Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Bu, Ini Akibat dan Cara Mengatasi Anak yang Suka Makan Junk Food

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 02/06/2022

    Bu, Ini Akibat dan Cara Mengatasi Anak yang Suka Makan Junk Food

    Anak susah makan menjadi keluhan umum bagi sebagian besar orangtua. Rata-rata dari anak hanya memilih makanan yang mereka suka, seringnya adalah junk food, seperti daging olahan, keripik kentang, permen, atau minuman manis.

    Masalahnya, anak yang suka makanan cepat saji atau junk food berisiko mengalami masalah kesehatan dan tumbuh kembang tertentu. Lantas, apa dampaknya dan bagaimana cara mengatasi anak yang hanya suka makan junk food ini?

    Dampak makan junk food pada kesehatan dan tumbuh kembang anak

    Bernama junk food bukan berarti makanan ini terbuat dari sampah.

    Junk food sendiri diartikan sebagai makanan yang mengandung sedikit nutrisi (vitamin, mineral, dan serat), tetapi banyak lemak jenuh serta tambahan gula dan garam.

    Itu sebabnya, makan junk food terlalu banyak dapat memberi dampak yang buruk bagi kesehatan. Bukan cuma orang dewasa, ini juga berlaku pada kesehatan dan tumbuh kembang anak Anda.

    Lantas, apa saja dampaknya? Berikut adalah beberapa dampak yang mungkin terjadi bila anak suka makan makanan cepat saji.

    1. Obesitas

    berat badan anak obesitas, obesitas karena anak suka junk food

    Tingginya kadar lemak jenuh, gula, garam, serta kalori bisa menyebabkan kenaikan berat badan anak yang tak terkendali.

    Bila terus menerus terjadi, kenaikan berat badan ini tentu bisa mengarah ke obesitas pada anak.

    2. Penyakit kronis

    Tidak berhenti di obesitas. Obesitas dan terlalu banyak makan junk food juga berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan lain atau penyakit kronis, seperti di bawah ini.

    • Diabetes pada anak.
    • Penyakit jantung.
    • Hipertensi pada anak.
    • Kolesterol tinggi pada anak.
    • Kanker pada anak.

    3. Sembelit

    Waspada sembelit pada anak bila ia terlalu sering makan junk food, termasuk makanan cepat saji.

    Pasalnya, asupan lemak jenuh anak menjadi terlalu tinggi, sedangkan seratnya cenderung kurang yang dibutuhkan untuk melunakkan fesesnya.

    4. Mudah lelah

    membantu anak yang hilang pendengaran

    Bukan cuma masalah kesehatan di atas, anak yang suka junk food pun cenderung kurang berenergi dan mudah lelah.

    Ini karena tubuh anak kekurangan vitamin dan mineral yang seharusnya didapatkan dari makanan sehat sebagai modalnya untuk beraktivitas.

    5. Osteoporosis

    Kekurangan vitamin dan mineral akibat makan makanan junk food juga bisa menyebabkan osteoporosis pada anak.

    Ini terutama bila anak mengalami kekurangan kalsium dan vitamin D yang dibutuhkan untuk memperkuat dan mendukung pertumbuhan tulangnya.

    6. Asma, eksim, dan rinitis

    Penelitian pada jurnal Thorax menemukan fakta bahwa terlalu sering makan makanan cepat saji bisa meningkatkan risiko asma, rinitis, dan eksim.

    Anak yang memiliki riwayat medis tersebut pun bisa berkembang semakin parah dan dapat menjadi pemicu gejalanya.

    7. Depresi dan kecemasan

    metode time out

    Suatu penelitian menemukan fakta bahwa pola makan anak yang tak sehat bisa meningkatkan risiko depresi dan kecemasan, termasuk tantrum pada anak.

    Pola makan tak sehat ini termasuk junk food karena rendahnya kandungan nutrisi untuk anak pada makanan tersebut.

    8. Prestasi akademik menurun

    Hal yang juga penting, prestasi akademik anak bisa menurun bila terlalu sering makan makanan cepat saji dan kurang asupan nutrisi yang dibutuhkan.

    Pasalnya, terlalu banyak asupan lemak jenuh diketahui dapat menurunkan fungsi kognitif yang dibutuhkan anak untuk belajar dan mencapai prestasi akademiknya.

    9. Gangguan perilaku

    Bukan cuma terkait akademik, gangguan perilaku pada anak juga bisa terjadi akibat mengonsumsi junk food secara berlebihan.

    Ini karena bagian otak yang mengontrol fungsi kognitif dan perilaku (korteks prefrontal) lebih lama matang, sehingga lebih rentan terhadap lingkungan, termasuk pola makan.

    Pola makan yang tak sehat bisa mengganggu fungsi bagian otak ini, sehingga menimbulkan masalah perilaku, seperti menjadi agresif atau kompulsif.

    Bagaimana cara mengatasi anak yang suka makan junk food?

    vitamin dan mineral anak

    Jangan sampai dampak buruk di atas terjadi pada si kecil. Sebelum terlambat, lakukan cara ini bila anak suka makan junk food.

    • Berikan junk food atau makanan cepat saji hanya dalam porsi kecil agar tidak berlebihan.
    • Jangan berikan makanan tak sehat ini sebagai reward atau hadiah untuk anak.
    • Tetap sajikan makanan yang sehat untuk anak dengan nutrisi yang seimbang, termasuk makanan mengandung protein, serat, karbohidrat, serta ragam vitamin dan mineral.
    • Pilih camilan yang sehat untuk anak, seperti buah-buahan segar, daripada junk food, seperti coklat, permen, atau keripik kentang, yang mengandung garam atau gula tambahan serta lemak jenuh.
    • Jangan berikan minuman dengan pemanis untuk anak, seperti milkshake atau jus. Lebih baik berikan air putih atau susu rendah lemak untuk anak Anda.
    • Jadilah contoh yang baik untuk anak. Bila Anda ingin anak makan makanan yang sehat, Anda pun harus berlaku demikian.
    • Kurangi kalori atau lemak berlebih dalam makanan cepat saji untuk anak Anda. Misalnya, memberikan burger tanpa keju agar kalori dalam makanan tersebut berkurang.
    • Sajikan makanan pendamping yang sehat pada makanan cepat saji anak Anda. Misalnya, berikan salad atau kentang panggang sebagai makanan pendamping burger daripada kentang goreng yang mengandung tinggi lemak jenuh.
    • Jangan paksa si kecil ketika mengganti junk food dengan makanan yang sehat. Kurangi junk food secara perlahan dan tawarkan kembali makanan sehat untuk anak Anda.

    Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, asupan nutrisi untuk anak Anda dapat terjaga meski ia suka makan junk food atau makanan cepat saji. Selamat mencoba, Bu!

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Damar Upahita

    General Practitioner · None


    Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 02/06/2022

    Iklan

    Apakah artikel ini membantu?

    Iklan
    Iklan