Bayi Terlalu Higienis, Benarkah Membuat Kulitnya Jadi Sensitif?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Banyak orangtua mati-matian menjaga kebersihan bayi mereka dengan tujuan menghindari kuman dan penyakit. Bahkan, beberapa di antaranya melarang orang-orang mencium atau menyentuh buah hatinya. Padahal, terdapat sebuah teori bahwa terlalu menjaga kebersihan bayi bisa menyebabkan masalah lain, seperti kulit sensitif.

Lantas, bagaimana kebenaran teori ini? Apakah terlalu higienis justru membuat kulit bayi jadi sensitif dan lebih rentan dengan penyakit? Simak ulasan wawancara dengan dr. Srie Prihianti, Sp.KK berikut ini.

Terlalu higienis bikin kulit bayi sensitif, benarkah?

kulit sensitif pada bayi

Ketika ditemui tim Hello Sehat di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, pada Kamis (1/8), dr. Srie Prihianti, Sp.KK menjelaskan mengenai hal ini.

“Hal ini sebenarnya sudah menjadi diskusi para ahli sejak dahulu. Kita mengenalnya dengan istilah hygiene hypothesis, yaitu teori yang menyatakan bahwa sistem kekebalan tubuh bayi tidak dapat berkembang secara maksimal jika lingkungannya terlalu bersih,” jawabnya.

Menurut dr. Srie, begitu bayi dilahirkan, sistem imun yang ada di kulit harus belajar membentuk antibodi dengan cara menyesuaikan diri di lingkungan sekitar.

Ini artinya, sistem imun harus memiliki kemampuan membedakan mana bakteri yang jahat dan baik untuk tubuh.

Apabila kebersihan bayi terlalu dijaga secara berlebihan, sistem imun tubuhnya tidak dapat mengenali bakteri atau kuman yang jahat.

Akibatnya, antibodi di dalam tubuh bayi tidak dapat bekerja secara maksimal untuk membunuh bakteri jahat.

“Lingkungan yang terlalu steril dapat memperparah kulit sensitif pada bayi karena sistem imun tubuhnya tidak terbiasa mengenali kuman dan bakteri yang jahat. Masalah-masalah kulit akibat paparan kuman dan bakteri akan lebih mudah muncul, seperti ruam dan eksim,” lanjut dr. Srie.

Dokter yang juga mengetuai Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI) ini menambahkan, kasus eksim sangat jarang ditemukan pada bayi-bayi yang tinggal di lingkungan pedesaan dibanding dengan di kota.

“Paparan terhadap lingkungan, baik yang bersih maupun kotor, sebetulnya penting untuk mengembangkan sistem imunitas. Namun, bukan berarti saya menyarankan orangtua untuk membiarkan anaknya terpapar lingkungan yang kotor, ya. Yang terpenting adalah bersih secukupnya, tidak perlu terlalu steril,” tutur dr. Srie.

Bagaimana cara mencegah kulit sensitif pada bayi?

kulit bayi terlalu higienis

Dokter Srie menjelaskan bahwa kondisi kulit sensitif pada bayi sebenarnya sangat wajar. Ketika bayi lahir, kulitnya memang 30% jauh lebih sensitif dibanding kulit orang dewasa.

Hal ini disebabkan oleh fungsi proteksi dan keseimbangan mikroorganisme pada kulit masih jauh dari sempurna. Yang membedakan hanyalah beberapa kulit bayi memang jauh lebih sensitif dibanding bayi-bayi lainnya.

“Sensitivitas kulit bayi juga dipengaruhi oleh faktor keturunan, misalnya memiliki keluarga dengan riwayat alergi terhadap makanan tertentu,” jelasnya.

Agar kulit bayi tidak terlalu sensitif, hal terpenting yang harus diperhatikan para orangtua adalah perawatan dasar kulitnya dengan memilih produk yang tepat.

Produk perawatan kulit bayi yang dipilih harus memenuhi dua syarat mendasar, yaitu cleansing (membersihkan) dan moisturizing (melembapkan).

Hindari pula menggunakan produk yang terlalu keras dan dapat memicu alergi atau iritasi pada kulit bayi.

“Tidak perlu pula memilih produk yang mengandung bahan antiseptik. Hal tersebut justru dapat berpotensi mengganggu keseimbangan bakteri baik di permukaan kulit bayi. Kalau memilih tisu basah untuk bayi, carilah yang tidak mengandung alkohol,” tutup dr. Srie.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca