Mana Sumber Karbohidrat yang Lebih Sehat: Ubi Jalar atau Kentang?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Kalau disuruh memilih antara kentang dan ubi jalar, Anda pilih yang mana? Keduanya punya bentuk, rasa, serta nutrisi yang berbeda-beda. Kentang serta ubi jalar pada dasarnya berasal dari tanah yang sama yaitu Amerika bagian Selatan, walaupun mereka bukan tumbuhan dengan jenis yang sama. Kira-kira, mana yang menjadi pilihan Anda? Simak perbandingannya di bawah ini.

Perbandingan antara kentang dan ubi jalar

1. Ukuran

Saat membandingkan informasi gizi untuk makanan, penting untuk menggunakan jumlah porsi yang sama untuk mengukur nilainya. Hitungan ini diambil dari dari data United States Department of Agriculture :

  • Kentang 173 gram
  • Ubi Jalar 114 gram

Ukuran ini dihitung dalam jumlah satuan buah kentang dan ubi jalar. Jika dibandingkan dari segi ukuran, kentang memiliki berat yang lebih besar (cenderung bulat) dan ubi jalar punya kandungan yang sedikit lebih kecil dengan bentuk memanjang.

2. Kalori

Kandungan kalori kentang dan ubi jalar hampir memilik persamaan yang serupa. Pada 100 gram porsi kentang yang dipanggang dengan kulitnya mengandung 93 kalori. Sementara ubi jalar dengan porsi yang sama, jika dipanggang dengan kulitnya mengandung 90 kalori.

3. Karbohidrat dan serat

Perlu diketahui, kalau kentang dan ubi jalar sebagian besar kalorinya berasal dari kandungan karbohidrat di dalamnya. Pada porsi 100 gram kentang, terkandung 21 gram karbohidrat dan 2,2 gram serat.  Sedangkan ubi jalar memiliki 21 gram karbohidrat dan 3, 3 gram serat.

Serat pada kentang dan ubi jalar merupakan nutrisi penting yang bisa meningkatkan pergerakan usus yang mampu membantu mengendalikan rasa lapar. Serat pada kedua jenis umbi-umbian ini juga mampu menurunkan tingkat kolesterol dalam darah jika dikonsumi sekitar 30 gram sehari.

4. Protein dan lemak

Kentang dan ubi jalar mempunyai kandungan lemak dan protein yang serupa. 100 gram kentang mengandung 2,5 gram protein dan 0,1 gram lemak. Jika dibandingkan dengan ubi jalar, ubi jalar mengandung protein lebih sedikit sekitar 2 gram potein dan 0,2 gram lemak.

5. Vitamin

Perbandingan kandungan vitamin antara kentang dan ubi jalar nyatanya sangat berbeda:

  • Sebuah 100 gram porsi kentang putih mengandung 9,6 mg vitamin C, 28 mcg folat dan 1 mcg vitamin A.
  • Sedangkan 100 gram ubi jalar,  memiliki 20 mg vitamin C, 6 mcg folat dan 19.218 mcg vitamin A.

Kentang pada dasarnya memiliki vitamin C yang lebih tinggi daripada kandungan vitamin A. Sedangkan ubi jalar menyediakan vitamin A yang lebih banyak lebih 100 kali lipat nilainya, jika dibandingan dengan kentang. Kentang serta ubi jalar bermanfaat baik untuk perkembangan tubuh, kesehatan mata dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

5. Mineral

Ketika berbicara mengenai kandungan mineral, kentang merupakan sumber zat besi dan potasium yang lebih unggul daripada ubi jalar. Pada sebuah 100 gram porsi kentang  mengandung 1,1 mg zat besi dan 535 mg kalium. Sementara ubi jalar mengandung 0,7 mg zat besi dan 435 mg potassium, di mana jika tubuh kekurangan mineral bisa mengalami kondisi anemia.

Kesimpulan

Memilih ubi jalar ataupun kentang sebenarnya tidak terlalu signifikan perbedaannya, jadi silakan sesuaikan dengan selera saja. Yang lebih penting adalah cara memasaknya. Kentang panggang tentu lebih sehat dibanding ubi yang digoreng. Begitu juga dengan french fries alias kentang goreng, yang tentunya tidak sehat jika dibandingkan dengan ubi jalar rebus. Cari tahu berbagai cara memasak yang sehat untuk panduan Anda.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Masalah bau badan tak sedap bikin kurang pede? Tenang, dua bahan alami ini bisa membantu mengurangi bau badan ketika deodoran saja tidak mempan.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Olahraga malam hari bisa membantu Anda tidur nyenyak dan menghindarkan diri dari sengatan sinar matahari. Berikut 4 olahraga untuk dilakukan di malam hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Olahraga Lainnya, Kebugaran 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mencium bau

Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
penis bengkok

Bisakah Penis yang Bengkok Diluruskan Kembali?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit