3 Cara Tepat Merawat Kulit Bayi yang Sensitif

    3 Cara Tepat Merawat Kulit Bayi yang Sensitif

    Bayi terlahir dengan kulit yang lebih sensitif daripada orang dewasa. Itu kenapa bayi yang baru lahir perlu perawatan kulit yang lebih telaten agar tidak mudah teriritasi dan meradang. Lantas, seperti apa tips perawatan kulit bayi sensitif?

    Kenapa kulit bayi sensitif?

    memandikan bayi baru lahir

    Selama 9 bulan dalam kandungan, bayi dilindungi oleh lapisan zat lemak bernama vernix yang melekat pada sekujur kulitnya. Lapisan ini bertindak bak selimut untuk menjaga suhu tubuh bayi sekaligus menjaga kulitnya tetap lembap dan tidak keriput meski terendam dalam air ketuban.

    Nah ketika bayi lahir ke dunia, perubahan suhu lingkungan yang ekstrem dari lembap (lingkungan dalam rahim) ke sangat kering (udara luar) dapat membuat kulit bayi cepat mengering.

    “Dibandingkan kulit orang dewasa, kulit bayi jauh lebih tipis sehingga cenderung lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi di sekitarnya,” ungkap Dr. Srie Prihianti Sp.KK, dokter spesialis kulit anak (dermatologi anak) yang ditemui oleh tim Hello Sehat di kawasan Mega Kuningan, Senin (5/11).

    Struktur jaringan kulit bayi yang baru lahir juga masih longgar sehingga partikel asing apa pun yang ada di udara sekitar bisa masuk dengan mudah dan mengiritasi kulitnya. Selain itu, sistem perlindungan kulit bayi juga belum terbentuk sempurna untuk melawan zat-zat asing yang masuk tersebut.

    Kulit bayi yang kering dan sensitif membuatnya sangat rentan terkena gangguan kulit seperti ruam gatal eksim dan iritasi. Pemakaian produk perawatan kulit bayi yang salah juga dapat memperburuk masalah kulitnya jika Anda tidak hati-hati. Ini berisiko tinggi sebabkan gatal, merah, kulit bruntusan, dan bahkan kering bersisik sampai mengelupas.

    Tips perawatan kulit bayi sensitif

    perkembangan bayi 19 minggu

    Sebelum mengetahui tips perawatan kulit bayi baru lahir, Anda harus tahu dulu apa tujuan merawat kulit bayi sensitif, tutur dr. Srie Prihianti Sp.KK.

    Perawatan kulit bayi baru lahir haruslah:

    • Mempertahankan kelembapan kulit bayi.
    • Menjaga kulitnya tetap sehat.
    • Mencegah iritasi atau alergi.

    Setelah mengetahui tujuan merawat kulit bayi, Anda bisa melakukan beberapa hal berikut ini:

    1. Cermat pilih produk yang aman

    Pilih produk perawatan kulit bayi baru lahir yang mengandung bahan-bahan natural. Selain itu, pilih produk yang berlabel hypoallergenic untuk mencegah risiko alergi. Usahakan juga memilih produk sabun dan sampo yang memiliki pH seimbang dengan kadar pH air mata atau “low occular irritation index” (berlabel “pH-balanced”).

    Jangan pula pilih sabun yang setelahnya bikin kulit kesat, ungkap dr. Srie. Sabun yang bikin kulit kesat tandanya mengeringkan kulit. Pilihlah sabun bayi yang justru terasa licin bahkan setelah dikeringkan, karena ini tandanya sabun tersebut mengandung banyak pelembap. Sebaiknya gunakan sabun yang tidak mengandung deterjen SLS (Sodium Lauryl Sulfate) atau Anionik Surfaktan, karena kandungan terebut dapat memicu timbulnya iritasi dan menyerap kelembapan alami kulit bayi.

    2. Bijak memandikan bayi

    Saat bayi baru lahir, ada baiknya jangan langsung dimandikan. Umumnya banyak ibu yang risih melihat adanya selaput lemak yang menempel di tubuh bayi sesaat setelah lahir. Padahal selaput lemak yang punya nama vernix caseosa ini berfungsi melembapkan dan melindungi kulit dari infeksi dan risiko alergi.

    Banyak pakar kesehatan neonatal yang menyarankan orangtua menunda waktu mandi pertama bayi sampai tanda-tanda vital dan suhu bayi telah stabil, kira-kira sekitar 2-4 jam setelah lahir.

    Perhatikan juga caranya. Memandikan bayi harus dengan air suam kuku (36-47º Celsius) dengan cara merendam seluruh tubuhnya di bak. Jangan terlalu lama memandikan bayi, paling lama 10-15 menit saja. Kelamaan mandi bisa menurunkan suhu tubuh bayi dan memicu hipotermia.

    3. Jangan lupa pakaikan pelembap

    Bukan hanya kulit orang dewasa saja yang butuh dilembapkan dengan moisturizer, bayi baru lahir pun perlu. Terlebih karena kulit bayi cenderung kering dan sangat sensitif.

    Pelembap yang baik dapat membantu mempertahankan kadar air dalam kulitnya segera setelah mandi. Pelembap juga berfungsi untuk memperbaiki tekstur kulit bayi agar lebih lembut dan fleksibel.

    Oleskan pelembap 2-3 menit setelah mandi di saat kulitnya masih sedikit lembap terbasuh air. Trik ini akan lebih efektif melembapkan kulitnya daripada mengoleskan pelembap saat kulit bayi sudah benar-benar kering.

    Bila kulit bayi Anda tidak sensitif atau normal, pilih pelembap jenis lotion. Bila kulit kering sensitif, pilih yang jenis cream.

    Kandungan pelembap aman untuk bayi

    Untuk bayi baru lahir, bayi prematur, atau si kecil yang kulitnya kering dan sensitif, sebaiknya menggunakan pelembap bayi yang bukan hanya melembapkan tetapi juga membantu mengatasi dari kulit kering, gatal, dan sensitif.

    Pilih baby cream yang memiliki formula low hazard. Ini adalah konsep internasional terbaru bahwa produk bayi diproduksi dengan bahan yang aman (green index). Jadi Anda tidak perlu khawatir jika tangan si kecil masuk ke dalam mulut setelah pemakaian baby cream.

    Pastikan baby cream sudah hypoallergenic tested dan diproduksi di perusahaan farmasi dengan standar GMP (Good Manufacturing Practice), sehingga lebih terjamin kualitasnya. Hindari kandungan pengawet/paraben dan alkohol, karena dapat memicu timbulnya iritasi.

    Untuk kulit kering dan sensitif sebaiknya pilih baby cream yang memiliki kandungan oat kernel, karena kandungan tersebut dapat menenangkan kulit dan membantu mengatasi rasa gatal dan perih pada kulit. Sunflower seed oil berfungsi sebagai moisturizer dan membantu regenerasi kulit, dan olive leaf sebagai bahan alami anti bakteri, anti inflamasi, dan anti jamur.

    Sediakan waktu untuk Anda membaca label kemasan sebelum membeli produk, demi investasi kulit si kecil.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Luthfiya Rizki Diperbarui Nov 09, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri