Ternyata, Encok Adalah Nama Lain dari Penyakit Ini

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 17 April 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Masyarakat Indonesia mungkin sudah tidak asing dengan istilah encok. Encok adalah penyakit yang sering dikaitkan dengan nyeri pinggang dan umumnya dialami oleh orang berusia lanjut. Rasa nyeri dapat bertambah parah, terutama bila penderita mengangkat beban yang berat atau berdiri terlalu lama.

Melansir Arthritis Foundation, encok sebenarnya adalah dampak dari penyakit asam urat. Penyakit ini tidak hanya menyerang pinggang, tapi juga sendi-sendi lainnya pada tubuh Anda. Penyakit encok tidak dapat disembuhkan, tapi ada banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk mengontrol gejalanya.

Encok dan penyakit asam urat adalah dua hal yang berkaitan

komplikasi bahaya akibat asam urat

Encok merupakan penyakit radang sendi akibat tingginya asam urat dalam darah atau hiperurisemia. Pada kondisi normal, tubuh bisa mengeluarkan asam urat melalui urine dan feses. Namun, jika jumlahnya berlebih, asam urat akan mengeras dan membentuk kristal.

Kristal asam urat lantas menumpuk pada sendi dan menyebabkan peradangan serta nyeri hebat. Gejala inilah yang kerap disebut sebagai encok. Bila tidak diobati, penyakit ini bisa menjadi kronis dan menyebabkan kerusakan jaringan sekitar sendi.

Persendian yang paling sering mengalami encok adalah jempol kaki, pergelangan kaki, telapak kaki, dan lutut. Akan tetapi, encok terkadang juga menyerang siku, jari tangan, pergelangan tangan, serta tulang belakang walaupun jarang.

Apa saja gejala yang dialami penderita encok?

gejala ciri-ciri asam urat tinggi

Gejala encok dapat muncul kapan saja tanpa tanda awal, tetapi penderita lebih sering mengeluhkannya pada tengah malam. Persendian yang terkena encok umumnya akan mengalami gejala berupa:

  • nyeri hebat
  • kemerahan
  • sensasi panas
  • pembengkakan
  • rasa kaku

Setelah serangan gejala berakhir, Anda mungkin tidak akan mengalaminya lagi selama beberapa minggu, bulan, atau bertahun-tahun setelahnya. Padahal, selama periode ini kristal asam urat yang terbentuk pada persendian semakin bertambah banyak.

Barulah beberapa waktu setelahnya, sendi pada tubuh kembali meradang sehingga penderita merasakan lagi gejala encok yang sebelumnya sempat menghilang. Gejala bisa bertambah parah bila jaringan sekitar sendi sudah mengalami kerusakan.

Siapa yang paling berisiko terkena encok?

penyebab tubuh lansia semakin kurus

Penyebab penyakit encok adalah hiperurisemia, tapi faktor yang meningkatkan risikonya lebih banyak dari itu. Penyakit encok biasanya lebih sering terjadi pada orang dengan kondisi sebagai berikut:

  • berjenis kelamin laki-laki
  • memiliki berat badan berlebih atau obesitas
  • memiliki anggota keluarga yang menderita encok
  • mengonsumsi obat diuretik (merangsang pengeluaran urine)
  • menderita gagal jantung kongestif, sindrom metabolik, dan hipertensi
  • mengalami resistensi insulin atau diabetes
  • mengalami penurunan fungsi ginjal
  • mengonsumsi alkohol atau makanan dan minuman tinggi fruktosa
  • sering mengonsumsi makanan tinggi purin seperti daging, jeroan, dan seafood

Apabila Anda memiliki satu atau lebih dari kondisi tersebut, sebaiknya periksakan kadar asam urat Anda secara rutin. Dengan demikian, Anda bisa memantau nilainya secara berkala sehingga agar berkembang menjadi penyakit radang sendi.

Cara mengatasi penyakit encok dengan perbaikan gaya hidup

Encok adalah penyakit yang memengaruhi banyak aspek dalam hidup Anda. Gejalanya tidak sekadar mengganggu pekerjaan sehari-hari, tapi juga membuat Anda tidak dapat menikmati waktu santai akibat nyeri yang ditimbulkannya.

Penyakit ini juga tidak dapat disembuhkan. Jadi, Anda perlu mengonsumsi obat untuk meredakan peradangan dan gejala yang menyertainya. Bagi penderita encok kronis, dokter biasanya juga menyarankan terapi dengan obat khusus untuk menurunkan kadar asam urat yang berlebih.

Meskipun tidak bisa disembuhkan, penderita encok tetap bisa mengelola gejala yang muncul dengan cara memperbaiki gaya hidup. Berikut beberapa tips yang dapat Anda terapkan agar gejala encok tidak lagi menyiksa:

1. Memperbaiki pola makan

Asam urat adalah produk buangan dari purin, jadi penderita encok pantang mengonsumsi makanan kaya purin. Hindari jeroan, seafood, serta minuman mengandung fruktosa dan alkohol. Gantilah dengan sayur, buah, telur, dan sumber karbohidrat.

2. Aktif berolahraga

Ketika tubuh tidak sedang terkena encok, isilah hari-hari Anda dengan olahraga ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang. Lakukan paling tidak selama 30 menit dengan frekuensi tiga hari seminggu.

3. Menjaga berat badan ideal

Berat badan berlebih akan membebani persendian sehingga membuat dampak encok semakin parah. Sedapat mungkin, jagalah berat badan Anda tetap ideal dengan aktif berolahraga dan tidak makan secara berlebihan.

4. Melindungi persendian

Persendian yang terkena encok lebih rentan mengalami cedera. Cedera tentunya akan membuat kerusakan sendi semakin parah. Lindungi sendi Anda dengan melakukan aktivitas fisik dan olahraga yang aman. Gunakan pula pelindung sendi bila perlu.

Encok adalah penyakit akibat penumpukan kristal asam urat pada persendian. Tanpa pengobatan, encok yang awalnya hanya menimbulkan rasa nyeri dapat berujung pada kerusakan sendi dan jaringan di sekitarnya.

Agar kesehatan sendi senantiasa terjaga, pastikan Anda menjalani gaya hidup dan pola makan yang sehat. Jangan lupa memeriksakan kadar asam urat Anda secara rutin agar nilainya selalu terpantau.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Penyakit Asam Urat (Gout)

    Penyakit asam urat (gout) adalah peradangan sendi karena kadar asam urat yang terlalu tinggi. Cari tahu apa penyebab, gejala, pengobatan, dan pencegahannya.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Arthritis (Radang Sendi), Kesehatan Muskuloskeletal 6 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit

    Makanan yang Dianjurkan untuk Penderita Osteoarthritis, Serta yang Sebaiknya Dihindari

    Ada beberapa jenis makanan yang disarankan untuk penderita osteoarthritis. Selain itu, ada makanan yang sebaiknya dihindari. Berikut informasi lengkapnya.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Arthritis (Radang Sendi), Kesehatan Muskuloskeletal 6 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

    Berbagai Obat dan Pengobatan Radang Sendi yang Efektif

    Penderita radang sendi perlu obat dan pengobatan untuk mengatasi kondisinya. Berikut cara mengobati radang sendi, baik secara medis maupun rumahan.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Arthritis (Radang Sendi), Kesehatan Muskuloskeletal 6 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit

    Arthritis

    Radang sendi atau arthritis dapat membuat sendi bengkak, kaku, nyeri, atau sulit digerakkan. Ketahui penyebab dan cara mengobatinya di Hello Sehat.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Arthritis (Radang Sendi), Kesehatan Muskuloskeletal 6 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    psoriasis arthritis

    Psoriasis Arthritis

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Dipublikasikan tanggal: 6 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
    Pencegahan asam urat

    7 Langkah Efektif Mencegah Terjadinya Asam Urat

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Dipublikasikan tanggal: 6 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
    4 obat asam urat alami yang ampuh Piroxicam

    9 Obat Asam Urat Alami (Herbal) yang Dapat Dicoba di Rumah

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Dipublikasikan tanggal: 6 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit
    gejala ciri-ciri asam urat tinggi

    Berbagai Gejala dan Ciri-Ciri Asam Urat Penting Diketahui

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Dipublikasikan tanggal: 6 Oktober 2020 . Waktu baca 8 menit