6 Kunci Menghadapi Si Kecil yang Manja dan Banyak Maunya

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Apakah salah satu anak Anda memiliki sifat manja? Sifat manja yang berlebihan memang dapat menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan si anak kelak. Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Cara mengatasi anak manja

Semua orangtua pasti sayang dengan anaknya, oleh karena itu mereka memberikan apa saja yang diminta oleh anak, membiarkan anak jika melakukan kesalahan, dan tidak tega untuk memarahi mereka.

Hal tersebut tidak salah, tapi jika rasa sayang yang disalurkan dengan cara didik yang tidak tepat, maka akan mempengaruhi perkembangan anak Anda. Salah satunya menyebabkan anak memiliki sifat manja yang berlebihan.

Penelitian yang diadakan di Harvard School of Public Health, yang melibatkan orangtua dalam penelitiannya, menunjukkan bahwa sebanyak 88% orangtua mengaku memiliki anak yang manja.

Tentu saja, hampir semua anak mungkin pernah merengek, menangis, membuat ulah, dan hal tersebut wajar dimiliki anak-anak. Namun yang membuat hal tersebut menjadi masalah adalah sikap orangtua dalam menghadapi anak-anaknya. Tidak jarang orangtua tidak disiplin, tidak konsisten, serta terlalu ‘lembek’ menghadapi anak.

Anak dengan sifat manja biasanya akan melakukan segala cara untuk mendapatkan yang ia inginkan, dan ketika ia mendengar kata tidak maka ia akan mengamuk, marah, merengek, menendang, dan sebagainya. Lalu bagaimana jika anak Anda sudah memiliki sifat manja?

1. Konsisten

Salah satu hal yang sering menyebabkan sifat manja muncul adalah Anda tidak konsisten dengan apa yang telah Anda katakan pada si anak. Ketika anak meminta sesuatu yang mereka inginkan dan Anda mengatakan tidak bisa memenuhinya, maka anak akan merengek atau menangis.

Anda yang melihat dan mendengar anak menangis, menjadi tidak tega, kemudian segera memberikan apa yang mereka mau. Dari hal tersebut, anak mempelajari bahwa akan mendapatkan apa yang dia inginkan jika merengek atau menangis. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin anak Anda akan merengek lebih kencang jika permintaan-permintaan dia selanjutnya tidak dituruti.

Jika Anda memang mengatakan “tidak” di awal, maka pertahankan kata tidak tersebut hingga akhir. Walaupun harus melihat anak Anda merengek dan menangis. Hal tersebut adalah salah satu ujian untuk Anda apakah dapat konsisten terhadap apa yang telah dikatakan. Bila anak menangis, maka biarkan saja atau bicara baik-baik kepada si anak alasan mengapa Anda tidak bisa memenuhi permintaannya.

2. Memberikan penjelasan sederhana

Ketika anak meminta sesuatu dan Anda tidak dapat atau tidak ingin memenuhinya, maka berikan penjelasan mengapa mereka tidak bisa mendapatkannya.

Anak-anak berhak marah, sedih, dan kecewa jika keinginannya tidak dapat dipenuhi. Namun

dengan memberikan penjelasan secara gamblang kepada anak, akan membantu anak mengerti tentang keadaan yang terjadi. Maka setelah itu, ia akan lebih mudah untuk mengatasi rasa sedihnya dan dapat mengerti kapan ia harus meminta hal tersebut kembali.

3. Memberikan pujian

Ketika anak melakukan kebaikan, tidak ada salahnya untuk memujinya, walaupun hal yang dia lakukan merupakan hal yang kecil. Dengan terus memujinya, Anak akan termotivasi untuk melakukan kebaikan lainnya.

Atau Anda juga dapat memberikan ciuman dan pelukan ketika mereka berbuat baik. Mereka tidak hanya termotivasi untuk melakukan perbuatan baik lainnya, namun juga merasakan kasih sayang Anda pada mereka.

4. Libatkan anak dalam berbagai kegiatan sosial

Dengan melibatkan anak dalam kegiatan sosial, anak akan belajar untuk berbagi, berkomunikasi, serta mengontrol egonya. Selain itu, Anda dapat memberi tahu dan menjelaskan berbagai pelajaran hidup dan nilai moral yang ada di dalam kelompok sosial tersebut. Tentunya dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Contohnya, Anda dapat menjelaskan tentang arti bersyukur, dan sebagainya.

5. Memberikan hukuman

Memberikan hukuman tidak selalu buruk bagi anak. Pemberian hukuman yang tepat pada anak akan membuat anak belajar untuk tidak mengulangi hal yang buruk kembali. Contohnya, Anda dapat menyita barang atau mainan kesukaannya ketika Anak tersebut tidak merapikan kamar atau tempat tidurnya.

6. Menunjukkan perilaku baik dan buruk

Memberi tahu perilaku baik yang harus dilakukan anak mungkin sudah biasa Anda lakukan. Namun Anda juga harus menjelaskan setiap melihat kebiasaan buruk atau perilaku buruk yang terjadi di sekitar anak Anda.

Misalnya, ketika Anda pergi ke suatu tempat dan melihat ada anak lain yang merengek atau mengamuk karena sesuatu hal, katakan pada anak Anda bahwa hal tersebut merupakan hal buruk dan jelaskan akibat yang akan terjadi jika melakukannya.

BACA JUGA

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    4 Cara Menghilangkan Dahak pada Anak Secara Alami

    Dahak yang menumpuk di tenggorokan bisa membuat anak Anda tidak nyaman. Berikut cara alami yang dapat membantu menghilangkan dahak pada anak.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Parenting, Tips Parenting 9 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    11 Gejala Pneumonia Pada Anak yang Perlu Diwaspadai

    Pneumonia pada anak diklaim sebagai penyebab kematian anak tiap 20 detik. Berikut beberapa gejala pneumonia pada anak yang sebaiknya Anda ketahui.

    Ditulis oleh: Theresia Evelyn
    Parenting, Tips Parenting 3 September 2020 . Waktu baca 3 menit

    Bayi Menangis Terus? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

    Karena belum bisa berbicara, menangis adalah satu-satunya cara bayi berkomunikasi. Apa saja penyebab bayi menangis dan bagaimana mengatasinya?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: dr. Yurika Elizabeth Susanti
    Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 3 September 2020 . Waktu baca 10 menit

    Mengulik Tahapan Perkembangan Emosi Anak Usia 6-9 Tahun

    Kemampuan dalam mengelola emosi perlu ditumbuhkan dalam diri anak sejak kecil. Sudah tahukah Anda tahapan perkembangan emosi anak usia 6-9 tahun?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 3 September 2020 . Waktu baca 9 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    gangguan atau penyimpangan makan pada remaja

    Penyebab Gangguan Makan pada Remaja dan Cara Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 19 September 2020 . Waktu baca 10 menit
    pendidikan montessori

    Mengenal Metode Pendidikan Montessori: Membebaskan Anak untuk Bereksplorasi

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 17 September 2020 . Waktu baca 4 menit
    mengajari anak gosok gigi

    6 Cara Efektif Mengajarkan Anak Gosok Gigi

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 5 menit
    bakat anak

    Tips Mencari Tahu dan Mengembangkan Bakat Anak

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 10 September 2020 . Waktu baca 4 menit