Dikaruniai seorang bayi yang berkebutuhan tinggi kerap menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Bagaimana tidak, anak berkebutuhan tinggi tentu membutuhkan perhatian dan perawatan yang ekstra karena cenderung lebih rewel. Sebagai orangtua, kesabaran Anda pun diuji. Yuk, simak penjelasan mengenai bayi berkebutuhan tinggi melalui ulasan berikut ini!
Apa itu bayi berkebutuhan tinggi?
Bayi berkebutuhan tinggi (high-need baby) sering diartikan sebagai bayi yang “sulit” atau rewel. Bayi dengan kondisi ini biasanya memiliki temperamen yang tidak dapat diprediksi dalam hal apa pun.
Anak berkebutuhan tinggi cenderung memiliki tanda yang khas yakni pemarah, mudah frustrasi, dan sering menangis.
Bahkan, mereka dapat menangis dengan suara yang lebih nyaring dan keras ketika keinginannya tidak segera dipenuhi. Begitu pula saat tertawa, suara bayi akan terdengar cukup melengking.
Maka tak heran, bila high-need baby akan terlihat selalu nempel dan ketergantungan dengan orangtuanya.
Apa saja ciri bayi berkebutuhan tinggi?
Anda mungkin menyadari dan merasa bahwa anak Anda berbeda dengan anak-anak lainnya.
Pada kasus seperti ini harapannya Anda tidak membanding-bandingkan anak Anda dengan yang lain, dan cobalah fokus pada kondisi si Kecil.
Jadikanlah karunia yang diberikan Sang Pencipta ini sebagai tantangan dan tanggung jawab untuk memberikan pengasuhan yang terbaik terhadap si Kecil.
Sebelum melakukan langkah untuk mengatasi bayi berkebutuhan tinggi, terlebih dahulu Anda perlu tahu ciri-cirinya berikut ini.
1. Memiliki reaksi lebih kuat
Tangisan bayi berkebutuhan tinggi bukan sekadar permintaan, melainkan bersifat mendesak dan harus benar-benar dipenuhi.
Bayi-bayi ini memberikan lebih banyak energi dalam segala hal yang mereka lakukan.
Mereka menangis dengan keras, makan dengan lahap, tertawa dengan kencang, dan protes lebih kuat jika kebutuhan mereka tidak terpenuhi untuk kepuasannya.
Hal itu terjadi karena mereka memiliki perasaan yang begitu dalam dan akan bereaksi lebih kuat jika perasaannya terganggu.
Anda dapat membaca intensitas perasaan bayi dalam bahasa tubuh atau gerak-geriknya, seperti tangan yang mengepal, punggung membungkuk, dan otot tegang yang seolah-olah siap beraksi.
Ciri lainnya dari bayi berkebutuhan tinggi adalah hiperaktif. Namun, anak hiperaktif di sini bukan untuk menggambarkan hal yang negatif.
Kondisi ini mendefinisikan bagaimana anak Anda bertindak tanpa membuat penilaian tentang apakah itu baik atau buruk.
Bayi-bayi ini memang cenderung sangat aktif. Mereka selalu bergerak, meski berada di dalam stroller bayi atau sedang duduk di baby chair.
Bahkan dalam kondisi tidur pun, mereka sering kali bergerak.
Banyak ibu yang mengaku kelelahan dan terkuras energinya karena memiliki bayi berkebutuhan tinggi, terutama di awal kehidupannya.
Pasalnya, mereka akan menangis terus-menerus, tidak mau tidur, dan ingin menyusui terus-menerus.
Orangtua mungkin jadi kewalahan dengan rutinitasnya sehari-hari dan memiliki masalah tidur yang cukup.
Salah satu ciri yang Anda harus kenali pada anak berkebutuhan tinggi yakni menyusu terus menerus. Si Kecil akan menyusu dengan intensitas yang lebih sering dan lama pada payudara.
Meski begitu, Anda tidak perlu khawatir jika si Kecil menyusu terus. Kandungan kalori ASI akan menyesuaikan dengan seberapa sering ia menyusu.
Ketika Anda menyusu hanya untuk menenangkannya, maka ia hanya mendapat ASI foremilk atau yang punya kalori yang rendah.
5. Banyak menuntut
Bayi berkebutuhan tinggi tidak hanya minta disusui dan digendong, tapi akan menuntut. Banyak orangtua yang kemudian akhirnya terjebak dalam situasi ini.
Mereka mengalami kesulitan dan mengeluhkan merasa dimanipulasi dan dikendalikan.
6. Memiliki perasaan yang sangat sensitif
Anak yang berkebutuhan tinggi digambarkan dengan perasaannya yang mudah terganggu dan cepat marah.
Oleh karena itu, mereka lebih suka ada di lingkungan yang aman dan dikenal. Selain itu, mereka dapat dengan cepat protes ketika merasa terganggu.
Apa penyebab bayi berkebutuhan tinggi?
Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk mengetahui penyebab bayi berkebutuhan tinggi.
Akan tetapi, semua penelitian yang dilakukan hingga saat ini bersifat korelasional, artinya belum ada bukti sebab-akibat yang mendasarinya.
Para peneliti hanya mengandalkan laporan dari orangtua dengan bayi berkebutuhan tinggi yang mungkin dapat sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis, seperti kecemasan atau depresi pada ibu selama kehamilan.
Dilansir dari Frontiers in public health, gejala kecemasan berkelanjutan yang dialami sang ibu saat hamil cenderung bertahan setelah bayi lahir.
Meski belum diketahui secara pasti apakah orangtua yang memiliki anak berkebutuhan tinggi disebabkan oleh kecemasan mereka sendiri, atau apakah kecemasan mereka selama kehamilan sebenarnya berkontribusi pada temperamen anak.
Namun, satu penelitian singkat menunjukkan adanya hubungan antara tingginya kadar kortisol (hormon stres) yang dialami ibu di akhir kehamilan dan anak berkebutuhan tinggi.
Dalam hal ini termasuk jika anak sering menangis, rewel, ekspresi wajah negatif, dan tingkat emosi serta aktivitas yang lebih tinggi.
Pada dasarnya, terdapat banyak alasan yang menjadikan bayi rewel dalam beberapa bulan pertama kehidupannya.
Mereka memiliki sistem saraf yang sangat sensitif sehingga hal-hal kecil, seperti orang berbicara, angin kencang, atau hal-hal yang tidak biasa lainnya dapat mengganggunya.
Kemudian, si Kecil meluapkan ketidaknyamanannya dengan cara menangis.
Apakah bayi berkebutuhan tinggi berkaitan dengan kolik?

Bayi dengan kolik biasanya akan berakhir paling lambat ketika ia menginjak usia 5 bulan.
Jika Anda memiliki bayi baru lahir yang biasanya baik-baik saja, tapi tiba-tiba sangat rewel, kemungkinan besar dia mengalami kolik.
Namun, jika bayi Anda sering rewel, susah makan, tidak mudah diprediksi dalam hal tidur dan rutinitas lainnya, serta sangat intens dalam reaksinya, ada kemungkinan ia adalah bayi berkebutuhan tinggi.
Keduanya memang memiliki pertanda yang serupa. Namun, jika bayi menangis terus menerus atau rewel, perlu diperiksa oleh dokter untuk memastikan ada atau tidak masalah yang ia alami.
Bagaimana cara menghadapi bayi berkebutuhan tinggi?
Terdapat beberapa langkah yang bisa Anda lakukan sendiri di rumah untuk membantu mengatasi bayi berkebutuhan tinggi, di antaranya berikut ini.
1. Terapkan waktu tidur secara rutin
Menerapkan rutinitas tidur siang dan waktu sebelum tidur dapat membuat si Kecil merasa aman.
Ketika bayi mengikuti rutinitas waktu tidur yang konsisten, ia tahu apa yang diharapkan dan menyadari batasannya.
Saat Anda memandikannya, meredupkan lampu, dan mulai membacakan buku untuknya, ia tahu sudah waktunya bersiap-siap untuk tidur.
2. Ajak jalan-jalan atau bermain
Anak berkebutuhan tinggi perlu kegembiraan dan stimulasi yang konstan.
Salah satu cara untuk membuat anak lebih terstimulasi adalah dengan meletakkannya di stroller, kemudian pergi keluar untuk mencari udara segar agar suasana hatinya lebih baik.
Bawa si Kecil keluar dan cobalah berinteraksi dengan orangtua lain yang mungkin memiliki anak serupa.
Anak-anak dapat bermain bersama, sedangkan Anda bisa banyak bercerita untuk mendapatkan ketenangan pikiran.
Dengan begitu, Anda jadi mengetahui bahwa Anda bukan satu-satunya yang memiliki bayi berkebutuhan tinggi.
3. Sabar dan berdamai dengan diri sendiri
Hal terpenting lainnya yang bisa Anda lakukan yakni menerima kenyataan bahwa Anda harus menyiapkan energi lebih untuk merawat si Kecil.
Pastikan untuk selalu melatih kepekaan, gairah, dan emosi si Kecil agar kelak ia dapat berperilaku baik ketika tumbuh dewasa.
Bukan hanya memberikan pengasuhan yang terbaik bagi si Kecil, tapi Anda harus yakin pada diri sendiri bahwa Anda dan pasangan adalah orangtua yang baik.
Kesimpulan
- Bayi berkebutuhan tinggi (high-need baby) adalah bayi yang menunjukkan perilaku lebih intens dan menuntut dibandingkan bayi pada umumnya.
- Penyebab pasti belum diketahui, tetapi faktor seperti stres pada ibu selama kehamilan diduga berkontribusi.
- Ciri-ciri termasuk lebih rewel, mudah frustrasi, sering menangis dengan suara keras, dan sangat bergantung pada orangtua.
- Menghadapi bayi dengan karakteristik ini memerlukan kesabaran ekstra dan pemahaman dari orangtua serta pendekatan pengasuhan yang penuh perhatian dan konsisten.