Apakah Aman Minum Obat Resep Setiap Hari Dalam Waktu Lama?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Banyak penyakit kronis yang mewajibkan penderitanya untuk minum obat resep setiap hari, seperti arthritis, diabetes, hipertensi, hingga HIV/AIDS. Beberapa penyakit membutuhkan kepatuhan pengobatan karena penyakitnya tidak bisa disembuhkan dan hanya bisa dikontrol agar Anda bisa berfungsi normal seperti orang sehat pada umumnya, misalnya diabetes dan hipertensi. Penyakit lainnya membutuhkan jadwal minum obat resep yang rutin karena jangka waktu pengobatannya yang panjang (misal, TB dan kusta/lepra).

Tapi banyak orang yang berpikir bahwa obat resep untuk penyakit kronis hanya perlu diminum ketika mereka sudah mengalami gejala parah. Banyak juga pasien yang mengira bahwa obat-obatan yang mereka gunakan tak memberikan cukup perbaikan pada kondisi mereka sehingga sering kali memilih untuk tidak meminumnya dengan alasan takut mengalami kerusakan ginjal akibat mengonsumsi obat resep yang sama terus-terusan.

Padahal, jika Anda sering melewatkan dosis obat resep Anda atau Anda tidak mengonsumsinya seperti yang telah direkomendasikan dokter, bukan cuma penyakit Anda yang jadi makin tak terkendali — namun juga melipatgandakan risiko Anda untuk komplikasi yang bisa berakibat fatal.

Pentingnya mengikuti jadwal dan dosis obat resep dari dokter

Kepatuhan pengobatan berarti kewajiban mengonsumsi obat yang telah diresepkan oleh dokter. Artinya, takaran dosis obat Anda harus tepat, dikonsumsi di waktu yang tepat, dengan cara yang tepat, frekuensi yang telah ditetapkan, dan selama yang diperlukan. Mengapa ini penting? Sederhananya, tidak minum obat yang diresepkan oleh dokter atau diperintahkan oleh seorang apoteker bisa menyebabkan penyakit Anda semakin parah, rawat inap, bahkan kematian.

Masuk akal untuk berpikir bahwa setelah Anda berhasil mengelola penyakit Anda dengan baik, itu berarti akhir dari cerita: Anda sudah terbebas dari penyakit. Tapi tidak demikian. Beberapa penyakit adalah kondisi seumur hidup, dan jika Anda perlu untuk mengonsumsi obat-obatan, Anda mungkin akan perlu untuk tetap menggunakannya sepanjang sisa hidup Anda — dengan beberapa perubahan di sana-sini tergantung dari kebutuhan/perkembangan penyakit Anda.

Apa yang akan terjadi kalau berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter?

Bahkan jika Anda merasa baik-baik saja, jangan berhenti minum obat resep kecuali Anda mendapat persetujuan dokter setelah berkonsultasi. Menghentikan dosis obat terlalu dini dapat menyebabkan penyakit untuk kembali, membuatnya lebih sulit untuk diobati atau menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan.

Orang dengan diabetes tipe 1, misalnya, tidak mampu membuat insulin mereka sendiri, sehingga mereka akan selalu perlu disuntik insulin setiap hari. Beberapa orang dengan diabetes tipe 2 menggunakan obat untuk menjaga gula darah mereka supaya tetap di ambang sehat, maka penting untuk tetap mengonsumsinya untuk menurunkan kemungkinan penyakit jantung dan masalah kesehatan lainnya.

Dan jika dokter meresepkan obat statin untuk diminum satu kali sehari di malam hari setiap hari guna mengontrol kolesterol/tekanan darah tinggi Anda, Anda wajib mematuhi perintah dokter bahkan ketika tensi Anda sedang tidak kumat. Jika Anda berhenti, tekanan darah bisa naik lagi. Dilansir dari FDA, dua puluh lima sampai 50 persen dari pasien yang diobati dengan statin yang menghentikan terapi mereka dalam satu tahun memiliki hingga 25 persen peningkatan risiko kematian.

Apakah aman minum obat resep yang sama setiap hari?

Banyak orang yang sengaja tidak meminum obat resep mereka atau justru mengutak-atik resepnya sendiri, dengan alasan takut mengalami kerusakan ginjal akibat mengonsumsi obat resep yang sama terus-terusan.

Obat-obatan yang diresepkan dokter merupakan obat terapeutik, yaitu obat yang khusus diresepkan sesuai standar dosis dan jumlah yang aman untuk mengobati penyakit Anda. Konsentrasi bahan aktif obat telah disesuaikan mengikuti kebutuhan tubuh, sehingga Anda bisa menerima khasiat obat dalam potensi maksimalnya tapi dengan reaksi efek samping yang tidak diinginkan atau yang merugikan hanya dalam batas minimum atau tidak sama sekali.

Walau demikian, memang ada beberapa obat yang bersifat toksik untuk kesehatan ginjal dan hati, seperti Rifampicin (obat pneumonia, kusta, TBC) dan beberapa obat-obatan HIV. Pada kasus-kasus seperti ini, dokter akan menjadwalkan pemeriksaan fungsi hati dan ginjal secara berkala untuk memantau kesehatan kedua organ ini.

Dokter memiliki pedoman tersendiri untuk membantu mereka memutuskan obat apa dan seperti apa dosis yang akan digunakan demi memperbaiki kondisi Anda, sehingga tentu dokter tidak akan memberikan dosis yang membahayakan bagi Anda. Oleh karena itu, penting untuk mendiskusikan penggunaan obat ini dan alternatif yang mungkin ada dengan dokter Anda.

Selalu beri tahu dokter jika Anda sedang menggunakan obat lainnya

Jika dokter memberikan obat resep untuk kondisi Anda, cobalah untuk menggali informasi tentang obat itu sebanyak yang Anda bisa, termasuk bagaimana untuk menggunakannya dengan benar, kemungkinan efek samping, dan interaksi obat.

Semua obat memiliki risiko serta manfaat. Manfaat obat adalah bahwa mereka dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan Anda dengan bertindak sesuai fungsinya, misalnya mengobati penyakit, menyembuhkan infeksi, atau menghilangkan rasa sakit. Risiko obat adalah kemungkinan bahwa sesuatu yang tidak diinginkan atau tidak terduga akan terjadi ketika Anda menggunakan obat-obatan tersebut.

Oleh karena itu, selalu beri tahu dokter atau apoteker tentang semua obat-obatan Anda yang pernah dan/atau sedang Anda gunakan mengambil, termasuk produk-produk herbal dan obat nonresep. Pastikan untuk menyertakan produk seperti penghilang rasa sakit, antasida, alkohol, obat herbal, suplemen makanan, vitamin, hormon, dan zat lain yang mungkin tidak terpikir bahwa itu adalah obat-obatan. Informasikan juga seputar riwayat medis dan alergi obat yang Anda miliki. Ini dilakukan demi menghindari kemungkinan terjadinya interaksi obat dan/efek samping yang tidak diinginkan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Jenis Tes untuk Cek Kadar Gula Darah Serta Cara Membaca Hasilnya

Ada berbagai macam jenis cek gula darah untuk pemeriksaan diabetes, seperti gula sewaktu (GDS) atau puasa, dan beberapa lainnya. Bagaimana membaca hasilnya?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Penyakit Diabetes, Gula Darah Normal 19 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Diet Pasien Diabetes untuk Menjaga Pola Makan dan Berat Badan Seimbang

Pasien diabetes perlu diet untuk mencapai berat badan seimbang, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati setiap makanan. Berikut beberapa tipsnya.

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Penyakit Diabetes, Gula Darah Normal 19 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Mengenali Jenis-jenis Penyakit Degeneratif yang Umum Terjadi

Penyakit degeneratif adalah penyakit kronis yang memengaruhi saraf, pembuluh darah, hingga tulang. Cari tahu informasi lengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Lansia, Masalah Kesehatan pada Lansia 18 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Pilihan Beras dan Sumber Karbohidrat Sehat Pengganti Nasi untuk Diabetes

Mengonsumsi sumber karbohidrat seperti beras dapat memengaruhi kadar gula darah diabetes. Lantas, pengganti beras untuk diabetes apa yang sehat?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 15 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Cara Tepat Menyuntik Insulin dan Lokasi Terbaiknya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
manfaat yoga untuk diabetes

4 Manfaat Yoga untuk Diabetesi yang Sayang Jika Dilewatkan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
Buah untuk Diabetes

8 Buah Terbaik yang Aman untuk Gula Darah Pengidap Diabetes

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit