Mata ikan bisa dialami oleh orang dewasa sampai anak-anak. Namun, biasanya anak-anak lebih rentan terkena masalah kulit ini. Ketahui apa saja gejala, penyebab, dan cara mengatasi mata ikan pada anak dalam pembahasan berikut ini.
Mata ikan bisa dialami oleh orang dewasa sampai anak-anak. Namun, biasanya anak-anak lebih rentan terkena masalah kulit ini. Ketahui apa saja gejala, penyebab, dan cara mengatasi mata ikan pada anak dalam pembahasan berikut ini.

Mata ikan atau clavus merupakan benjolan keras dan kasar di kulit yang biasanya menimbulkan rasa sakit.
Kondisi ini sering dialami oleh anak usia sekolah, tetapi tidak menutup kemungkinan juga dialami oleh bayi dan balita.
Mata ikan mungkin sekilas terlihat seperti kapalan dan kutil. Namun, Anda dapat memperhatikan gejala mata ikan pada anak seperti berikut ini.
Penyakit kulit pada anak ini dapat muncul di area mana saja yang mengalami gesekan atau tekanan.
Meski mata ikan pada anak tidak menular, si kecil mungkin merasa tak nyaman hingga mengganggu aktivitasnya.

Mata ikan pada anak merupakan bentuk reaksi kulit untuk melindungi lapisan bawah kulit yang sering menerima gesekan.
Menurut buku Clavus (2022), mata ikan sendiri terjadi akibat adanya gesekan berulang, tekanan, atau trauma pada area tubuh tertentu, terutama di kaki.
Berikut ini beberapa penyebab munculnya mata ikan pada buah hati Anda.
Anak-anak yang menggunakan alas kaki yang ketat dapat mengalami mata ikan, seperti sepatu dan kaus kaki.
Pada bayi, penggunaan kaus kaki yang sudah kekecilan dalam waktu terlalu lama juga dapat memicu kondisi ini.
Sekilas si kecil mungkin terlihat lucu menggunakan alas kaki ketat, tetapi ternyata dapat membuat kaki bergesekan dengan jahitan sepatu atau kaus kaki tersebut.
Tak hanya itu, anak-anak mungkin ingin menggunakan sepatu berhak tinggi, tetapi justru jadi sering tergelincir dan menimbulkan mata ikan saat sering bergesekan.
Selain karena memakai alas kaki ketat, tidak pakai kaus kaki ternyata bisa menimbulkan mata ikan pada si kecil.
Pasalnya, kaki si kecil bisa bergesekan dengan bagian dalam sandal dan sepatu.
Awalnya mungkin hanya terlihat merah dan tak nyaman. Namun, mata ikan dapat berkembang jika kaki anak terus-menerus bergesekan dan tertekan.
Alas kaki yang terbuat dari karet atau bahan lain yang tidak nyaman di kulit juga bisa memicu penebalan kulit.
Mata ikan pada anak juga bisa timbul akibat penggunaan alat tertentu secara berkelanjutan, misalnya saat belajar bermain alat musik atau bahkan saat menggunakan alat tulis.
Biasanya, mata ikan muncul di sela-sela jari tangan yang sering digunakan.
Meskipun biasanya bersifat sementara, kondisi ini seringkali dikeluhkan oleh anak karena terasa sakit dan membuat anak sulit melakukan aktivitas seperti biasa.
Selain penyebab di atas, mata ikan pada anak juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini.
Untuk mengetahui penyebab pastinya, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak agar si kecil mendapatkan pemeriksaan dengan lebih detail.

Walaupun tidak menular, mata ikan pada anak perlu ditangani dengan baik untuk mengurangi rasa tak nyaman yang dialami si kecil.
Pengobatan mata ikan umumnya tidak jauh berbeda dengan kutil dan kapalan.
Mengutip situs American Academy of Dermatology Association, berikut ini beberapa upaya mengobati mata ikan yang bisa Anda lakukan.
Ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mencegah mata ikan pada bayi datang kembali.
Sebagaimana pada orang dewasa, mata ikan yang dialami si kecil sebenarnya juga dapat menghilang dengan sendirinya.
Meski begitu, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar hingga masalah kulit tersebut benar-benar sembuh.
Maka dari itu, jangan ragu untuk menanyakan pada dokter spesialis anak terkait pengobatan yang tepat bagi masalah mata ikan pada buah hati Anda.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Pennycook, K., & McCready, T. (2022). Clavus. Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK546598/
How to treat corns and calluses. (2022). Retrieved 21 December 2022, from https://www.aad.org/public/everyday-care/injured-skin/burns/treat-corns-calluses
Corns and calluses . (2017). Retrieved 21 December 2022, from https://www.nhs.uk/conditions/corns-and-calluses/
Blisters, Calluses, and Corns. (2022). Retrieved 21 December 2022, from https://www.hopkinsallchildrens.org/Patients-Families/Health-Library/HealthDocNew/Blisters-Calluses-and-Corns
default – Stanford Medicine Children’s Health. (2022). Retrieved 21 December 2022, from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=callusesandcorns-85-P00271
Corns and calluses – Symptoms and causes. (2022). Retrieved 21 December 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/corns-and-calluses/symptoms-causes/syc-20355946
Corns and calluses – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2022). Retrieved 21 December 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/corns-and-calluses/diagnosis-treatment/drc-20355951
Versi Terbaru
16/01/2023
Ditulis oleh Dwi Ratih Ramadhany
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Ilham Fariq Maulana
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)