Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Hati-Hati! Mencegah Kejang pada Bayi dengan Kopi Bisa Berbahaya

Hati-Hati! Mencegah Kejang pada Bayi dengan Kopi Bisa Berbahaya

Mencegah step pada bayi dengan kopi seringkali dianjurkan oleh para orang tua. Konon cara ini diyakini dapat mencegah kejang pada bayi. Benarkah demikian? Lalu apakah pemberian kopi aman untuk bayi? Yuk simak jawabannya pada penjelasan berikut.

Apa benar kopi bisa mencegah step pada bayi?

tindik telinga bayi

Melansir situs Harvard School of Public Health, kopi memang menawarkan sejumlah manfaat. Selain untuk mengatasi kantuk, minum kopi secara rutin juga dapat mencegah risiko penyakit jantung, diabetes dan stroke.

Namun apa benar jika bayi diberi minum kopi akan terhindar dari kejang?

Kafein pada kopi memang dapat menstimulasi kinerja otak. Namun, menurut jurnal Epilepsy and Behavior, penelitian yang menjelaskan efektivitas kafein dalam mencegah kejang pada anak sangatlah langka.

Bahkan, di sisi lain, pemberian kafein yang berlebihan justru dapat memperparah kondisi kejang.

Adapun penelitian yang pernah dilakukan baru diterapkan kepada hewan percobaan. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa pemberian kafein dalam jumlah yang rendah dapat mencegah kerusakan pada otak tikus.

Dapat kita simpulkan bahwa mencegah step pada bayi dengan memberikan kopi tidak terbukti secara ilmiah. Bahkan kebiasaan tersebut hanyalah mitos yang sebaiknya tidak diikuti.

Bahaya pemberian kopi pada anak

gelas minum bayi

Bukan hanya tidak terbukti efektif mencegah kejang. Di sisi lain, konsumsi kafein pada anak justru dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, antara lain sebagai berikut.

1. Berisiko menyebabkan jantung berdebar pada anak

Aritmia atau gangguan irama jantung dapat terjadi pada anak jika minum kopi dalam jumlah yang berlebihan. Penyakit ini ditandai dengan takikardia atau jantung berdebar lebih cepat dari yang seharusnya.

Bayi yang mengalami takikardia biasanya memiliki denyut jantung lebih dari 160 detak per menit (bpm) saat kondisi diam. Padahal, denyut jantung normal pada bayi seharusnya tidak melebihi 140 bpm.

Kondisi ini bisa berlangsung selama beberapa detik, menit, atau bahkan berjam-jam. Gejala takikardia meliputi rasa pusing, lemah, dan rasa tidak nyaman di dada.

Jika tetap memberikan kopi, malah semakin meningkatkan risiko gangguan saraf dan memperparah kejang yang anak alami.

Karena bayi memiliki berat badan yang jauh lebih ringan daripada orang dewasa, maka dengan meminum satu sendok kopi saja, ia sudah dapat mengalami gejala ini.

2. Menyebabkan bayi kekurangan cairan

Bukannya mencegah step pada bayi, kopi justru dapat menyebabkan berbagai gangguan pada si kecil. Kafein dalam dosis rendah sekalipun bisa membuat ia sakit kepala, sakit perut, atau bahkan diare.

Selain itu, konsumsi kafein juga dapat memicu baung air kecil. Jika kondisi ini terjadi, maka akan akan berisiko mengalami dehidrasi. Alih-alih mengatasi kejang, minum kopi malah akan memperburuk keadaannya.

3. Menyebabkan anak sulit tidur

Kafein dalam kopi pada dasarnya berfungsi sebagai obat stimulan yang berfungsi merangsang sistem saraf pusat. Ini bisa membuat seseorang merasa lebih energik dan terhindar dari rasa kantuk.

Jika zat ini diberikan kepada bayi, ia justru akan semakin susah tidur, gelisah dan moodnya memburuk. Akibatnya ia akan menjadi semakin rewel dan sulit untuk beristirahat.

4. Menghambat tumbuh kembang anak

Menurut International Journal of Environmental Research and Public Health, terdapat lebih dari 5000 penelitian yang menyimpulkan efek negatif kafein pada anak, termasuk menghambat proses pertumbuhannya.

Oleh karena itu, mencegah step pada bayi dengan kopi sebaiknya tidak perlu Anda lakukan karena hanya akan berdampak buruk bagi perkembangannya.

Minumkan kopi untuk menangani kejang pada bayi akan membuatnya tersedak

bayi prematur sakit

Anjuran yang beredar secara turun temurun menyatakan bahwa orangtua harus meminumkan satu-dua sendok kopi jika anak kejang. Namun sebenarnya ini adalah saran yang menyesatkan.

Saat anak kejang, Anda justru tidak boleh menaruh apapun di mulutnya, karena tindakan ini justru berbahaya.

Seseorang yang sedang kejang tidak memiliki kontrol penuh atas dirinya. Perlu diingat juga bahwa kejang tak selalu kelojotan. Beberapa orang yang sedang kejang bisa diam mematung, sekujur tubuhnya kaku.

Sendok yang Anda masukkan ke dalam mulut bayi dapat menyebabkan gusi terluka hingga rahang dan gigi patah. Gigi yang patah bisa masuk ke dalam saluran napas dan menyumbat saluran napas.

Memberikan makanan atau minuman saat sedang kejang dapat menyebabkan bayi tersedak sehingga saluran napas tersumbat dan berujung pada henti napas.

Ini karena cairan kopi yang diberikan saat anak sedang kejang tidak akan masuk ke lambung untuk dicerna, tapi justru masuk ke paru-paru. Nantinya kopi akan menimbulkan reaksi yang bisa menyebabkan terjadinya peradangan di paru-paru.

Tidak dianjurkan mencegah step pada bayi dengan kopi

Kopi tidak mencegah ataupun menyembuhkan kejang pada bayi. Bahkan pemberian kopi pada anak sebaiknya tidak Anda lakukan.

Menurut para ahli, anak sebenarnya baru boleh minum kopi jika usianya sudah menginjak 18 tahun ke atas. Ini karena pada usia bayi hingga remaja, anak masih membutuhkan waktu tidur yang cukup. Sementara kopi dapat menghambat tidur anak.

Hal yang sebaiknya dilakukan saat anak kejang

Alih-alih mencoba-coba cara yang berbahaya seperti memberikan kopi untuk mencegah step pada bayi. Lebih baik Anda melakukan pertolongan pertama pada anak kejang sesuai dengan anjuran medis berikut ini.

  • Posisikan anak Anda berbaring dengan posisi menghadap ke samping untuk mencegah agar air liur atau muntah tidak masuk ke saluran pernapasan.
  • Posisikan kepala anak agak lebih tinggi dengan meletakkan alas seperti bantal.
  • Tempatkan anak di alas yang datar
  • Hindarkan dari keramaian dan dari benda-benda yang berbahaya seperti benda-benda yang terbuat dari kaca.
  • Longgarkan pakaian anak agar ia lebih mudah bernapas.
  • Jika anak demam, segera berikan obat penurun panas yang dimasukkan lewat anus (jika tersedia di rumah).
  • Catat durasi kejang anak, info ini penting untuk dokter dalam mendiagnosis jenis kejang yang anak alami.
  • Jika memungkinkan, rekam kejadian kejang anak berupa video untuk diperlihatkan pada dokter saat berkonsultasi.
  • Ketika kejang usai, anak mungkin bisa merasakan kantuk atau masih belum sadar. Terus awasi anak hingga ia terbangun dan sadar sepenuhnya.
  • Berikan waktu istirahat setelah kejangnya berakhir.
  • Segera bawa anak ke rumah sakit untuk penanganan dan diagnosis lebih lanjut
Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Van Koert, R., Bauer, P., Schuitema, I., Sander, J., & Visser, G. (2018). Caffeine and seizures: A systematic review and quantitative analysis. Epilepsy & Behavior, 80, 37-47. doi: 10.1016/j.yebeh.2017.11.003

Vesoulis, Z., McPherson, C., Neil, J., Mathur, A., & Inder, T. (2016). Early High-Dose Caffeine Increases Seizure Burden in Extremely Preterm Neonates: A Preliminary Study. Journal Of Caffeine Research, 6(3), 101-107. doi: 10.1089/jcr.2016.0012

Temple, J. (2009). Caffeine use in children: What we know, what we have left to learn, and why we should worry. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 33(6), 793-806. doi: 10.1016/j.neubiorev.2009.01.001

Torres-Ugalde, Y., Romero-Palencia, A., Román-Gutiérrez, A., Ojeda-Ramírez, D., & Guzmán-Saldaña, R. (2020). Caffeine Consumption in Children: Innocuous or Deleterious? A Systematic Review. International Journal Of Environmental Research And Public Health, 17(7), 2489. doi: 10.3390/ijerph17072489

Caffeine (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2017). Retrieved 30 April 2021, from https://kidshealth.org/en/parents/child-caffeine.html

Topics, H. (2015). Caffeine: MedlinePlus. Retrieved 29 April 2021, from https://medlineplus.gov/caffeine.html

Coffee. Retrieved 29 April 2021, from https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/food-features/coffee/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui 13/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita