home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Merasa Terjebak Dalam Hubungan yang Tidak Bahagia? 3 Hal Ini Mungkin Penyebabnya

Merasa Terjebak Dalam Hubungan yang Tidak Bahagia? 3 Hal Ini Mungkin Penyebabnya

Hubungan asmara, baik pacaran maupun sudah jenjang pernikahan, idealnya dijalani untuk membawa kebahagiaan bagi kedua belah pihak. Namun sayang, tidak sedikit yang malah merasa terjebak. Mereka merasa sudah tidak lagi bahagia tapi tetap terus menjalaninya karena berbagai alasan. Apa yang melatarbelakangi keputusan seseorang untuk bertahan dalam hubungan tidak bahagia?

Berbagai alasan seseorang bertahan dalam hubungan tidak bahagia

Dikutip dari Psychology Today, Darlene Lancer, JD, MFT, seorang terapis pernikahan dan berkeluarga menyebutkan ada tiga penyebab umum yang membuat seseorang bertahan dalam hubungan tidak bahagia, yaitu:

1. Ketakutan yang tidak disadari

takut berhubungan intim

Keinginan untuk terus bertahan dalam hubungan yang tidak bahagia mungkin berasal dari ketakutan dalam diri yang bahkan Anda sendiri tak pernah sadari betul.

Ada banyak hal yang bisa memicu ini, misalnya ketakutan untuk kembali melajang setelah sekian lama nyaman hidup berpasangan atau takut tidak akan menemukan pengganti yang lebih baik dari dirinya. Anda mungkin juga merasa khawatir akan kestabilan masa depan sosial-ekonomi Anda jika tak lagi bersama dirinya, terlebih jika Anda memiliki anak bersamanya.

Yang lain mungkin merasa ragu untuk berpisah karena menunggu realisasi dari janji-janji manis yang dulu pernah dilontarkan pasangan. Atau, Anda memilih bertahan dalam hubungan ini karena merasa bisa mengubah diri sendiri dan si pasangan menjadi lebih baik lagi.

Ketakutan dan insecurity tersebut terus menghantui pikiran sehingga membuat Anda merasa bahwa tidak ada pilihan lain selain bertahan. Inilah yang kemudian mengalahkan ketidakbahagiaan yang sebenarnya Anda rasakan.

2. Menyangkal hati nurani

gejala depresi tersembunyi di balik senyum

Banyak orang yang memilih bertahan dalam hubungan tidak bahagia karena terus-terusan menyangkal hati nuraninya. Mereka memilih untuk menyangkal kenyataan yang sebenarnya sudah terpampang sangat jelas karena memiliki harapan semu bahwa semuanya akan baik-baik saja nantinya.

Ini bisa ditandai dengan memaklumi dan memaafkan perilaku buruk pasangan. Ya. Kebiasaan ini adalah wujud penyangkalan yang sangat umum dilakukan oleh banyak orang. Anda merasa bahwa seiring waktu pasangan bisa dan akan berubah. Anda hanya perlu memaklumi dan menunggunya meski di lubuk hati terdalam Anda sudah merasa sangat tersakiti dengan apa yang diperbuat pasangan karena ia terus mengulanginya.

Sering kali Anda juga mengabaikan rasa sakit hati ini dan berharap bahwa pasangan akan menyadari, menyesali, dan berubah menjadi lebih baik. Padahal faktanya belum tentu.

3. Kurangnya kebebasan diri

depresi karena patah hati

Seseorang yang memiliki kebebasan akan dirinya sendiri memahami betul sampai di mana kapasitas dirinya serta apa yang ia butuhkan secara fisik dan emosional, dan mampu memenuhinya dengan mandiri.

Nah, kurangnya kebebasan diri membuat seseorang terkadang terlalu bergantung pada pasangannya. Hal ini dikarenakan apa-apa yang dilakukan biasanya sudah diatur sedemikian rupa oleh pasangannya. Lama-lama, terbiasa hidup seperti ini akan membuat Anda merasa terjebak dan tidak memiliki kebebasan. Akan tetapi di sisi lain, Anda menginginkan hubungan yang aman tanpa konflik dengan menuruti semua keinginan pasangan yang diperintahkan padanya.

Kurangnya wewenang atas diri sendiri inilah yang terkadang membuat seseorang merasa tidak bahagia menjalani hubungannya. Mereka sebenarnya memiliki ketakutan akan kehilangan jati dirinya. Sayangnya, mereka jauh lebih takut meninggalkan hubungan yang sedang dijalaninya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Widya Citra Andini
Tanggal diperbarui 25/07/2018
x