Jangan Asal Pilih, Ikuti 3 Langkah Ini dalam Memilih Inhaler untuk Anak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Asma yang menyerang anak akan menyebabkan mengi, batuk-batuk, sesak napas disertai rasa nyeri di dada. Untuk mengobatinya, anak perlu mendapatkan obat untuk melebarkan jalur pernapasan sehingga ia bisa bernapas dengan normal. Biasanya obat akan diberikan melalui bantuan alat yang disebut inhaler. Supaya tidak salah memilih inhaler untuk anak, ikuti langkah-langkahnya berikut ini.

Tips memilih inhaler untuk anak

Inhaler bukanlah obat, melainkan alat yang berfungsi untuk mengantarkan obat langsung ke paru-paru. Alat ini biasanya digunakan oleh pasien penyakit asma atau PPOK (penyakit paru obstruktif kronis).

Berdasarkan jurnal Primary Care Respiration Medicine, pilihan dan cara menggunakan inhaler yang salah menjadi salah satu penyebab perawatan asma tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, pasien harus menemukan inhaler yang tepat dan tahu cara menggunakannya dengan benar.

Sayangnya, memilih inhaler, baik untuk anak maupun orang dewasa, bukan perkara mudah. Anda perlu mempertimbangkan usia, obat-obatan yang digunakan, laju aliran pernapasan, kemudahan dan keinginan pasien.

Supaya tidak salah pilih, Anda bisa mengikuti langkah-langkahnya berikut ini.

1. Tipe inhaler

inhaler atau nebulizer yang harus dipilih

Ada dua tipe dari inhaler untuk asma, yakni metered-dose inhalers (MDI) dan dry powdered inhalers (DPI). Tipe MDI terdiri dari tabung berisi obat cair yang ditekan ke corong plastik untuk dihirup.

Alat ini ada yang dilengkapi pengukur untuk mencegah dosis obat yang dikeluarkan terlalu banyak. Ada juga yang dilengkapi spacer, yakni alat tambahan yang memperlancar laju obat hingga mencapai ke paru-paru.

Kebanyakan inhaler MDI tanpa spacer hanya mencapai ke area belakang tenggorokan saja, tidak mencapai ke area saluran napas di bawahnya.

Beda dengan inhaler MDI yang ditekan dan dihirup, inhaler DPI digunakan dengan cara dihirup dengan cepat dan kuat. Inhaler tipe ini juga menggunakan obat berbentuk bubuk kering.

Anda bisa memilih inhaler ini untuk anak yang usianya sudah lebih dewasa, yang mampu menarik napas dalam. Jika diberikan pada anak yang usianya terlalu kecil, kemungkinan besar ia tidak menarik napas saat menggunakannya, tetapi meniupnya.

2. Usia anak

efek samping inhaler
Sumber: Shutterstock

Memilih inhaler untuk anak memang harus disesuaikan dengan usianya. Menurut laman Guidelines For Nurse, anak di bawah usia 5 tahun yang menderita asma kronis dapat memilih inhaler tipe MDI.

Namun, saat digunakan lengkapi dengan sistem pengatur jarak dan sungkup oksigen agar lebih mudah. Ajari dan latih anak untuk menggunakan inhaler ini dan perangkat spacer dengan benar.

Sementara anak berusia 5 tahun ke atas dapat menggunakan inhaler MDI maupun DPI. Sesuaikan dengan keinginan dan kemampuan anak dalam menggunakan inhaler.

3. Persetujuan dokter

Sebelum menjatuhkan pilihan pada tipe inhaler tertentu, jangan lupa konsultasikan lebih dulu dengan dokter. Dokter akan memberikan rekomendasi inhaler yang cocok untuk si kecil. Dokter juga akan memberikan arahan dosis obat, cara penggunaan inhaler, dan perawatan yang lebih jelas kepada Anda.

Selain teliti dalam memilih inhaler untuk anak, masa penggunaan inhaler juga harus sesuai perintah dokter. Jika asma anak membaik dan Anda menghentikan pengobatan inhaler secara sepihak, asma bisa kembali dan menjadi lebih buruk.

Pastikan Anda menghentikan pengobatan apabila dokter telah merekomendasikan demikian.

Jangan lupa mengecek kesehatan anak dengan rutin ke dokter. Tujuannya, untuk mengetahui perkembangan obat dan efektivitas inhaler dalam membantu mengendalikan gejala asma yang terjadi pada si kecil.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Hati-hati Penggunaan Obat Kortikosteroid Berlebihan

Sering disebut "obat dewa" karena bisa menyembuhan alergi, gatal-gatal, hingga flu, obat kortikosteroid juga bisa berbahaya jika dipakai berlebihan.

Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Obat A-Z, Obat-obatan & Suplemen A-Z 28 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Pilihan Obat Herbal untuk Atasi Penyakit Paru-Paru Obstruksi Kronis

Penyakit paru-paru obstruktif kronis tidak bisa disembuhkan, tetapi gejalanya bisa dikendalikan dengan banyak cara, termasuk mengonsumsi obat herbal.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Pernapasan, PPOK 23 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit

Waspada Komplikasi Akibat Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Ada banyak komplikasi yang ditimbulkan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Komplikasi tersebut mencakup masalah jantung, tulang, hingga depresi.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Pernapasan, PPOK 7 Juli 2020 . Waktu baca 8 menit

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Penderita asma adalah salah satu kelompok yang berisiko mengembangkan kondisi parah akibat COVID-19. Apa saja yang perlu diperhatikan saat menderita asma?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
COVID-19, Penyakit Infeksi 24 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

alat bantu pernapasan

8 Alat Bantu Pernapasan yang Membantu Anda Bernapas Lebih Lega

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Dipublikasikan tanggal: 19 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
penyebab sesak nafas napas

Berbagai Kondisi dan Penyakit yang Jadi Penyebab Sesak Napas

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 9 menit
menghirup debu

Apa yang Akan Terjadi Ketika Anda Menghirup Debu

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
bahaya gurita bayi

Bayi Ternyata Tak Boleh Pakai Gurita. Apa Bahayanya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 5 menit