backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Si Kecil Sering Lelah? Bisa Jadi karena Anemia Zat Besi

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Fatin Nur Jauhara · Tanggal diperbarui seminggu yang lalu

    Si Kecil Sering Lelah? Bisa Jadi karena Anemia Zat Besi

    Si Kecil mudah lelah walau tidak banyak kegiatan yang dilakukannya? Bunda mungkin merasa bingung dengan kondisi tersebut. Hati-hati, kondisi tersebut menandakan masalah kesehatan pada anak. Untuk lebih jelasnya, berikut penyebab anak mudah lelah dan cara mengatasinya. 

    Mengapa anak mudah lelah?

    Anak yang usianya kurang dari lima tahun, umumnya belum bisa mengeluhkan rasa lelah yang terjadi pada tubuhnya. 

    Oleh sebab itu, kondisi lelah pada anak biasanya disadari orang tua saat terjadi perubahan perilaku, seperti tidak semangat beraktivitas, malas, mudah marah, dan sensitif.

    Banyak faktor yang bisa menyebabkan anak menjadi lelah, mulai dari rasa lapar hingga aktivitas yang padat. 

    Kondisi tersebut umumnya bisa diatasi dengan memberikan makanan yang sehat dan beristirahat. 

    Namun, bila penyebab anak mudah lelah bukan karena dua hal tersebut, orang tua patut curiga adanya kondisi lain yang mendasari rasa lelah pada anak.

    Berikut adalah beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab anak mudah lelah yang perlu orangtua perhatikan.

    1. Gangguan tidur

    Salah satu penyebab anak mudah lelah yang paling sering terjadi adalah adanya gangguan tidur, sehingga ia tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup

    Padahal, anak dibawah lima tahun setidaknya memerlukan 10 jam waktu tidur di malam hari.

    Gangguan tidur bisa terjadi karena beberapa hal, seperti:

    • tidur terlalu malam,
    • sering terbangun saat tidur, dan
    • mengalami sleep apnea (napas berhenti sejenak saat tidur).

    2. Infeksi akut

    Adanya infeksi akut dapat menjadi penyebab anak mudah lelah, misalnya infeksi saluran pernapasan atas, seperti flu, pilek, dan batuk. 

    Saat terjadi infeksi, daya tahan tubuh si Kecil akan bekerja melawan virus penyebab penyakit. Kondisi ini dapat membuat anak mudah lelah atau lemah untuk sementara waktu.

    Saat daya tahan tubuh berhasil melawan infeksi, kondisi lelah umumnya akan hilang sehingga si Kecil dapat beraktivitas seperti semula. 

    3. Anemia defisiensi zat besi

    Anemia defisiensi zat besi merupakan jenis anemia yang paling sering terjadi pada anak-anak. Menurut Kementerian Kesehatan RI, satu dari tiga anak Indonesia yang berusia kurang dari lima tahun rentan alami anemia. 

    Anemia defisiensi zat besi terjadi saat tubuh kekurangan nutrisi zat besi sangat banyak, sehingga tubuh tidak mampu memproduksi hemoglobin. 

    Tanpa hemoglobin yang cukup, darah akan sulit mendistribusikan oksigen kepada sel-sel tubuh sehingga menyebabkan beberapa gejala, seperti mudah lelah, lemah, dan napas pendek.

    Tahukah Anda?

    Anemia defisiensi zat besi perlu menjadi perhatian bagi orang tua. Pasalnya, selain menyebabkan anak mudah lelah, anemia defisiensi besi berpotensi menghambat pertumbuhan kognitif, motorik, sensorik, dan sosial anak.

    Zat besi merupakan salah satu nutrisi penting yang berperan dalam proses pembentukan selubung saraf otak. 

    Saat anak kekurangan nutrisi ini maka pertumbuhan cabang otak terancam terhambat sehingga si Kecil akan sulit memproses informasi.

    Kondisi tersebut akan berdampak pada perkembangan si Kecil menjadi terlambat dari anak-anak seusianya.

    Cara mengatasi kondisi mudah lelah pada anak

    Kondisi mudah lelah pada anak merupakan gejala yang perlu diatasi dengan baik. Pasalnya, kondisi yang tidak ditangani dengan baik dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

    Bahkan, bila tidak tertangani dengan baik, bisa memperparah kesehatannya bila ada penyakit bawaan. Beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mengatasi lelah pada anak, berikut penjelasannya.

    1. Istirahat yang cukup

    Untuk mengatasi kondisi mudah lelah pada anak yang pertama adalah memastikan bahwa anak mendapatkan waktu tidur yang cukup setidaknya selama 10 jam di malam hari. 

    Bagi anak yang kesulitan untuk tidur, orang tua mungkin bisa melakukan beberapa langkah, seperti di bawah ini.

    • Ikuti rutinitas sebelum tidur, misalnya sikat gigi, mematikan gadget satu jam sebelum tidur, membaca buku cerita, dan kemudian tidur.
    • Atur kamar senyaman mungkin untuk tidur, mulai dari suhu, sprei, selimut, dan lampu.
    • Pastikan si Kecil memiliki jadwal tidur dan bangun yang konsisten setiap harinya.

    Bila si Kecil telah mengikuti tips diatas tetapi gangguan tidur masih terjadi, seperti mendengkur keras atau sering terbangun di tengah malam, ada baiknya untuk memeriksakan si Kecil ke dokter.

    2. Cukupi kebutuhan nutrisi

    Menerapkan pola makan yang sehat dan bergizi juga bisa menjadi cara untuk mengatasi kondisi anak mudah lelah. 

    Pasalnya, nutrisi yang tercukupi dari asupan makanan yang sehat dan bergizi akan memberikan tambahan energi sehingga si Kecil dapat menjalani aktivitasnya sepanjang hari.

    Salah satu nutrisi yang perlu dipenuhi adalah zat besi. Nutrisi ini bisa didapatkan dari konsumsi makanan yang tinggi zat besi, seperti daging merah, ayam, ikan, telur, tahu, dan sayuran hijau.

    Nah, untuk memaksimalkan penyerapan zat besi dalam tubuh, anak membutuhkan asupan vitamin C. Vitamin C bisa didapatkan dari konsumsi beberapa buah-buahan, seperti jeruk, kiwi, nanas, dan stroberi.

    Orang tua juga bisa mengoptimalkan kebutuhan zat besi harian si Kecil dengan memberikan susu pertumbuhan yang difortifikasi dengan zat besi dan vitamin C. 

    Menurut penelitian, konsumsi rutin susu tersebut sebanyak 2 gelas sehari, bantu anak mencukupi 100% kebutuhan zat besi harian,

    Tak hanya kaya zat besi dan vitamin C, susu pertumbuhan umumnya dilengkapi dengan DHA, minyak ikan, omega 3&6, protein, tinggi kalsium, vitamin D, zinc, dan serat pangan. 

    Kandungan yang lengkap dalam susu pertumbuhan ini dapat membantu si Kecil terhindar dari gejala lelah karena anemia zat besi sekaligus membantunya tumbuh dengan maksimal. 

    Meski demikian, perlu diingat bahwa konsumsi susu yang difortifikasi zat besi tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan, maksimal 500 ml sehari. 

    Pasalnya, memberikan susu secara berlebihan dapat membuat anak cepat kenyang dan membuat konsumsi makanan kaya zat besi berkurang.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Carla Pramudita Susanto

    General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


    Ditulis oleh Fatin Nur Jauhara · Tanggal diperbarui seminggu yang lalu

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan