Apa Akibatnya Kalau Tidak Mengikuti Aturan Minum Obat dari Dokter?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 16 April 2018 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Saat jatuh sakit, Anda perlu segera minum obat untuk mempercepat proses pemulihan. Selain dengan berobat ke dokter, beberapa dari Anda cenderung memilih untuk membeli obat di apotek atau lebih praktisnya dengan mengambil sisa obat-obatan sebelumnya yang dirasa ampuh mengobati penyakit Anda. Hal ini jelas dilakukan di luar pengawasan dokter. Lantas, apa akibatnya kalau tidak mengikuti aturan minum obat dari dokter? Berikut penjelasan lengkapnya.

Ini akibatnya kalau tidak mengikuti aturan minum obat dari dokter

Ketika Anda dianjurkan untuk minum obat, artinya Anda wajib mengikuti aturan minum obat yang sudah disarankan. Ini termasuk untuk mematuhi dosis, cara, dan waktu minum obat. Menurut Kimberly DeFronzo, R.Ph., M.S., M.B.A. dari Center for Drug Evaluation and Research, mengikuti aturan minum obat dari dokter sangat penting. Terlebih bagi Anda yang mengidap penyakit kronis yang tidak boleh melewatkan obat rutin sekalipun.

Sederhananya, minum obat yang tidak sesuai dengan aturan dari dokter dapat membuat penyakit Anda justru tambah parah. Jika terus berlanjut, tentu ini dapat memungkinkan Anda sampai harus dirawat di rumah sakit, atau bahkan berujung kematian.

Lupa minum obat, menambah atau mengurangi dosis, sembarangan meletakkan obat termasuk kesalahan yang perlu dihindari. Dilansir dari Food and Drugs Administration di Amerika Serikat yang setara dengan Badan POM di Indonesia, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan bahwa sembarangan minum obat menyebabkan 30-50 persen kegagalan pengobatan dan 125.000 kematian per tahun.

Salah satu contohnya, sebanyak 25-50 persen pasien yang berhenti mengonsumsi statin (obat penurun kolesterol) selama satu tahun meningkatkan risiko kematian hingga 25 persen.

obat penyakit parkinson

Aturan minum obat yang sering dilanggar

1. Minum obat sisa

Ini sering dilakukan untuk mengobati masalah kesehatan yang cukup ringan seperti sakit kepala, nyeri otot, mual, atau flu. Biasanya, obat-obatan ini tersisa karena memang tidak perlu dihabiskan bila gejala penyakit sudah berhenti atau sembuh.

Kebiasaan ini mungkin tidak terlalu membahayakan atau berakibat fatal, tapi terkadang justru tidak membantu. Pasalnya, bisa jadi saat ini Anda sebenarnya mengidap penyakit yang berbeda dengan penyakit sebelumnya, hanya saja gejalanya mirip. Akibatnya obat sisa yang Anda minum tidak akan mempan.

2. Mengurangi atau menambah dosis obat

Aturan minum obat dari dokter sudah dibuat sedemikian rupa agar hasilnya efektif buat Anda. Mengurangi dosis bisa membuat khasiat obat jadi kurang efektif. Bila terus dibiarkan, ini akan sangat berbahaya dan malah membuat penyakit tambah parah.

Pada kasus lain, Anda mungkin merasa obat yang Anda minum tidak memberikan efek yang signifikan dalam mengurangi gejala penyakit. Ini sebabnya Anda jadi tergoda untuk menambah dosis obat agar cepat sembuh. Ingat, beberapa obat yang dikonsumsi dalam dosis tinggi dapat menyebabkan overdosis yang membahayakan tubuh.

Maka, penting untuk tetap mematuhi aturan minum obat dari dokter. Kalau Anda ingin mengurangi atau menambah dosis, konsultasikan dulu ke dokter yang meresepkan obat buat Anda.

3. Berhenti minum obat

Dokter mungkin membolehkan Anda berhenti minum obat-obatan tertentu bila sudah merasa sembuh. Di sisi lain, ada beberapa obat yang tidak boleh berhenti diminum secara tiba-tiba, seperti obat antikejang, steroid, obat jantung, dan obat pengencer darah.

Misalnya obat pengencer darah memang tidak memberikan manfaat dalam jangka pendek, tetapi dapat mencegah perkembangan penyakit serius seperti stroke dan serangan jantung di masa yang akan datang. Bila Anda berhenti minum obat pengencer darah karena merasa tidak ada efeknya, ini bisa berakibat fatal bagi kesehatan Anda.

Contoh lainnya adalah minum antibiotik. Ya, antibiotik adalah obat yang harus dihabiskan untuk mencegah bakteri menjadi resistan di dalam tubuh (tidak mempan diobati). Bila Anda mengabaikan aturan minum obat antibiotik, sudah jelas ini akan membuat bakteri dalam tubuh menjadi lebih kuat selanjutnya lebih susah dilawan.

4. Minum obat orang lain

Kesalahan ini biasanya dilakukan apabila ada anggota keluarga lainnya yang lebih dulu sakit dengan keluhan gejala yang sama. Meski gejala penyakitnya sama, riwayat medis dan kemungkinan alergi Anda bisa jadi tidak sama dengan orang lain.

Misalnya Anda minum obat antinyeri punya kakak atau adik Anda untuk mengobati sakit kepala, padahal Anda punya refluks asam lambung (GERD atau maag). Beberapa jenis obat antinyeri tidak ramah di lambung. Maka bukannya mengobati sakit kepala, obat tersebut malah menyebabkan gejala maag kambuh.

Belum tentu juga khasiat obat akan memberikan efek yang sama pada tubuh Anda. Karena itulah Anda tidak dianjurkan untuk minum obat orang lain walaupun gejala penyakit yang dirasakan mirip.

jenis obat yang merusak hati

Tips mudah agar patuh mengikuti aturan minum obat sesuai resep

Mengikuti aturan minum obat dari dokter sangat penting untuk mengendalikan gejala penyakit kronis dan mempercepat proses pemulihan penyakit. Bila Anda masih bingung tentang bagaimana aturan minum obat yang baik dan benar, segera kunjungi apoteker atau dokter untuk minta dijelaskan. Sebab hanya Anda sendiri yang bisa mengendalikan kepatuhan minum obat.

Berikut adalah tips mudah mengikuti aturan minum obat agar tak lagi terlewatkan oleh Anda:

  1. Pasang alarm agar Anda minum obat di waktu yang sama setiap hari.
  2. Minum obat di sela-sela rutinitas sehari-hari, seperti habis menggosok gigi atau sebelum tidur. Pastikan dulu apakah obat tersebut harus diminum sebelum atau sesudah makan.
  3. Gunakan wadah khusus untuk menaruh obat. Ini berfungsi untuk memudahkan Anda memisahkan setiap obat dengan masing-masing dosis dan waktu minum obat, baik saat pagi, siang, atau malam.
  4. Saat bepergian, selalu sertakan obat-obatan Anda di dalam tas yang selalu Anda bawa kemana-mana. Bila perlu, tambahkan jumlah obat agar Anda tidak perlu repot membelinya lagi saat obat habis.
  5. Saat Anda naik pesawat, pastikan obat-obatan Anda berada di dalam tas yang selalu Anda bawa ke mana-mana. Hindari meletakkannya di bagasi karena suhu panas dapat merusak obat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Bisa Sakit Kepala Setelah Cabut Gigi?

Apakah Anda mengalami sakit kepala setelah cabut gigi? Mungkin dua alasan ini penyebabnya. Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Perawatan Gigi, Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Mengenal Jenis-Jenis Yoga dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Yoga adalah salah satu jenis olahraga yang diminati banyak orang. Tapi, apakah Anda tahu apa saja manfaat yoga untuk kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fitriana Deswika
Latihan Kelenturan, Kebugaran 25 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Bahaya Mie Instan Jika Terlalu Sering Dikonsumsi

Mie instan mungkin makanan favorit masyarakat Indonesia, terutama anak kos di akhir bulan. Namun, tahukah Anda bahaya makan mie instan?

Ditinjau oleh: Hello Sehat Medical Review Team
Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Fakta Gizi, Nutrisi 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Hati-hati! Ini 6 Penyakit Berbahaya yang Disebabkan Oleh Tikus

Tikus terkenal sebagai hewan yang jorok karena bisa menyebabkan penyakit. Berikut adalah beberapa penyakit yang disebabkan oleh tikus yang perlu diwaspadai.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi 24 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

bakteri asam laktat

5 Makanan dan Minuman Sehat yang Mengandung Bakteri Asam Laktat

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
wanita berbulu lebat nafsu tinggi seks

Benarkah Wanita Berbulu Lebat Nafsu Seksnya Tinggi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Satria Perdana
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
tidak tumbuh jenggot dan kumis

Penyebab Kumis dan Jenggot Tidak Tumbuh pada Sebagian Pria

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
obat sariawan

Benarkah Obat Kumur Bisa Mengobati Sariawan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit