Anak Gemuk? Mungkin Karena Terlalu Lama Menonton TV

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31/03/2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Obesitas tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi sudah bisa dialami bahkan sejak anak masih sangat kecil. Berdasarkan data WHO, diketahui bahwa terdapat sekitar 42 juta anak yang berusia di bawah 5 tahun mengalami obesitas pada tahun 2015 dan hampir setengahnya ada di daerah Asia dan Afrika. Sedangkan di Indonesia sendiri, anak usia 5 hingga 12 tahun yang mengalami kegemukan sebanyak 19,6%.

Dampak kegemukan pada anak akan muncul di kemudian hari dan menyebabkan pertumbuhan serta perkembangannya terganggu. Berbagai penyakit degeneratif dapat dialami oleh anak yang gemuk ketika ia berusia dewasa, yaitu seperti penyakit jantung, diabetes mellitus tipe 2, osteoartritis, dan beberapa jenis kanker. Tidak hanya itu, anak yang obesitas diperkirakan juga akan mengalami obesitas ketika ia memasuki usia dewasa. Sebuah penelitian menemukan bahwa anak gemuk memiliki risiko 70% mengalami salah satu penyakit jantung saat ia dewasa.

Sedangkan dampak yang akan terjadi dalam jangka pendek yaitu anak rentan mengalami kondisi pradiabetes, muncul masalah dan gangguan pada sendi dan ototnya, susah tidur, timbul masalah pada pergaulan serta kehidupan sosialnya dan menjadi tidak percaya diri. Salah satu penyebab dari obesitas dan kegemukan pada anak adalah pola asuh, pemilihan makanan, serta gaya hidup dari anak. Karena masih anak-anak, sebagian besar dari mereka mungkin hanya sekadar mengikuti kebiasaan ibu atau ayahnya yang terlihat. Oleh karena itu gaya hidup orangtua sangat berpengaruh pada anak.

Anak yang senang menonton TV lebih mungkin memiliki tubuh yang gemuk

Apakah Anda sering membiarkan anak menonton televisi dalam waktu yang cukup lama? Seberapa banyak waktu yang Anda berikan untuk mereka ketika mereka sedang menonton televisi? Ternyata membiarkan anak menonton televisi terlalu lama mengakibatkan gangguan pada kesehatannya dan meningkatkan risiko anak mengalami obesitas. Beberapa penelitian telah menyatakan memang terdapat hubungan yang menunjukkan hubungan sebab akibat antara menonton TV yang terlalu lama dengan kejadian obesitas pada anak.

Sebuah penelitian yang dilakukan selama 30 tahun di United Kingdom, menunjukkan bahwa anak yang menonton televisi setiap hari bisa membuat indeks massa tubuh naik hingga mencapai batas obesitas pada usia 30 tahun.  Penelitian lain dilakukan di New Zealand dengan melibatkan sebanyak 1000 anak, yang diteliti dari mereka lahir hingga berusia 26 tahun. Penelitian ini menemukan bahwa kebiasaan menonton TV yang terlalu sering pada usia 5 hingga 15 tahun menyebabkan mereka menjadi lebih gemuk dibandingkan dengan anak-anak seusianya yang tidak menonton TV selama itu. Dan status gizi pada saat itu merupakan prediksi yang kuat untuk mengetahui status gizi saat dewasa.

Bahkan kebiasaan menonton terlalu sering sejak usia balita juga bisa menyebabkan anak mengalami kegemukan, hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan di Jepang yang meneliti 8000 anak sekaligus. Hasil penelitian tersebut adalah anak-anak yang sudah terbiasa menonton TV sejak umur 3 tahun cenderung mengalami overweight dan obesitas pada usia 6 tahun.

Bagaimana menonton TV bisa membuat anak gemuk?

Menurut survei yang dilakukan, anak-anak bisa menghabiskan 7 jam lebih untuk menonton TV atau untuk bermain dengan gadget yang dimilikinya. Waktu yang cukup lama, bukan? Tanpa Anda sadari, Anda membiarkan anak Anda untuk berlama-lama menonton TV dan membentuk kebiasaan sedentari pada mereka. Kebiasaan hidup sedentari adalah pola hidup yang kurang melakukan aktivitas dan sangat rentan terkena berbagai penyakit.

Tidak hanya itu, iklan yang sering kali ditayangkan di TV lebih sering menayangkan iklan makanan yang tidak sehat. Hal ini akan membentuk pemikiran yang kurang baik tentang makanan yang harus dimakan oleh anak. Anak juga sering kali menonton TV atau menggunakan komputer sambil makan snack-snack yang tidak sehat. Makan sambil menonton TV tidak baik karena, porsi yang dimakan cenderung akan lebih banyak dari porsi yang biasa dimakan.

Tidak adanya pengontrolan atau pengaturan pola makan, membuat anak sangat rentan mengalami kegemukan. Apalagi tidak ada aktivitas fisik yang dilakukan karena waktu anak dihabiskan dengan menonton TV, duduk, atau tidur.

Lalu apakah saya tidak boleh lagi mengizinkan anak menonton TV?

Terkadang memang tontonan TV yang bagus bisa menjadi sarana belajar anak. Namun disarankan untuk membatasi waktu menonton TV anak hanya sebanyak 1 hingga 2 jam dalam satu hari. Bahkan untuk anak yang masih di bawah 2 tahun tidak dianjurkan untuk menonton TV sama sekali.

Bagaimana membatasi waktu menonton anak?

Membatasi waktu menonton TV hanya 2 jam dalam sehari mungkin agak sulit untuk diterapkan, karena anak-anak sudah menjadikan kegiatan menonton TV sebuah kebiasaan rutin mereka. Oleh karena itu, berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membatasi waktu menonton TV pada anak:

  • Jangan memasang TV dan komputer di dalam kamar anak.
  • Jangan biarkan anak untuk menonton TV atau menggunakan komputer ketika anak sedang makan atau mengerjakan PR.
  • Tentukan program TV apa yang boleh ditonton oleh anak. Jika program TV tersebut berakhir, segera matikan TV tersebut.
  • Lebih sering menghabiskan waktu bersama anak dengan melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan seperti bermain puzzles, melakukan olahraga bersama, atau memecahkan teka-teki bersama.
  • Tidak hanya anak saja yang hanya boleh menonton TV selama 2 jam dalam sehari, Anda juga harus melakukannya dan menjadi panutan bagi anak.

BACA JUGA

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Kebutuhan Asupan Nutrisi yang Perlu Dipenuhi Anak Aktif dan Suka Olahraga

    Ketika anak suka olahraga atau termasuk aktif beraktivitas, penting untuk menyesuaikan asupan nutrisi agar tumbuh kembangnya tetap optimal.

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki
    Konten Bersponsor
    nutrisi untuk anak aktif
    Parenting, Nutrisi Anak 30/06/2020 . Waktu baca 6 menit

    Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

    Munculnya kista saat hamil adalah hal yang umum terjadi. Walau biasanya tidak berbahaya, ibu hamil perlu memahami apa saja pengaruhnya terhadap kandungan.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

    Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Hai Para Suami, Ini 15 Tanda Istri Anda Sedang Hamil

    Tak hanya wanita yang harus memerhatikan perubahan pada dirinya. Sebagai suami Anda juga harus peka melihat tanda istri hamil dan segera mempersiapkan diri.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesuburan, Kehamilan, Hidup Sehat 13/06/2020 . Waktu baca 6 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    cek kehamilan dengan test pack

    Kapan Saya Bisa Mulai Cek Kehamilan dengan Test Pack?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 11/08/2020 . Waktu baca 6 menit
    Konten Bersponsor

    Peran Penting Nutrisi untuk Kurangi Dampak Stunting pada Anak

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki
    Dipublikasikan tanggal: 27/07/2020 . Waktu baca 6 menit
    Konten Bersponsor
    protein susu soya

    Ibu Harus Tahu, Ini Beda Kandungan Protein dalam Susu Kedelai dan Susu Sapi

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . Waktu baca 6 menit
    menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan

    Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . Waktu baca 10 menit