home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Sindrom Peter Pan Bikin Pria Dewasa Bertingkah Seperti Anak-anak

Sindrom Peter Pan Bikin Pria Dewasa Bertingkah Seperti Anak-anak

Anda yang menyukai film atau buku fiksi fantasi pasti familiar dengan tokoh Peter Pan, seorang anak laki-laki yang tidak bisa tumbuh dewasa. Nah ternyata, kita juga bisa menemukan Peter Pan di dunia nyata. Mungkin sahabat laki-laki atau malah pasangan Anda. Dalam dunia medis, pria dewasa yang bersifat kekanak-kanakan hingga taraf tidak wajar disebut memiliki sindrom Peter Pan. Penasaran? Simak ulasannya berikut ini.

Kenali apa itu sindrom Peter Pan

Pria dewasa sudah seharusnya dapat hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Namun, pria dengan sindrom Peter Pan memiliki sifat sebaliknya. Mereka tidak bersikap sesuai dengan usianya; cenderung tidak mandiri dan sangat kekanak-kanakan, sama seperti tokoh Peter Pan yang ada dalam cerita fiksi. Ada banyak sebutan untuk sindrom ini, seperti king baby atau little princesyndrome.

Sifat kekanak-kanakan tentu tidak hanya melulu dimiliki pria. Beberapa wanita dewasa juga mungkin kekanak-kanakan. Meski begitu, sindrom Peter Pan lebih banyak ditemukan pada pria karena pakar psikologi berpendapat bahwa laki-laki dewasa cenderung memiliki tanggung jawab yang lebih besar, seperti menjadi kepala rumah tangga atau mencari nafkah.

Faktor yang menyebabkan seseorang bisa memiliki sindrom Peter Pan adalah cara pandang yang salah terhadap diri dan lingkungan sekitarnya. Dilansir dari Science Daily, umumnya, pola asuh orang tua yang terlalu protektif bisa menyebabkan anak tumbuh dewasa dengan sindrom ini. Mereka merasa bahwa tumbuh dewasa harus memikul tanggung jawab yang besar, harus bisa membuat komitmen dengan diri sendiri dan orang lain, dan menghadapi tantangan hidup yang lebih sulit.

Perasaan cemas, takut, tidak mampu, dan tidak percaya diri kemudian membuat mereka ingin melindungi diri dengan bersikap layaknya anak kecil. Tekanan mental berat inilah yang mungkin memicu rasa “ingin kabur dari tanggung jawab” dan membuat seseorang ingin kembali ke masa kanak-kanak yang tidak memiliki beban hidup.

Meski terkait dengan masalah psikologis, sindrom ini bukan termasuk diagnosis resmi gangguan mental, seperti depresi, gangguan bipolar, atau gangguan obsesif kompulsif.

Tanda-tanda pria memiliki sindrom Peter Pan

Dilansir dari Psychology Today, Berit Brogaard D.M.Sci.Ph.D., dosen filsafat di Miami University, menjelaskan ada beberapa ciri khas yang menandakan seorang pria memiliki sindrom ini, yaitu:

  • Cenderung berperilaku seperti anak kecil, remaja, atau orang yang lebih muda dari usianya. Biasanya, orang dengan sindrom ini juga berteman dengan orang yang lebih muda.
  • Selalu bergantung pada orang lain dan merepotkan orang lain. Mengharapkan untuk selalu dilindungi dan dituruti semua permintaannya. Takut dan memiliki kekhawatiran yang berlebihan jika melakukan segala sesuatu sendiri.
  • Tidak bisa mempertahankan hubungan jangka panjang yang stabil, terutama percintaan. Sifatnya yang kekanakan kadang membuat pasangan menjadi tidak nyaman. Selain itu, orang dengan sindrom ini sulit untuk bersikap romantis dan memilih pasangan yang lebih muda.
  • Takut untuk berkomitmen atau menjanjikan suatu hal, baik itu dalam hubungan cinta atau pekerjaan.
  • Kurang bertanggung jawab dalam pekerjaan atau dalam mengelola keuangan. Selalu mengutamakan kepentingan pribadi, terutama untuk kepuasan dan kebaikan dirinya sendiri.
  • Tidak mau mengakui kesalahan dan melimpahkannya pada orang lain sehingga sulit untuk introspeksi diri.

Tidak semua pria dengan sindrom Peter Pan memiliki gejala yang sama, sehingga sulit diidentifikasi. Perlu pemeriksaan lebih lanjut, bukan hanya pada pasien saja, tapi juga orang-orang di sekitarnya. Sebab pasien sering kali tidak menyadari dan merasa seolah dirnya baik-baik saja. Perlu perawatan yang tepat untuk mengubah perilaku pasien dan orang-orang di sekitar pasien dalam menghadapinya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Overprotecting parents can lead children to develop ‘Peter Pan Syndrome’. https://www.sciencedaily.com/releases/2007/05/070501112023.htm. Diakses pada 7 Juni 2018.

Peter Pan Grows Up! https://www.psychologytoday.com/us/blog/traversing-the-inner-terrain/201103/peter-pan-grows. Diakses pada 7 Juni 2018.

10 Signs of an Emotionally Immature Adult. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-superhuman-mind/201611/10-signs-emotionally-immature-adult. Diakses pada 7 Juni 2018.

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Aprinda Puji
Tanggal diperbarui 07/07/2018
x