5 Panduan Mengatasi Anak yang Berbicara Kasar

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Agustus 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Apakah Anda memiliki anak yang suka membantah atau berbicara kasar kepada Anda atau pada orang lain? Saat ini sudah tidak heran jika anak-anak menjadi sangat kritis. Banyak bertanya adalah hal yang baik untuk dilakukan anak-anak. Bahkan ketika anak Anda menjadi aktif berbicara, Anda tidak boleh menyuruhnya diam. Namun, terkadang anak-anak mengimitasi sesuatu yang menurut kita adalah esuatu yang tidak baik. Contohnya, ketika anak-anak sudah bisa melakukan sarkasme, melakukan sesuatu yang tidak sopan (seperti memutar bola mata ketika Anda menasehatinya), atau berkata kasar ketika diberi tahu atau jika keinginannya tidak tercapai.

Terkadang, ketika anak-anak berbicara kasar kepada Anda untuk menyerang Anda agar memilki kendali atas diri Anda. Ada juga yang berkata kasar sebagai ekspresi dari emosinya ketika ada sesuatu yang tidak dia setujui, merasa sesuatu yang terjadi pada dirinya tidak adil, atau ketika ia merasa semua orang tidak mengerti dirinya. Lalu, bagaimana cara untuk menanganinya?

Apa saja yang dapat dikategorikan sebagai berbicara kasar?

Ada beberapa kata-kata yang memang tidak dapat diterima dalam masyarakat dan dinilai sebagai omongan tidak pantas. Anak-anak terkadang mengimitasi kata-kata tersebut dari lagu, film, internet, dan acara televisi. Pada masa yang canggih seperti saat ini memang kemajuan teknologi membawa manfaat untuk perkembangan anak, salah satunya anak-anak bisa belajar dari beberapa sumber yang berbeda. Namun, kemajuan zaman juga dapat membuat anak menjadi terlalu bebas dalam menerima informasi dan kurang menyaring informasi yang ia dapatkan.

Sering kali, budaya populer mengajarkan anak-anak bahwa berbicara kasar kepada satu sama lain adalah hal yang keren, anak-anak pun tertarik pada sesuatu yang dianggap ‘keren’. Ada beberapa kategori berbicara kasar yang seperti sumpah serapah, berteriak, menolak perintah Anda (sebagai orangtuanya), memanggil nama Anda (sebagai orangtuanya). Hal ini termasuk ke dalam perlakuan tidak sopan. Ada pun perlakuan tidak sopan lainnya dapat berupa berlaku menyebalkan ketika mencoba membuat kesepakatan dengannya, sampai pada kekerasan verbal disertai perlakuan kasar. Namun, menurut beberapa sumber, perlakuan tidak sopan yang dilakukan oleh remaja dewasa adalah hal yang wajar, sebab pada tahap ini remaja dewasa ingin memisahkan dari orangtua dan ingin menjadi dirinya sendiri.

Bagaimana cara mengatasi anak yang berbicara kasar dan melakukan hal tidak sopan lainnya?

Perlakuan tidak sopan datang dari anak-anak yang tidak tahu cara menyelesaikan masalah dan belum sadar benar pentingnya saling menghormati. Apalagi ketika keseharian anak-anak biasanya terpisah dari orangtua, saat itu mereka mencari tahu sendiri bagaimana melakukannya dengan benar. Sudah menjadi tugas orangtua untuk selalu membimbing anak-anak agar lebih menghomati dan menghargai sesama. Apa saja yang bisa Anda lakukan?

1. Jangan diambil hati

Anda memang bisa saja sakit hati karena ucapan anak, namun Anda perlu mengingat bahwa emosi anak-anak memang belum stabil, dia bisa meledak-ledak kapan saja. Daripada membiarkan diri Anda sakit hati dan marah, sebaiknya Anda bisa langsung mengatakannya tidak boleh berkata seperti itu secara tegas saat ia memang sudah melewati batasan. Anda bisa berbicara tegas dan baik-baik, “Jangan berbicara seperti itu!”, lalu jangan biarkan anak Anda membalasnya. Sesudah berbicara tegas, segera berbalik dan pergi dari ruangan yang sama dengan anak.

Anda sebaiknya memberi tahu secara langsung bahwa perilakunya salah. Jika ia tidak mau mendengarkan, Anda bisa gunakan hukuman yang ‘menakut-nakutinya’, seperti ketika ia mengulangi lagi perbuatannya, maka ia akan dilarang bermain dengan gadget, sampai ia berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. Tidak masalah jika anak Anda tidak menyukai aturan ini, yang terbaik adalah memberi tahu apa yang baik dan tidak untuk dilakukan. Tanyakan juga pada diri Anda sendiri, apa yang ingin Anda ajarkan kepada anak Anda.

2. Persiapkan diri Anda

Suatu saat anak Anda akan tumbuh menjadi remaja dewasa. Pada masa ini, remaja memang akan sering melakukan hal yang tidak sopan termasuk berkata-kata kasar. Anda tidak perlu terlibat dalam setiap pertengkaran, itu akan membuatnya semakin keras kepala. Targetkan batasan Anda, sejauh mana Anda perlu berdebat, jika sudah tidak sanggup, berbalik dan tinggalkan perdebatan itu. Terkadang hal tersebut akan membuat anak Anda merasa bersalah. Tentunya sebelum meninggalkan ruangan, sebaiknya Anda menegaskan apa yang bisa diterima dan yang tidak.

Setiap orangtua memiliki batasan yang berbeda-beda untuk anaknya. Pastikan Anda mempersiapkan diri apa yang akan Anda hadapi dan terapkan pada anak Anda. Yakinkan diri Anda bahwa ini adalah sesuatu yang benar untuk dilakukan. Jangan menyerah, ketika anak kembali berkata kasar. Cari kelemahan anak dan Anda bisa memberikan konsekuensinya ketika dia berbuat seperti itu lagi.

3. Coba strategi yang berbeda

Apakah anak Anda semakin membangkang dan berkata tidak sopan kepada Anda? Dia mencoba memegang kendali, inilah saat dialog internal perlu dilakukan. Pertama, Anda harus selalu ingat, jangan ambil hati perkataannya, itu akan membuat Anda terbakar amarah juga dan berakhir pada adu argumen yang buruk. Ketika pertama kali anak Anda berbicara kasar dan tidak lagi takut melakukannya, maka dia akan melakukannya terus-menerus. Tugas Anda adalah membuatnya mengubah perilakunya. Setiap kali cara yang Anda terapkan tidak berhasil, Anda harus mencoba memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya jika hal tersebut terulang kembali. Pikirkan kata-kata untuk menegur yang tidak tertebak oleh anak Anda.

4. Menjadi guru dan pelatih bagi anak

Pikirkan ketika Anda seusia mereka, apa yang Anda inginkan dari orangtua? Apakah Anda ingin didukung oleh orangtua? Ingin diperhatikan? Atau Anda hanya ingin didengar? Menjadi guru berarti Anda harus berusaha melihat dari berbagai sudut pandang, agar anak Anda mau mengikuti Anda. Anda harus membimbingnya dalam berprilaku yang benar dan mendorong mereka untuk berprilaku yang tepat. Tentukan target batasan ketika mereka salah. Poin dari mengubah perilaku anak adalah bukan semata untuk menghormati Anda sebagai orangtuanya, namun agar dia bisa berinteraksi dengan dunia luas tanpa dengan sikap saling menghormati sesama.

Kita pasti mengharapkan bahwa kelak anak akan sukses secara finansial dan dapat diterima di masyarakat, sudah menjadi tugas kita untuk melatih anak agar bisa mencapai mimpinya tanpa harus meremehkan atau melakukan hal yang tidak baik terhadap orang lain.

5. Usahakan untuk tidak menegurnya di depan orang banyak

Seorang guru di sekolah mungkin bisa melakukannya, namun sebagai orangtuanya hal tersebut dapat membuatnya malu. Selain itu bisa jadi dua hal, anak Anda bisa tidak akan mengulanginya lagi, bisa juga prilakunya akan memburuk di masa depan. Sebaiknya Anda menyelesaikan masalah tersebut secara pribadi, anak pun akan lebih fokus mendengarkan, bukan pada perasaan malu ditegur di depan umum.

BACA JUGA:

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Cara Mengatasi Kebiasaan Anak Mengemut Makanan

Kebiasaan anak mengemut makanan dalam waktu lama tanpa menelan, tentu sangat mengganggu. Anda perlu mencoba cara berikut ini untuk mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Anak 1-5 Tahun, Gizi Balita, Parenting 16 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Bebaskan Si Kecil Berjalan “Nyeker” untuk Memperkuat Tulang Kakinya

Melihat si kecil yang sibuk kesana kemari berjalan tanpa alas kaki sering membuat orangtua khawatir. Padahal, jalan nyeker bagus untuk kesehatan anak, lho!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 11 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Berapa Lama Waktu Bermain Video Game yang Pas untuk Anak?

Video game dapat memberi manfaat. Namun tanpa batasan waktu, bermain video game bisa berakibat buruk pada anak. Berapa lama waktu ideal bermain video game?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Orangtua Wajib Rutin Berkomunikasi Dengan Anak?

Komunikasi dengan anak bukan hanya berbasa-basi dan berbicara, tetapi juga mendengarkan keluh kesah anak. Ini adalah kunci penting kualitas hubungan Anda.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Anak 6-9 tahun, Perkembangan Anak, Parenting 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Memahami Tumbuh Kembang Gigi dan Rahang Anak

7 Trik Membujuk Anak Agar Tak Takut ke Dokter Gigi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
menonton tv terlalu dekat

Benarkah Nonton TV Terlalu Dekat, Bisa Bikin Mata Anak Rusak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
bayi pakai empeng isap jempol

Empeng Versus Isap Jempol, Mana yang Lebih Baik untuk Si Kecil?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 21 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
memberikan hadiah ke anak

Aturan Memberikan Hadiah ke Anak Agar Tak Berdampak Negatif

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit