Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

4 Hal yang Mesti Dilakukan Agar Hubungan Tetap Mesra Meski Pasangan Sibuk Bekerja

    4 Hal yang Mesti Dilakukan Agar Hubungan Tetap Mesra Meski Pasangan Sibuk Bekerja

    Pasangan sibuk bekerja dan sangat sulit meluangkan waktu dengan keluarga? Kondisi ini memang mengesalkan karena kedekatan antara Anda dan pasangan serta si dia dan anak menjadi berkurang. Namun, tenang. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi pasangan sibuk kerja, tanpa perlu emosi saat melakukannya.

    Cara mengatasi pasangan yang sibuk kerja

    Hal yang perlu dipahami adalah pasangan Anda bekerja untuk kebutuhan keluarga, yang tentunya meliputi Anda dan keluarga. Namun kalau pola kerjanya tidak sehat, misalnya jadi makin sering lembur dan berangkat subuh-subuh sampai tidak pernah bisa bertemu anak, Anda perlu segera bertindak.

    Ngobrol santai dengan pasangan tanpa emosi

    Salah satu tips agar hubungan pernikahan tetap sehat adalah membuat waktu untuk mengobrol santai dengan pasangan tanpa emosi.

    Melansir dari Verywellmind, sangat melelahkan rasanya ketika diajak berdiskusi saat pikiran masih kalut dan emosi. Bukannya menyelesaikan masalah, bisa-bisa masalah baru muncul dan bisa berdampak buruk pada anak.

    Anda bisa mengobrol dengan pasangan ketika dia baru pulang dan menyiapkan teh hangat, agar pasangan Anda lebih rileks. Awali obrolan dengan menanyakan kabarnya hari ini dan bagaimana pekerjaannya. Makan siang apa atau menanyakan ada hal seru apa di kantor.

    Setelah suasana cair, Anda bisa mulai menanyakan tentang dirinya yang terlalu sibuk bekerja sampai jarang bermain dengan anak. Tetap pakai nada bicara santai agar emosi pasangan tidak ikut terpancing.

    Meluangkan waktu untuk curhat

    Setelah mengobrol dengan pasangan, tahap berikutnya untuk mengatasi pasangan sibuk kerja adalah membuat waktu untuk bercerita. Menurut Focus on the family, ketika anak sedang memasuki masa perkembangan, mereka membutuhkan keberadaan sosok ayah untuk bermain dan bercerita bersama.

    Anda bisa membuat waktu untuk anak bermain dengan pasangan, misalnya ketika akhir pekan atau setiap malam sebelum anak tidur. Anak membutuhkan waktu berkualitas dan kuantitas yang sama porsinya untuk perkembangan diri.

    Beri pengertian bahwa jika pasangan terus sibuk bekerja, kebiasaannya dapat membuat perkembangan anak terganggu karena kurangnya kedekatan antara mereka.

    Bikin aktivitas yang bisa dilakukan bersama

    Ajak pasangan Anda untuk melakukan aktivitas yang bisa dilakukan bersama dengan si kecil. Misalnya, bermain ayunan di taman, menyusun puzzle, atau petak umpet. Tertawa bersama bisa membuat anak lebih dekat dan melupakan sejenak kalau pasangan sibuk kerja.

    Setelah bermain bersama anak, tidak ada salahnya untuk berkencan dengan pasangan agar hubungan Anda dan dia lebih dekat lagi. Cukup menonton film bersama atau mengajaknya berhubungan seksual yang bisa membantu pasangan meredakan stres dari pekerjaan.

    Perlukah berkonsultasi dengan psikolog keluarga?

    Bila masalah pasangan sibuk kerja belum terselesaikan dan semakin rumit, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan psikolog keluarga atau seseorang yang ahli di bidang hubungan suami istri. Berkonsultasi dengan psikolog bisa membuka ruang diskusi antara Anda dan pasangan, lalu ditengahi oleh psikolog agar mendapatkan hasil yang baik.

    Dalam sesi diskusi, sangat penting untuk membicarakan tentang batasan yang disepakati bersama dalam hal kesibukan bekerja. Misalnya, tidak membawa pekerjaan ke rumah atau tidak membuka ponsel saat bermain bersama anak. Ini bisa menjadi salah satu cara untuk mengatasi pasangan sibuk kerja.


    Stres dan butuh teman berbagi cerita?

    Ayo tanya psikolog kami atau berbagi cerita bersama di Komunitas Kesehatan Mental!


    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber
    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui Dec 16, 2019
    Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita
    Next article: