backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

2

Tanya Dokter
Simpan

Benarkah Menonton TV Terlalu Dekat Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Ditinjau secara medis oleh dr. Aisya Fikritama Aditya, Sp.A · Kesehatan anak · RS UNS Solo


Ditulis oleh Putri Ica Widia Sari · Tanggal diperbarui 19/04/2024

Benarkah Menonton TV Terlalu Dekat Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Semakin canggihnya teknologi dan beragamnya program televisi, anak-anak sering kali terjebak dalam kegiatan menonton TV yang berlebihan. Namun, yang lebih bikin khawatir orangtua adalah kebiasaan menonton TV terlalu dekat yang sering kali dilakukan oleh anak-anak.

Kira-kira amankah menonton TV terlalu dekat? Adakah risiko yang mungkin terjadi? Yuk, simak ulasan berikut ini. 

Berapa jarak menonton TV yang ideal? 

mengurangi waktu anak menonton tv

Sebagai orangtua, Anda mungkin pernah mendengar bahwa menonton TV terlalu dekat dapat merusak mata si Kecil. Sebenarnya berapa sih jarak ideal untuk menonton TV? 

Secara umum, jarak aman untuk menonton televisi, yaitu sekitar 10 kaki atau 3 meter dari layar. Namun, sebenarnya jarak menonton TV yang ideal bergantung pada ukuran layar televisi.

Misalnya, untuk TV 32 inch, jarak pandang yang ideal, yaitu sekitar 4 meter. Adapun semakin besar layar televisi, maka semakin besar pula jarak yang diperlukan.

Meski demikian, sebagian dokter mata berpendapat jarak terbaik untuk menonton televisi adalah jarak yang paling nyaman bagi mata penggunanya. 

Jadi, selama Anda dapat melihat layar dengan jelas tanpa adanya gangguan, kemungkinan jaraknya sudah tepat. 

Pasalnya, jarak ini memungkinkan mata untuk fokus dengan nyaman tanpa memerlukan tekanan yang berlebihan. 

Ketika jaraknya terlalu dekat, maka mata akan berusaha untuk fokus secara berlebihan, yang justru dapat menyebabkan mata menjadi tegang. 

Selain mementingkan jarak yang ideal agar tidak terlalu dekat, penting juga bagi orangtua untuk memperhatikan durasi menonton TV yang dilakukan si Kecil. 

Ini karena menonton yang terlalu lama tetap dapat menyebabkan kelelahan mata dan berbagai masalah kesehatan lainnya, meskipun jaraknya ideal. 

Adakah efek dari menonton TV terlalu dekat pada anak? 

durasi nonton tv anak

Menonton TV terlalu dekat diketahui bisa menimbulkan beberapa efek pada kesehatan anak. Berikut ini adalah beberapa akibat dari menonton TV terlalu dekat. 

1. Kelelahan mata 

Kelelahan mata atau disebut juga dengan asthenopia adalah efek yang mungkin terjadi ketika mata terus-menerus berusaha untuk fokus pada gambar yang ditampilkan di layar televisi. 

Melansir Children’s Hospital of Philadelphia, asthenopia tidak hanya terjadi akibat jarak menonton TV yang terlalu dekat, tetapi juga bisa disebabkan oleh cahaya yang terlalu silau dari layar TV. 

Anak yang mengalami kelemahan mata mungkin akan mengeluh mengalami sakit kepala, sakit mata, atau rasa lelah. 

2. Mata kering 

Menonton TV terlalu dekat juga dapat menimbulkan efek mata kering pada anak. Ini merupakan kondisi ketika mata tidak dapat menghasilkan cukup air mata, sehingga menyebabkan mata terasa kering dan gatal. 

Mata kering dapat terjadi akibat kurangnya kedipan mata. Apalagi, saat menonton televisi, anak cenderung kurang mengedipkan mata karena terlalu fokus. 

Hal ini tentu dapat mengurangi produksi air matanya dan menyebabkan mata si Kecil menjadi kering. 

3. Miopia 

Menonton TV terlalu dekat dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan penglihatan pada anak berupa miopia.

Miopia atau lebih dikenal dengan rabun jauh adalah kondisi di mana mata tidak dapat fokus pada objek yang berada di kejauhan. 

Anak-anak yang menghabiskan banyak waktu di depan layar televisi dengan jarak yang terlalu dekat cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan miopia dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki kebiasaan yang lebih sehat. 

4. Gangguan tidur 

Efek menonton TV terlalu dekat juga tidak hanya terjadi pada mata. Faktanya, menonton televisi terlalu dekat sebelum tidur dapat mengganggu pola tidur anak dan menyebabkan gangguan tidur

Paparan cahaya biru yang dihasilkan oleh layar televisi dapat memengaruhi produksi hormon melatonin yang mengatur siklus tidur dan bangun tubuh. 

Akibat paparan cahaya biru dari layar televisi, produksi melatonin dapat terganggu, sehingga membuat anak sulit tertidur atau tidur dengan kualitas yang buruk.

5. Penurunan kualitas penglihatan 

Menonton televisi terlalu dekat dalam jangka panjang dapat berkontribusi pada penurunan kualitas penglihatan pada anak-anak. 

Paparan yang berkepanjangan terhadap layar televisi dalam jarak dekat dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan mata.

Pada gilirannya, kondisi ini dapat mengakibatkan penurunan kualitas penglihatan. 

6. Kurangnya interaksi sosial 

Menonton televisi terlalu dekat atau terlalu lama dapat menyebabkan anak kurang berinteraksi secara sosial dengan lingkungan sekitarnya.

Anak yang terlalu lama menghabiskan waktu untuk menonton televisi mungkin memiliki keterampilan sosial yang kurang berkembang. 

Mereka mungkin kesulitan dalam berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami ekspresi emosi orang lain.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua dan pengasuh untuk mengawasi jarak dan durasi waktu anak menonton televisi.

Pastikan pula bahwa kegiatan lain yang lebih bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak juga diikutsertakan dalam rutinitas harian.

Selain itu, saat anak menonton TV, sebaiknya pilih tontonan yang sesuai dengan usia si Kecil. Hal ini agar si Kecil dapat terhindar dari dampak negatif yang mungkin ditimbulkan. 

Perhatikan juga rating usia jika anak Anda menonton melalui aplikasi khusus, seperti gadget atau bahkan saat mengajak anak nonton di bioskop

Jika Anda mencurigai anak mengalami masalah kesehatan tertentu akibat menonton TV terlalu dekat, periksakan anak Anda ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

Apa dampak anak sering nonton TV?

Anak yang sering menonton televisi dapat mengalami beberapa dampak negatif, seperti berikut ini.
  • Keterlambatan perkembangan bahasa dan kognitif.
  • Kurangnya aktivitas fisik.
  • Paparan terhadap konten yang tidak sesuai.
  • Gangguan tidur.
  • Kurangnya konsentrasi dan penurunan akademis.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Aisya Fikritama Aditya, Sp.A

Kesehatan anak · RS UNS Solo


Ditulis oleh Putri Ica Widia Sari · Tanggal diperbarui 19/04/2024

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan