Sakit perut pada bayi seringkali membuat orang tua merasa cemas, apalagi jika Si Kecil menjadi lebih rewel dari biasanya. Agar tidak salah langkah, penting bagi orang tua untuk memahami apa saja pemicu sakit perut pada bayi. Simak penyebab bayi sakit perut dan cara menanganinya dalam artikel berikut ini.
Penyebab bayi sakit perut
Bayi yang tiba-tiba rewel, menangis terus-menerus, atau menarik kakinya ke arah perut sering kali menandakan adanya sakit perut. Kondisi ini umum terjadi, terutama pada bayi usia 0 – 12 bulan karena sistem pencernaannya masih berkembang.
Agar orang tua tidak panik, penting untuk memahami penyebab bayi sakit perut serta cara menanganinya dengan tepat.
1. Kolik
Salah satu penyebab bayi sakit perut yaitu kolik. Kondisi ini terjadi ketika bayi menangis berlebihan dan sulit ditenangkan, padahal sebenarnya ia dalam keadaan sehat.
Biasanya terjadi pada bayi usia di bawah 4 bulan. Sampai sekarang, penyebab kolik belum diketahui secara pasti.
Namun, banyak ahli menduga kolik berkaitan dengan sistem pencernaan bayi yang masih berkembang, gas di perut, atau bayi yang masih beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Itu sebabnya kolik sering terlihat seperti sakit perut, bayi kembung, wajah memerah, dan menarik kakinya padahal tidak selalu ada nyeri perut yang serius.
2. Perubahan pola makan
Perubahan pola makan, terutama saat bayi mulai MPASI bisa membuat sistem pencernaannya perlu waktu untuk beradaptasi sehingga meningkatkan risiko bayi sakit perut.
Dari yang sebelumnya hanya menerima ASI, kini saluran cerna bayi mulai mengenal tekstur, rasa, dan jenis makanan baru.
Proses adaptasi ini kadang memicu perut terasa tidak nyaman, seperti kembung, lebih sering kentut, atau perubahan pola BAB.
Kondisi ini umumnya masih normal dan bersifat sementara. Pada beberapa bayi, keluhan ini juga bisa muncul berulang selama masa awal pengenalan MPASI.
3. Gas berlebihan
Gas berlebih merupakan penyebab umum bayi sakit perut. Pada bayi baru lahir, gas bisa terasa sangat tidak nyaman karena sistem pencernaannya masih belajar mengenali sensasi tersebut sekaligus cara mengeluarkannya.
Penumpukan gas di perut dapat membuat bayi rewel dan tampak kesakitan, meski kondisi ini sebenarnya tidak berbahaya.
Keluhan akibat gas biasanya paling sering terjadi saat bayi berusia 6 – 8 minggu.
Seiring bertambahnya usia dan matangnya sistem pencernaan, keluhan ini umumnya akan membaik secara signifikan saat bayi menginjak usia sekitar 3 bulan.
4. Alergi
Alergi juga bisa menjadi salah satu penyebab bayi mengalami sakit perut.
Kondisi ini terjadi ketika sistem imun bayi bereaksi berlebihan terhadap zat tertentu, paling sering protein susu sapi, baik dari susu formula maupun dari ASI yang dikonsumsi ibu.
Reaksi alergi dapat memengaruhi saluran pencernaan dan menimbulkan keluhan seperti perut kembung, diare, muntah, atau bayi sangat rewel setelah menyusu.
Selain susu, sakit perut karena alergi juga bisa disebabkan oleh makanan, seperti telur, kacang-kacangan, kedelai, gandum, ikan, dan makanan laut.
5. Sembelit
Jika bayi Anda mengalami buang air besar yang keras, jarang, dan terlihat kesusahan saat mengejan, kemungkinan ia mengalami sembelit.
Gejala umum sembelit pada bayi meliputi sakit perut, muntah, bayi menjadi lebih rewel, hingga nafsu makan yang berkurang.
Kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, seperti dehidrasi, penyakit tertentu, perubahan pola makan, atau peralihan dari ASI ke makanan padat.
Saat sembelit, feses yang keras dapat menimbulkan rasa nyeri sehingga bayi tampak tidak nyaman dan sering menangis.
Pada beberapa bayi, sembelit juga dapat menyebabkan perut terasa kembung dan tegang. Bila berlangsung berulang atau dalam waktu lama, sembelit dapat mengganggu aktivitas dan kenyamanan bayi sehari-hari.
6. Infeksi saluran pencernaan
Infeksi saluran pencernaan merupakan salah satu penyebab bayi mengalami sakit perut yang perlu diwaspadai.
Kondisi ini umumnya disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang masuk melalui makanan, minuman, atau peralatan makan yang kurang higienis.
Infeksi tersebut dapat mengiritasi saluran cerna dan menimbulkan keluhan seperti nyeri perut, diare, muntah, serta bayi menjadi lebih rewel dari biasanya.
Pada sebagian bayi, infeksi juga dapat disertai demam dan penurunan nafsu makan. Akibat cairan yang banyak keluar melalui muntah atau diare, bayi berisiko mengalami dehidrasi.
7. GERD
GERD merupakan salah satu masalah pencernaan bayi yang menyebabkan bayi sakit perut. Kondisi ini terjadi ketika isi lambung naik kembali ke kerongkongan, bahkan hingga ke mulut.
Pada bayi, refluks lebih sering terjadi karena otot penahan antara lambung dan kerongkongan belum berkembang sempurna.
Akibatnya, bayi bisa sering muntah meski tetap tampak sehat dan tidak menunjukkan tanda penyakit lain.
Dikutip dari Healthy Children, gejala refluks biasanya memuncak pada usia 4 – 6 bulan, lalu berangsur membaik seiring bertambahnya usia.
Pada sebagian besar bayi, refluks akan hilang dengan sendirinya sebelum usia satu tahun.
Cara menangani sakit perut pada bayi
Cara menangani sakit perut pada bayi perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Namun, ada beberapa langkah umum yang bisa membantu meredakan ketidaknyamanan yaitu sebagai berikut.
- Menggendong bayi dengan posisi tegak untuk membantu pencernaan dan mengurangi rasa tidak nyaman.
- Memijat perut bayi secara lembut dengan gerakan memutar contohnya pijat ILU
- Memastikan bayi bersendawa setelah menyusu agar gas tidak terperangkap di perut.
- Menenangkan bayi dengan suasana yang nyaman dan tidak bising.
- Mengamati pola menyusu, makan, dan buang air besar bayi untuk mengenali pemicunya.

Jika bayi terlihat sangat tidak nyaman, terus-menerus rewel, atau sakit perut disertai gejala lain seperti demam, muntah berulang, diare, feses berdarah, atau tidak mau menyusu, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter anak.
Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya dan memberikan penanganan yang tepat sesuai kondisi bayi.
























