Bayi Terlalu Higienis, Benarkah Membuat Kulitnya Jadi Sensitif?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 04/08/2019 . 3 menit baca
Bagikan sekarang

Banyak orangtua mati-matian menjaga kebersihan bayi mereka dengan tujuan menghindari kuman dan penyakit. Bahkan, beberapa di antaranya melarang orang-orang mencium atau menyentuh buah hatinya. Padahal, terdapat sebuah teori bahwa terlalu menjaga kebersihan bayi bisa menyebabkan masalah lain, seperti kulit sensitif.

Lantas, bagaimana kebenaran teori ini? Apakah terlalu higienis justru membuat kulit bayi jadi sensitif dan lebih rentan dengan penyakit? Simak ulasan wawancara dengan dr. Srie Prihianti, Sp.KK berikut ini.

Terlalu higienis bikin kulit bayi sensitif, benarkah?

kulit sensitif pada bayi

Ketika ditemui tim Hello Sehat di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, pada Kamis (1/8), dr. Srie Prihianti, Sp.KK menjelaskan mengenai hal ini.

“Hal ini sebenarnya sudah menjadi diskusi para ahli sejak dahulu. Kita mengenalnya dengan istilah hygiene hypothesis, yaitu teori yang menyatakan bahwa sistem kekebalan tubuh bayi tidak dapat berkembang secara maksimal jika lingkungannya terlalu bersih,” jawabnya.

Menurut dr. Srie, begitu bayi dilahirkan, sistem imun yang ada di kulit harus belajar membentuk antibodi dengan cara menyesuaikan diri di lingkungan sekitar.

Ini artinya, sistem imun harus memiliki kemampuan membedakan mana bakteri yang jahat dan baik untuk tubuh.

Apabila kebersihan bayi terlalu dijaga secara berlebihan, sistem imun tubuhnya tidak dapat mengenali bakteri atau kuman yang jahat.

Akibatnya, antibodi di dalam tubuh bayi tidak dapat bekerja secara maksimal untuk membunuh bakteri jahat.

“Lingkungan yang terlalu steril dapat memperparah kulit sensitif pada bayi karena sistem imun tubuhnya tidak terbiasa mengenali kuman dan bakteri yang jahat. Masalah-masalah kulit akibat paparan kuman dan bakteri akan lebih mudah muncul, seperti ruam dan eksim,” lanjut dr. Srie.

Dokter yang juga mengetuai Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia (KSDAI) ini menambahkan, kasus eksim sangat jarang ditemukan pada bayi-bayi yang tinggal di lingkungan pedesaan dibanding dengan di kota.

“Paparan terhadap lingkungan, baik yang bersih maupun kotor, sebetulnya penting untuk mengembangkan sistem imunitas. Namun, bukan berarti saya menyarankan orangtua untuk membiarkan anaknya terpapar lingkungan yang kotor, ya. Yang terpenting adalah bersih secukupnya, tidak perlu terlalu steril,” tutur dr. Srie.

Bagaimana cara mencegah kulit sensitif pada bayi?

kulit bayi terlalu higienis

Dokter Srie menjelaskan bahwa kondisi kulit sensitif pada bayi sebenarnya sangat wajar. Ketika bayi lahir, kulitnya memang 30% jauh lebih sensitif dibanding kulit orang dewasa.

Hal ini disebabkan oleh fungsi proteksi dan keseimbangan mikroorganisme pada kulit masih jauh dari sempurna. Yang membedakan hanyalah beberapa kulit bayi memang jauh lebih sensitif dibanding bayi-bayi lainnya.

“Sensitivitas kulit bayi juga dipengaruhi oleh faktor keturunan, misalnya memiliki keluarga dengan riwayat alergi terhadap makanan tertentu,” jelasnya.

Agar kulit bayi tidak terlalu sensitif, hal terpenting yang harus diperhatikan para orangtua adalah perawatan dasar kulitnya dengan memilih produk yang tepat.

Produk perawatan kulit bayi yang dipilih harus memenuhi dua syarat mendasar, yaitu cleansing (membersihkan) dan moisturizing (melembapkan).

Hindari pula menggunakan produk yang terlalu keras dan dapat memicu alergi atau iritasi pada kulit bayi.

“Tidak perlu pula memilih produk yang mengandung bahan antiseptik. Hal tersebut justru dapat berpotensi mengganggu keseimbangan bakteri baik di permukaan kulit bayi. Kalau memilih tisu basah untuk bayi, carilah yang tidak mengandung alkohol,” tutup dr. Srie.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Parfum Bayi Aman Bagi Kulitnya yang Sensitif?

Beberapa ibu memberikan parfum dengan tujuan membuat kulit bayi tetap harum. Namun, apakah parfum bayi cukup aman bagi kulitnya yang masih halus dan rentan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 26/10/2019 . 3 menit baca

Cara Memandikan Bayi dengan Kulit Sensitif

Bayi membutukan perhatian khusus saat mandi karena kulitnya yang masih sangat sensitif. Seperti apa cara memandikan bayi dengan kulit sensitif?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 01/08/2019 . 5 menit baca

3 Cara Tepat Merawat Kulit Bayi yang Sensitif

Kulit bayi sensitif sejak lahir. Itu kenapa mereka jadi gampang gatal, kering, dan bersisik. Bagaimana cara merawat kulit bayi yang baru lahir?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 20/11/2018 . 4 menit baca

4 Kebaikan Minyak Zaitun untuk Menjaga Kesehatan Kulit Bayi

Minyak zaitun untuk kulit bayi punya segudang manfaat yang semuanya bisa membantu menjaga kesehatan alami kulit si kecil. Apa saja, ya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Bayi, Perawatan Bayi, Parenting 10/09/2018 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

mencegah ruam popok

Tips Mencegah Ruam Popok Pada Pantat Bayi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 4 menit baca
cara memandikan bayi yang baru lahir

Agar Tidak Bingung, Berikut Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 9 menit baca
sabun untuk kulit bayi sensitif

Cara Memilih Sabun untuk Kulit Bayi yang Sensitif

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 01/05/2020 . 4 menit baca
sabun untuk kulit kering bayi

Ibu, Ini Cara Memilih Sabun dan Perawatan Kulit Kering pada Bayi

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 02/04/2020 . 4 menit baca