Kenapa Stres Memengaruhi Kebiasaan Makan Seseorang?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 Januari 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Apakah Anda tipe orang yang suka makan saat stres, atau justru jadi tidak nafsu makan saat sedang banyak pikiran? Memang, perilaku makan saat stres dapat berubah dengan berbagai cara. Tiap individu mempunyai caranya sendiri untuk merespon stres yang dialaminya. Namun, kebanyakan individu merespon stres dengan cara makan lebih banyak dari biasanya. Mengapa bisa terjadi?

Hubungan antara stres dengan perilaku makan

Penelitian telah banyak menunjukkan hubungan antara stres dan makanan. Pada saat stres, orang-orang biasanya mencari makanan yang mengandung kalori tinggi atau lemak tinggi. Padahal, saat Anda stres, tubuh Anda juga bisa menyimpan lebih banyak lemak. Sehingga, stres, asupan makan yang meningkat, dan penyimpanan lemak yang lebih banyak bisa menyebabkan Anda mengalami kelebihan berat badan.

Banyak orang dewasa melaporkan bahwa mereka adalah golongan orang yang makan saat stres, alias lebih banyak makan atau makan makanan yang tidak sehat saat dirinya merasa stres. Menurutnya, perilaku makan seperti ini membuat dirinya lebih bisa menghadapi stres yang ia rasakan. Beberapa lainnya juga melaporkan bahwa ia makan untuk membantu mengelola stresnya. Rupanya, stres memang sangat berpengaruh pada perilaku makan Anda, mulai dari nafsu untuk makan, banyaknya makanan yang Anda ambil, sampai pemilihan makanan Anda.

Stres dapat mengganggu keseimbangan pada tubuh. Sehingga, tubuh akan bereaksi terhadap stres untuk mengembalikan keseimbangannya dengan cara menghasilkan respon fisiologis. Salah satu keseimbangan tubuh yang terganggu saat Anda stres adalah fisiologis tubuh yang berhubungan dengan asupan makan.

Bagaimana stres bisa mengubah perilaku makan?

Perilaku makan seseorang bisa berubah untuk merespon stres. Hal ini tergantung dari seberapa besar stres yang sedang Anda rasakan. Terdapat dua jenis stres, yaitu:

  • Stres akut, di mana stres terjadi hanya sementara – dalam waktu yang tidak lama. Misalnya saja, stres karena kemacetan di jalan. Anda dapat dengan mudah menangani stres ini.
  • Stres kronis, saat Anda mengalami masalah yang besar yang menyangkut kehidupan Anda dan lebih sulit untuk Anda tangani. Stres ini bisa berlangsung lebih lama.

Respon tubuh terhadap stres akut

Saat Anda mengalami stres akut, bagian medular otak memberikan sinyal untuk melepaskan beberapa hormon stres, seperti epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin) dari kelenjar adrenal. Hormon-hormon ini kemudian memicu respon “fight-or-flight”, seperti peningkatan detak jantung, pernapasan, pemecahan lemak dan karbohidrat, serta tekanan darah. Pada waktu yang sama, tubuh memperlambat kerja fisiologisnya, seperti aliran darah ke sistem pencernaan, nafsu makan, dan asupan makan. Jadi, pada saat stres akut, Anda lebih mungkin untuk kehilangan nafsu makan Anda.

Respon tubuh terhadap stres kronis

Saat tubuh Anda mengalami stres kronis, hipotalamus (pusat otak yang mengontrol stres) memerintahkan kelenjar hipofisis untuk melepaskan hormon adenokortikotropin (ACTH) ke korteks adrenal. Jika stres kronis cukup berat dan berlangsung cukup lama, maka dapat mengakibatkan hormon kortisol meningkat, di mana hormon ini dapat merangsang nafsu makan selama periode pemulihan dari stres kronis. Oleh karena itu, pada orang dengan stres berat,  nafsu makannya akan meningkat sehingga ia makan lebih banyak, ia akan melihat makanan sebagai objek yang dapat memberinya ketenangan.

Kortisol dengan bantuan insulin (dengan kadar lebih tinggi) juga dapat mengaktifkan enzim lipoprotein lipase dan menghambat pemecahan trigliserida yang dapat menyebabkan cadangan lemak menjadi lebih banyak. Stres kronis terbukti dapat meningkatkan penumpukan lemak di perut pada wanita. Jadi, pada saat Anda mengalami stres kronis, tubuh Anda lebih mungkin untuk menyimpan lemak lebih banyak, di samping nafsu makan Anda yang meningkat. Sehingga, kenaikan berat badan Anda atau kegemukan pun akan membayangi Anda.

Stres juga dapat memengaruhi pemilihan makan

Stres tampaknya juga memengaruhi pemilihan makan Anda. Pada saat stres, Anda lebih mungkin untuk memilih makanan dengan kandungan kalori tinggi, sehingga hal ini juga dapat berkontribusi pada kenaikan berat badan saat stres. Makanan yang mengandung kadar lemak dan/ atau gula tinggi mungkin akan memberi kesenangan tersendiri bagi orang yang sedang menghadapi stres.

Kadar hormon kortisol dikombinasikan dengan insulin yang tinggi mungkin berperan dalam pemilihan makan ini. Penelitian lain menunjukkan bahwa ghrelin (hormon yang memicu rasa lapar) dapat menyebabkan hal ini. Teori lain juga mengatakan bahwa lemak dan gula tampaknya memiliki dampak yang dapat menghambat aktivitas bagian otak yang menghasilkan dan memproses stres.

Kesimpulan

Jadi, stres dapat memengaruhi perilaku makan Anda dalam dua cara. Sebagian kecil dari Anda mungkin akan kehilangan nafsu makan saat mengalami stres dalam waktu singkat. Sedangkan, sebagian besar individu akan merespon stres dengan meningkatkan asupan makannya selama stres berat.

Penelitian oleh Dallman (2005) menunjukkan bahwa individu dengan kelebihan berat badan cenderung makan lebih banyak saat mengalami stres kronis dibandingkan dengan individu yang mempunyai berat badan normal atau kurus. Penelitian lain menunjukkan bahwa orang yang menjalani diet atau yang sering menahan diri untuk makan lebih mungkin untuk makan lebih banyak saat stres daripada orang yang tidak diet atau tidak membatasi asupan makannya.

BACA JUGA

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Makan Telur Mentah, Sehat atau Malah Berbahaya?

    Telur mentah bisa ditemukan dalam berbagai minuman dan masakan. Tapi ternyata ada banyak risiko makan telur mentah, apalagi untuk orang-orang tertentu.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Fakta Gizi, Nutrisi 13 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

    Tips Makan Sayuran Agar Mudah Dicerna oleh Tubuh

    Tahukah Anda jika cara makan sayuran dan penyajiannya tidak tepat, membuat sayur jadi sulit dicerna tubuh. Simak tips berikut untuk mengatasinya.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Kesehatan Pencernaan, Konstipasi 8 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Penyebab dan Faktor Risiko Batu Ginjal Berdasarkan Jenisnya

    Batu ginjal sebenarnya bisa dihindari, salah satunya dengan menjaga makanan. Apa saja makanan yang berpotensi membentuk batu ginjal?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Monika Nanda
    Urologi, Ginjal 31 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

    Listeriosis

    Listeriosis muncul karena bakteri Listeria yang menyerang perut. Kenali lebih lanjut seputar definisi, gejala, hingga pengobatan penyakit ini berikut.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Kesehatan Pencernaan, Keracunan Makanan 22 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    lidah terasa pahit saat sakit

    Kenapa Lidah Terasa Pahit saat Anda Sedang Sakit?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
    pertolongan pertama keracunan makanan

    Pertolongan Pertama untuk Mengatasi Keracunan Makanan

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: dr. Ivena
    Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    makanan penyubur sperma

    10 Makanan Penyubur Sperma agar Pasangan Cepat Hamil

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
    zat aditif adalah msg

    Zat Aditif pada Makanan Ternyata Tak Selalu Berbahaya

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit