brand logo
Kategori
Cek Kesehatan
Komunitas
Booking Dokter

Iklan

Bagikan

Robotic Knee Surgery Bantu Operasi Penggantian Sendi Lutut Lebih Presisi

Dalam rangka memperingati World Arthritis Day, Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) menyoroti perkembangan teknologi robotic knee surgery sebagai salah satu pilihan penanganan osteoarthritis (OA) atau pengapuran sendi lutut stadium lanjut. Teknologi ini membantu dokter merencanakan dan melakukan operasi penggantian sendi lutut secara lebih presisi.

Robotic Knee Surgery Bantu Operasi Penggantian Sendi Lutut Lebih Presisi

Osteoarthritis dapat menyebabkan nyeri, kekakuan, dan keterbatasan gerak yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Ketika kerusakan sendi sudah berat dan penanganan non-operasi tidak lagi memberikan hasil memadai, operasi osteoarthritis berupa penggantian sendi lutut dapat dipertimbangkan. 

Mengenal osteoarthritis, penyebab nyeri dan kaku pada lutut

Osteoarthritis merupakan kondisi degeneratif ketika tulang rawan yang melapisi ujung tulang di dalam sendi mengalami kerusakan secara bertahap. Akibatnya, gerakan sendi menjadi nyeri dan kaku. Pada kondisi lanjut, ruang sendi dapat menyempit hingga permukaan tulang saling bersentuhan.

Risiko OA meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah 50 tahun. Faktor lainnya meliputi berat badan berlebih, jenis kelamin perempuan, kelainan bentuk kaki seperti O atau X, serta riwayat cedera lutut.

Penanganan OA biasanya dimulai dengan perubahan gaya hidup, pengaturan berat badan, olahraga berdampak rendah, fisioterapi, dan obat-obatan untuk mengendalikan nyeri.

Operasi pengapuran sendi baru dipertimbangkan jika gejala sangat mengganggu kualitas hidup dan penanganan non-operasi tidak memberikan hasil memadai.

Bagaimana robotic knee surgery bekerja?

prosedur robotic knee surgery rspi

Menurut dr. dr. L. Andre Pontoh, Sp. OT (K), dokter spesialis ortopedi konsultan knee and sports medicine di RS Pondok Indah, robotic knee surgery membantu dokter memetakan anatomi lutut dan merencanakan pemasangan implan berdasarkan kondisi pasien.

Pada prosedur total knee replacement, permukaan sendi yang rusak diganti dengan implan. Sistem robotik membantu dokter menyusun rencana operasi, menentukan posisi implan, serta memandu tindakan sesuai anatomi lutut pasien.

Dengan demikian, operasi lutut robotik memungkinkan perencanaan tindakan yang lebih terukur berdasarkan kondisi setiap pasien.

Teknologi ini menawarkan sejumlah potensi keunggulan, antara lain:

  • Presisi lebih tinggi: membantu meningkatkan ketepatan penempatan dan keselarasan implan.
  • Perencanaan yang lebih terukur: dokter dapat menyesuaikan tindakan dengan kondisi anatomi pasien.
  • Penanganan tulang yang lebih terarah: membantu dokter mempersiapkan bagian tulang yang diperlukan untuk pemasangan implan.
  • Mendukung pemulihan fungsi: hasil operasi yang baik, disertai rehabilitasi, dapat membantu pasien kembali beraktivitas.

Meski demikian, robot tidak melakukan operasi secara mandiri. Dokter tetap mengendalikan seluruh prosedur. Teknologi ini juga tidak menjamin pasien bebas komplikasi atau selalu pulih lebih cepat dibandingkan operasi konvensional.

Pada pasien dengan kerusakan yang hanya mengenai satu bagian sendi, dokter juga dapat mempertimbangkan unicondylar knee arthroplasty atau penggantian sendi lutut parsial. Prosedur ini mengganti bagian yang rusak saja jika kondisi pasien memenuhi kriteria medis.

Siapa yang membutuhkan robotic knee surgery?

Indikasi operasi berbantuan robotik pada dasarnya serupa dengan operasi penggantian sendi lutut konvensional. Menurut dr. Andre, beberapa pertimbangan utamanya meliputi:

  • Osteoarthritis stadium lanjut dengan kerusakan sendi berat.
  • Nyeri dan keterbatasan gerak yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Penanganan non-operasi yang tidak lagi memberikan hasil memadai.
  • Kondisi fisik dan kesehatan yang memungkinkan pasien menjalani operasi serta rehabilitasi.

Penyakit penyerta, seperti gangguan jantung, diabetes, riwayat stroke, atau masalah keseimbangan dan gerak, perlu dievaluasi sebelum operasi. Pasien juga harus mampu mengikuti program rehabilitasi agar hasil operasi penggantian sendi lutut optimal.

Dengan demikian, diagnosis OA tidak otomatis berarti seseorang harus menjalani operasi. Keputusan tetap perlu dibuat bersama dokter berdasarkan kondisi sendi, tingkat keluhan, risiko, dan kebutuhan pasien.

Rehabilitasi tetap menjadi kunci pemulihan

Setelah operasi penggantian sendi lutut, pasien perlu menjalani fisioterapi untuk mengembalikan kemampuan bergerak. Latihan umumnya dimulai sedini mungkin sesuai kondisi pasien, termasuk belajar berdiri dan berjalan menggunakan tongkat.

Selanjutnya, rehabilitasi berfokus pada penguatan otot, peningkatan kelenturan lutut, latihan keseimbangan, dan kemampuan berjalan secara mandiri. Pasien juga perlu menjaga berat badan serta meningkatkan aktivitas secara bertahap sesuai arahan dokter dan fisioterapis.

Komplikasi seperti infeksi atau masalah pada implan tetap mungkin terjadi. Karena itu, pemantauan pasca-operasi dan kepatuhan terhadap rehabilitasi sama pentingnya dengan prosedur operasi itu sendiri.

Kisah Bu Tini: kembali berjalan dan bermain dengan cucu

bu tini pasien robotic knee surgery rspi

Bagi Bu Tini, osteoarthritis kedua lutut mulai terasa mengganggu sekitar dua hingga tiga tahun sebelum menjalani operasi pada 15 April di RS Pondok Indah. Awalnya, nyeri hanya muncul setelah berjalan jauh. Ia mengira keluhan tersebut merupakan bagian dari proses penuaan sehingga memilih beristirahat ketika rasa sakit datang.

Namun, seiring waktu, nyeri semakin membatasi aktivitasnya. Perjalanan jauh dengan mobil menjadi tidak nyaman, terutama ketika harus berdiri setelah duduk dalam waktu lama. Perjalanan menggunakan pesawat pun terasa semakin berat.

Ketika berlibur bersama suaminya, kondisi lutut Bu Tini terlihat semakin mengganggu. Ia kemudian menjalani pemeriksaan dan mengetahui bahwa osteoarthritis yang dialaminya telah mencapai stadium 4.

Dokter menyarankan operasi karena kerusakan sendi sudah berat. Bu Tini juga mencari informasi dan mempertimbangkan pendapat lain sebelum memutuskan menjalani tindakan.

Teknologi robotik menjadi salah satu hal yang membuatnya lebih bersemangat menghadapi operasi. Setelah berdiskusi dengan keluarga dan mempelajari informasi yang tersedia, ia memutuskan untuk menjalani prosedur tersebut.

Pada hari kedua setelah operasi, ia sudah mulai belajar berjalan dengan bantuan tim medis. Fisioterapi kemudian dilanjutkan setelah ia pulang dari rumah sakit.

Proses pemulihan tetap membutuhkan usaha, termasuk menjaga berat badan dan menjalani latihan secara konsisten. Bagi Bu Tini, motivasi untuk kembali aktif menjadi alasan penting untuk melewati tahap tersebut.

Tapi karena saya niat pengin bisa tetap beraktivitas lancar seperti biasa, dan yang utama, memang niat mau jalan-jalan, jadi saya harus sehat.

Bu Tini, pasien robotic knee surgery di RSPI

Sebelum operasi, ia kesulitan berjalan jauh, bahkan kegiatan jalan pagi yang biasa dilakukan menjadi terbatas. Ia juga merasa sedih karena tidak bisa bermain dengan cucunya seperti sebelumnya.

Setelah menjalani operasi dan rehabilitasi, Bu Tini mulai kembali melakukan aktivitas yang sempat terhenti. Ia menceritakan bahwa dirinya sudah bisa berjalan sekitar 3 kilometer saat jalan pagi dan kembali bermain bersama cucu.

Pengalaman Bu Tini menunjukkan bahwa tujuan operasi pengapuran sendi bukan sekadar menyelesaikan prosedur, melainkan mengembalikan kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas yang bermakna bagi kehidupannya. Meski demikian, hasil dan kecepatan pemulihan setiap pasien dapat berbeda.

Jangan terburu-buru memilih terapi atau operasi

Berbagai pilihan terapi sering ditawarkan untuk mengatasi osteoarthritis, mulai dari suplemen glukosamin, suntikan ke dalam sendi, hingga terapi regeneratif. Namun, bukti manfaatnya berbeda-beda dan tidak semuanya dapat memperbaiki kerusakan sendi yang sudah berat.

Glukosamin, misalnya, belum memiliki bukti kuat yang menunjukkan manfaatnya untuk mengatasi osteoarthritis. Sementara itu, suntikan tertentu mungkin memberikan perbaikan gejala dalam jangka waktu terbatas, tetapi tidak berarti mampu mengembalikan tulang rawan yang sudah rusak.

Terapi seperti stem cell juga tidak boleh dianggap sebagai cara yang pasti dapat menumbuhkan kembali tulang rawan atau menggantikan operasi pada semua pasien. Manfaat dan keterbatasan setiap terapi perlu dibahas bersama dokter berdasarkan bukti ilmiah dan kondisi pasien.

Begitu pula dengan robotic knee surgery. Teknologi ini merupakan salah satu pilihan operasi penggantian sendi lutut, bukan terapi yang dibutuhkan setiap penderita osteoarthritis.

Pada akhirnya, pengambilan keputusan harus berpusat pada kebutuhan pasien. Selama nyeri masih dapat dikendalikan dan fungsi sendi cukup baik, penanganan non-operasi dapat menjadi pilihan.

Jika kerusakan sendi sudah berat dan keluhan sangat membatasi kualitas hidup meski berbagai terapi telah dicoba, operasi dapat dipertimbangkan bersama dokter spesialis ortopedi.

Tujuan utamanya bukan sekadar mengganti sendi yang rusak dengan teknologi terbaru, tetapi membantu pasien kembali bergerak dengan lebih nyaman, aman, dan mandiri.

medical
Hello Sehat Medical Review Team
Ditinjau secara medis oleh
Kesehatan · None
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari · Tanggal diperbarui 2 hari lalu