Tubuh Berotot Ala Binaragawan, Apakah Memang Lebih Sehat? Ini Risikonya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 September 2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Melihat tubuh para aktor di film-film laga atau pahlawan super, Anda mungkin merasa kagum akan otot-otot yang ditonjolkan. Sejak dahulu memang tubuh berotot nan kekar sering dianggap sebagai tolak ukur bagi kejantanan pria. Akibatnya, banyak laki-laki merasakan tuntutan untuk membentuk otot-otot tubuhnya bak binaragawan.

Kasus ini serupa dengan yang dialami wanita. Wanita juga secara tak langsung dituntut untuk menjaga bentuk tubuh yang ramping dan seksi. Lalu, apakah benar tubuh berotot binaragawan itu pasti ideal dan sehat? Yuk, cari tahu jawabannya di bawah ini. 

Apakah tubuh berotot seperti binaragawan memang lebih sehat?

Membentuk tubuh dan membangun massa otot memang baik untuk kesehatan. Ketahanan dan kekuatan tubuh jadi lebih baik. Selain itu, Anda juga jadi memerhatikan asupan gizi sehari-hari yang baik bagi tubuh. Akan tetapi, beberapa orang bisa saja membentuk tubuh secara berlebihan. Apalagi mereka yang berprofesi sebagai binaragawan atau mereka yang sangat menekuni dunia binaraga. 

Hati-hati, membentuk otot secara berlebihan belum tentu menyehatkan bagi tubuh. Tubuh yang terlalu kekar dan berotot justru bisa berdampak negatif. Bahkan, jika terobsesi dengan bentuk tubuh berotot ala binaragawan Anda bisa saja mengalami gangguan dismorfia otot. 

Mengenal gangguan dismorfia otot

Dismorfia otot adalah gangguan psikologis yang membuat seseorang kecanduan membentuk otot dan melakukan olahraga binaraga. Meskipun tubuhnya sudah terbentuk dan otot-ototnya sudah membesar, orang dengan gangguan dismorfia otot akan terus berusaha untuk membuat tubuhnya lebih kekar dan berotot. Hal ini dilakukan dengan cara melakukan diet khusus secara ketat serta melatih kebugaran dengan olahraga seperti angkat beban

Ciri-ciri dismorfia otot

Tak diduga-duga, gangguan dismorfia otot ternyata cukup ditemui dalam masyarakat. Sejumlah penelitian mencatat bahwa sekurang-kurangnya 10% dari para binaragawan di seluruh dunia mengidap dismorfia otot. Kenali ciri-ciri orang dengan gangguan dismorfia otot berikut ini.

  • Olahraga habis-habisan untuk meningkatkan massa otot
  • Panik dan stres jika tak bisa atau tak sempat berolahraga
  • Tetap berolahraga meskipun sedang sakit atau cedera
  • Gangguan makan, biasanya mengonsumsi protein dalam jumlah berlebihan 
  • Kecanduan steroid
  • Terlalu sering bercermin dan memeriksa bentuk tubuh
  • Membanding-bandingkan tubuhnya dengan binaragawan lain
  • Tidak percaya diri dengan bentuk tubuh dan citra dirinya

Dampak dismorfia otot bagi kesehatan

Bila dibiarkan, gangguan dismorfia otot akan membawa dampak negatif bagi kesehatan. Salah satunya adalah gangguan jantung. Menurut sebuah penelitian dalam jurnal Cardiology, mengangkat beban secara berlebihan berisiko menyebabkan robeknya pembuluh darah aorta. Aorta adalah arteri utama yang mengalirkan darah dari jantung. Robeknya aorta karena latihan angkat beban berlebihan bisa menyebabkan kematian. 

Orang yang terobsesi dengan tubuh berotot juga mungkin menjalani diet ketat dengan membatasi konsumsi kalori atau lemak. Dengan asupan gizi yang tidak seimbang padahal aktivitas fisiknya berlebihan, gula darah bisa menurun drastis hingga Anda hilang kesadaran. Dalam beberapa kasus, olahraga berlebihan yang tidak disertai dengan gaya hidup sehat juga bisa berakibat kematian. 

Salah satu gejala dismorfia otot, yaitu kecanduan steroid berisiko menyebabkan gangguan hormon, penyakit jantung, stroke, hingga kanker hati. Maka, kalau Anda atau orang terdekat Anda mengidap gangguan ini atau sudah terobsesi dengan dunia binaraga, segera cari bantuan psikolog, ahli gizi, atau dokter.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Produk skincare antiaging fungsinya adalah mencegah penuaan dini. Namun, kalau baru pakai antiaging di usia 50 tahun ke atas, apa hasilnya akan sama?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Lansia, Gizi Lansia 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

3 Manfaat yang Bisa Didapat dari Minum Kopi Sebelum Olahraga

Suka olahraga di pagi hari dan harus minum kopi dulu biar segar? Penelitian membuktikan kalau minum kopi sebelum olahraga ternyata baik buat tubuh, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Gizi Olahraga, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Atasi Tipes

Gejala tipes umumnya dapat diobati di rumah. Selain minum obat dari dokter, apa saja cara mengobati tipes lainnya di rumah?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi, Demam Tifoid (Tifus) 20 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

4 Penyebab Buah Zakar Anda Gatal dan Ingin Terus Digaruk

Menggaruk alat kelamin terkadang sudah menjadi kebiasaan, tapi bisa juga karena memang terasa gatal. Apa saja penyebab buah zakar gatal? Apakah berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Pria, Penyakit pada Pria 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
olahraga malam hari

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
strategi menahan lapar

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit