Awas! Mencegah Kejang Pada Bayi Dengan Meminumkan Kopi Bisa Picu Aritmia Jantung

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/11/2019
Bagikan sekarang

Banyak penelitian menemukan bahwa rutin minum kopi setiap hari sebenarnya sehat bagi orang dewasa. Tapi jangan sekali-kali meminumkan kopi untuk bayi, meski katanya minum kopi bisa mencegah kejang pada bayi.

Tidak jelas apa yang menjadi dasar alasan kenapa orangtua harus meminumkan bayinya kopi untuk mencegah atau mengobati kejang. Tapi yang pasti, kopi tidak dapat mencegah, apalagi mengobati kejang pada bayi. Meminumkan kopi pada anak justru akan membahayakan kesehatannya. 

Kafein dalam kopi bisa memicu jantung bayi berdetak tidak normal

Kejang terjadi akibat kelainan sinyal listrik pada otak sehingga terjadi gangguan pada gerakan, sensasi, kesadaran, atau perilaku ganjil tanpa disadari si empunya tubuh. Otak manusia terdiri dari triliunan sel saraf yang saling terhubung dengan sinyal listrik yang disebut neurotransmitter. Sinyal listrik ini tidak hanya terjadi di otak, tapi juga di otot sehingga otak dapat memerintahkan tubuh untuk bergerak. Gangguan pada neurotransmitter menyebabkan kejang.

Nah, kafein dalam kopi pada dasarnya berfungsi sebagai obat stimulan, untuk merangsang sistem saraf pusat yang bisa membuat seseorang merasa lebih melek dan energik. Ini sebabnya orang dewasa yang jarang mengonsumsi kopi bisa menyebabkan jantung berdetak lebih cepat. Tubuh anak kecil belum sematang tubuh orang dewasa, oleh karena itu tidak butuh banyak kafein untuk menghasilkan efek ini. Sesendok teh kopi yang biasanya diminumkan orangtua untuk mencegah atau mengobati kejang pada bayi, bisa menampakkan efek yang sama seperti orang dewasa.

Masih mau minumkan kopi untuk mengatasi kejang pada bayi?

Jika “tradisi” ini diteruskan dalam waktu lama, tidak menutup kemungkinan bahwa efeknya akan meningkat. Ketika jantung anak berdenyut lebih cepat dari biasanya, ini disebut dengan takikardia. Bayi yang mengalami takikardia biasanya memiliki denyut jantung lebih dari 160 detak per menit (bpm) ketika ia sedang berdiam diri. Padahal, denyut jantung normal pada bayi seharusnya tidak melebihi 140 bpm. Ini bisa berlangsung selama detik, menit, atau bahkan berjam-jam. Gejala takikardia meliputi rasa pusing, lemah, dan rasa tidak nyaman di dada. Namun kadang bisa sulit untuk membedakan gejala takikardia pada anak dengan keluhan lainnya yang lebih umum. Kafein dosis tinggi justru bisa membuat gangguan jantung dan saraf anak semakin parah, dalam hal ini kejang yang dialaminya.

Tak hanya itu, kafein juga bisa membuat si kecil makin gelisah, sulit tidur, dan moodnya memburuk. Kafein dosis rendah sekalipun bahkan bisa membuat anak sakit kepala, sakit perut, atau bahkan diare. Kafein juga bisa membuat anak Anda mengalami dehidrasi karena adanya peningkatan buang air kecil. Padahal kejang pada anak biasanya disebabkan oleh demam tinggi. Selain memperburuk kejangnya, segala efek kafein ini juga dapat memperburuk kondisi yang mendasarinya.

Minumkan kopi untuk menangani kejang pada bayi akan membuatnya tersedak

Katanya, orangtua harus meminumkan satu-dua sendok kopi jika anak kejang. Namun ini adalah saran yang menyesatkan. Jangan menaruh apapun di mulut orang yang sedang kejang, karena ini justru berbahaya.

Seseorang yang sedang kejang tidak memiliki kontrol penuh atas dirinya. Perlu diingat juga bahwa kejang tak selalu kelojotan. Beberapa orang yang sedang kejang bisa diam mematung, sekujur tubuhnya kaku. Sendok yang Anda masukkan ke dalam mulut bayi dapat menyebabkan gusi terluka hingga rahang dan gigi patah. Gigi yang patah bisa masuk ke dalam saluran napas dan menyumbat saluran napas.

Memberikan makanan atau minuman dapat menyebabkan bayi yang kejang jadi tersedak sehingga saluran napas tersumbat dan berujung pada henti napas. Ini karena cairan kopi yang diberikan saat anak sedang kejang tidak akan masuk ke lambung untuk dicerna, tapi justru masuk ke paru-paru. Nantinya kopi akan menimbulkan reaksi yang bisa menyebabkan terjadinya peradangan di paru-paru.

Kopi tidak mencegah atau menyembuhkan kejang pada bayi. Menurut para ahli, anak sebenarnya baru boleh minum kopi jika usianya sudah menginjak 18 tahun ke atas. Klik tautan berikut untuk cari tahu cara yang benar menangani anak yang kejang dan yang kejang demam.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

Sering Minum Kopi Instan? Ketahui Efek pada Kesehatan yang Mungkin Terjadi

Jika Anda termasuk orang yang setiap hari minum kopi instan, tapi tidak tahu efek sampingnya bagi kesehatan, simak penjelasannya berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki

Bagaimana Selulitis Terjadi pada Anak dan Cara Mencegahnya?

Infeksi di kulit sering terjadi pada anak. Salah satunya adalah selulitis. Apa itu selulitis dan bagaimana mencegahnya terjadi pada anak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila

3 Pertanda Ketika Sistem Imun Anak Menurun

Apabila anak mulai sering atau mudah jatuh sakit, berarti sesuatu terjadi pada sistem imunnya. Yuk, kenali apa saja tanda saat sistem imun anak menurun.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki

Curiga Terjadi Gangguan Makan pada Anak? Lakukan 6 Langkah Ini

Bila terjadi perubahan drastis pada pola makan anak, patut dicurigai ada gangguan makan pada anak. Apa yang harus orangtua lakukan?

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila

Direkomendasikan untuk Anda

agar anak mau mendengarkan orang tua

Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020
memilih hewan untuk anak

Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 10/05/2020
Ibu memakaikan masker agar imunisasi saat pandemi corona aman

Aturan Pakai Masker Wajah untuk Anak dan Tips Membuat Mereka Terbiasa

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 08/05/2020
encephalocele adalah ensefalokel

Encephalocele

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 28/04/2020