghukum Anak Karena Berbohong Justru Akan Membuatnya Berbohong Lagi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 29/04/2020 . 5 menit baca
Bagikan sekarang

Banyak orangtua menghukum anak ketika mereka berbohong. Baik itu hukuman dalam bentuk membentak, menceramahi panjang lebar, menyita mainan, bahkan sampai memukul dan mempermalukan mereka di depan temannya. Namun, menghukum anak yang berbohong cenderung mendorong mereka untuk membuat kebohongan berikutnya.

Berbohong termasuk perbuatan tercela. Dengan fakta baru ini, orangtua harus lebih jeli dalam menghukum anak dan mencari cara lain untuk memberi pengertian pada anak.

Anak akan berbohong lagi jika dihukum karena berbohong

menghukum anak berbohong

Seorang anak cenderung berbohong karena dua alasan utama, yakni karena tidak mau mengecewakan orangtua dan karena menghindari hukuman. Terutama jika si anak takut pada hukuman.

Psikolog Bonnie Compton dalam bukunya Mothering with Courage mengatakan menghukum anak yang berbohong hanya akan membuat anak melakukan kebohongan selanjutnya.

Karena di mata si anak, kebohongan yang ia buat berfungsi untuk menghindari hukuman dari orangtua atas kesalahannya. Sehingga saat anak dihukum maka ia juga akan semakin takut untuk jujur saat melakukan kesalahan. 

Kebohongan yang anak bangun dalam sebuah cerita bisa terus berkembang. Semakin detail ceritanya, semakin orangtua mulai percaya. Keberhasilan mereka menyakinkan orangtua ini bisa menjadi pemicu kebohongan selanjutnya, menjadi sebuah kebohongan yang berlanjut.

Menghukum anak karena berbohong hanya akan memperpanjang siklus kebohongan. Psikolog anak Victoria Talwar dalam studinya berjudul Punishing kids for lying just doesn’t work menemukan beberapa fakta tentang menghukum anak yang berbohong. 

Penelitian Talwar menunjukkan bahwa anak yang dihukum karena berbohong cenderung membelokkan kebenaran, sedangkan anak-anak yang diberi pengertian moral cenderung yakin bicara jujur adalah pilihan terbaik. 

anak mengintip

Penelitian tersebut dilakukan pada 372 anak berusia 4-8 tahun. Peneliti menempatkan setiap anak sendirian di sebuah ruangan berisi mainan selama satu menit dan si anak diminta untuk tidak mengintip mainan tersebut.

Hasilnya, 67,5 persen mengintip dan 66,5 persen dari yang mengintip mengatakan kebohongan saat ditanya apakah mereka mengintip mainan tersebut atau tidak. 

Victoria mengatakan anak-anak yang berbohong melakukan kebohongan untuk menyembunyikan pelanggaran atau kesalahan yang mereka perbuat. Mereka tahu bahwa itu salah dan akan membuatnya dimarahi.

“Setelah melakukan sesuatu yang salah atau melanggar suatu peraturan, mereka dapat memilih untuk berbohong atau menyembunyikannya. Karena mereka tahu mereka mungkin akan mendapat masalah karena pelanggaran tersebut,” simpul Victoria dalam studinya tersebut. 

Ia mengatakan menghukum anak setelah mereka berbohong tidak membuat mereka takut untuk mengulang kebohongan, tapi justru membuat mereka takut untuk berkata jujur.  

Cara lain mengajarkan anak agar tidak berbohong

menghukum anak berbohong

Lantas, bagaimana seharusnya orangtua menolong anak mereka yang ketahuan berbohong?

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak merespons dengan baik penjelasan moral yang kuat. Anak diberi penjelasan menarik bahwa kejujuran adalah pilihan tepat dan orangtua akan bahagia jika anaknya berkata jujur. 

“Ancaman tentang hukuman bukanlah penghalang untuk berbohong, dan anak terus berbohong karena mereka (orangtua) tidak mengomunikasikan mengapa anak-anak harus jujur,” kata Victoria. 

Victoria memberikan contoh, misalnya anak bermain bola di rumah dan memecahkan vas bunga. Saat anak mengatakan yang sebenarnya dan mengakui kesalahannya, orangtua harus menghargai kejujurannya. Anak memang harus mengetahui kesalahannya tapi dia juga harus tahu bahwa kejujuran bernilai tinggi. 

Penjelasan Victoria ini menunjukkan bahwa lebih baik untuk menjelaskan kebenaran kepada anak-anak menggunakan cara positif daripada ancaman menghukum dan memarahi ketika mereka berbohong.

“Secara global, kita umumnya menganggap berbohong sebagai perilaku negatif,” kata Victoria. “Tapi seringkali luput mengenali perilaku positif yakni kejujuran. Jika seorang anak mengakui pelanggarannya, kita perlu menyadari bahwa dia jujur.”

Beberapa langkah membantu anak untuk menghindari berbohong

anak sikat gigi

Bonnie Compton dalam bukunya memberikan beberapa langkah membantu anak untuk menghindari berbohong dan berani untuk jujur. 

  1. Perhatikan bagaimana Anda bereaksi terhadap perilaku anak ketika anak salah atau berbohongapakah cepat bereaksi dengan menghukum dan marah? Jika iya, reaksi Anda tersebut meningkatkan kecenderungan anak akan berbohong lagi. Sebagai gantinya, tenangkan diri Anda terlebih dahulu sebelum menanggapi perilaku anak.
  2. Jangan paksa anak untuk berbohong dengan terus menanyakan hal yang Anda sudah ketahui jawabannya. Misalnya: Saat anak menjawab sudah menggosok gigi padahal saat Anda mengecek sikat giginya masih kering. Jika Anda terus bertanya, kemungkinan anak akan mencoba sekuat tenaga untuk meyakinkan bahwa dia telah menggosok gigi. Sebaliknya, bilang pada anak kalau Anda mengetahui dia belum menggosok gigi dan sekarang saatnya untuk menggosok gigi.
  3. Berikan kesempatan kedua pada anak untuk melakukan hal dengan benar. Jika tidak bisa memberikan kesempatan kedua saat itu, tanyakan apakah ia bisa melakukannya dengan benar di lain waktu.
  4. Terimalah bahwa anak Anda akan melakukan kesalahan dan mungkin berbohong agar Anda tidak menghukum. Cinta dan penerimaan Anda pada anak membuat mereka mulai menerima tanggung jawab atas kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut. Lebih kecil kemungkinan anak berbohong jika mengetahui mereka tidak akan dihakimi atas kesalahannya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Langkah Orangtua Memberi Hukuman Mengurung Anak?

Saat anak berbuat kesalahan, orangtua terkadang memberi hukuman dengan mengurung anak di kamar untuk merenungi kesalahannya. Apakah hal ini baik dilakukan?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Parenting, Tips Parenting 03/04/2020 . 3 menit baca

Tips Mengajarkan Anak Agar Mau Minta Maaf Saat Melakukan Kesalahan

Orang tua perlu mengajarkan anak untuk terbiasa minta maaf sejak dini agar kelak memiliki sifat yang lebih bertanggung jawab akan masalah yang ia lakukan.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Parenting, Tips Parenting 30/03/2020 . 4 menit baca

Apakah Perlu Memberikan HP untuk Anak? Sebaiknya Usia Berapa?

Masalah dalam membesarkan anak selalu ada. Salah satunya adalah dalam mempertimbangkan kapan dan apakah penting memberikan hp untuk anak.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Parenting, Tips Parenting 26/03/2020 . 4 menit baca

Tips Mendidik Anak Tunggal agar Tidak Menjadi Egois dan Manja

Stereotip dari anak tunggal adalah egois dan sombong, padahal karakter anak ditentukan oleh cara mendidik anak yang dilakukan orang tua sejak dini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Parenting, Tips Parenting 26/03/2020 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

menjelaskan rasisme kepada anak

Tips Menjelaskan Rasisme kepada Anak Sejak Dini

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 12/06/2020 . 5 menit baca
agar anak mau mendengarkan orang tua

Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020 . 4 menit baca
cara mengatasi anak malas belajar

5 Cara Efektif Mengatasi Anak Malas Belajar

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 13/04/2020 . 6 menit baca
anak menjaga kebersihan lingkungan

4 Cara Mengajarkan Anak Menjaga Kebersihan Lingkungan

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 11/04/2020 . 4 menit baca