backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Syarat Lansia Naik Pesawat dan Tips Selama Penerbangan

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 10/04/2024

Syarat Lansia Naik Pesawat dan Tips Selama Penerbangan

Setiap calon penumpang memang harus memenuhi persyaratan tertentu sebelum naik pesawat. Namun, syarat naik pesawat bagi seorang lansia biasanya jauh lebih ketat.

Peraturan tersebut merupakan hal yang wajar mengingat prosedur pemeriksaan dokumen yang tidak sederhana, lorong bandara yang cukup panjang, hingga udara di dalam pesawat yang dingin berpotensi membuat lansia tidak nyaman.

Namun, dengan pertimbangan dan persiapan yang tepat, perjalanan udara akan tetap terasa nyaman bagi lansia.

Syarat lansia naik pesawat

Di samping beberapa kekurangannya, pesawat juga menawarkan kelebihan bagi lansia yang cenderung mudah kelelahan selama perjalanan jauh.

Pasalnya, dibandingkan alat transportasi lain, pesawat bisa menempuh jarak jauh dengan lebih cepat.

Meski begitu, jika Anda berencana mengajak lansia naik pesawat, pastikan mereka telah memenuhi berbagai persyaratan berikut terlebih dahulu.

1. Batas usia lansia naik pesawat

parosmia covid-19

Sampai saat ini, tidak ada peraturan khusus tentang batasan usia maksimal seseorang boleh naik pesawat.

Artinya, lansia atau seseorang yang berusia di atas 65 tahun diperbolehkan untuk bepergian dengan pesawat terbang.

Namun, perlu diingat bahwa lansia berisiko memiliki komorbid, seperti hipertensi, diabetes, demensia, penyakit jantung, stroke, dan masalah kesehatan lainnya.

Maka dari itu, akan lebih baik jika Anda mengajak mereka periksa ke dokter terlebih dahulu sebelum bepergian jauh, termasuk ketika naik pesawat. 

2. Pertimbangkan naik pesawat dengan pendamping

Secara umum, memang tidak ada peraturan yang mengharuskan lansia didampingi seseorang saat melakukan perjalanan dengan pesawat.

Akan tetapi, hal ini patut dipertimbangkan, terlebih jika lansia akan menempuh waktu perjalanan yang cukup panjang dengan pesawat.

Sementara itu, Garuda Indonesia melalui situsnya menyebutkan bahwa penumpang yang tidak bisa merawat dirinya sendiri ketika di pesawat atau membutuhkan perhatian khusus akan diminta mengisi medical information form (MEDIF).

Dengan MEDIF, pihak maskapai akan mempertimbangkan apakah penumpang yang bersangkutan mendapatkan izin untuk ikut terbang.

Jika diizinkan, pihak maskapai akan memberikan perawatan khusus bagi lansia untuk meningkatkan kenyamanan. Namun, untuk mendapatkan pelayanan ini, penumpang memang harus membayar biaya tambahan.

Setiap maskapai bisa memiliki syarat yang berbeda bagi penumpang yang akan ikut penerbangannya, terutama lansia, bayi, dan ibu hamil yang akan naik pesawat.

Oleh karena itu, pastikan Anda sudah mengetahui persyaratannya terlebih dahulu sebelum membeli tiket pesawat.

Tips agar lansia tetap nyaman saat naik pesawat

Dengan adanya syarat tertentu, perjalanan naik pesawat mungkin memang terasa sedikit lebih berat bagi lansia. Meski begitu, itu semua memang dibutuhkan demi kenyaman lansia dan penumpang lainnya.

Supaya perjalanan naik pesawat terasa lebih menyenangkan bagi lansia, coba ikuti beberapa tips berikut.

1. Jangan pilih kursi dekat jendela

Saat memilih tempat duduk, sebisa mungkin hindari kursi dekat jendela. Pasalnya, lansia akan kesulitan membantu petugas apabila suatu waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sebaliknya, pertimbangkan untuk memilih kursi aisle. Ini adalah kursi yang terletak di paling pinggir sehingga memudahkan mereka ketika harus ke toilet atau membutuhkan bantuan.

Bagaimana jika lansia memakai kursi roda?

Kursi roda yang dibawa penumpang akan diangkut di bagasi pesawat. Sebagai gantinya, selama penerbangan Anda akan diminta menggunakan kursi roda yang sudah disiapkan oleh pihak maskapai.

2. Gunakan layanan prioritas

Beberapa maskapai penerbangan, seperti Cathay Pacific, menyediakan fasilitas check-in khusus bagi lansia. Dengan begitu, lansia yang akan naik pesawat tidak perlu mengantre terlalu lama.

Selain itu, cobalah bertanya pada petugas di bandara apakah ada fasilitas khusus bagi lansia untuk sampai ke pintu keberangkatan.

Hal ini penting mengingat beberapa bandara memiliki jarak pintu keberangkatan dan konter check-in yang cukup jauh.

3. Siapkan obat-obatan

Saat akan bepergian jauh, jangan lupa membawa obat-obatan yang dibutuhkan. Selain itu, pastikan untuk membawa obat-obatan ke kabin pesawat.

Jangan menyimpan obat di dalam koper yang dimasukkan ke bagasi karena ini akan menyulitkan lansia jika sewaktu-waktu membutuhkan obatnya.

Perjalanan panjang dengan pesawat tidak bisa menjadi alasan Anda melupakan jadwal minum obat kecuali atas izin dokter.

4. Jangan terburu-buru saat keluar dari pesawat 

Setelah tiba di tempat tujuan, lansia tidak perlu terburu-buru untuk turun dari pesawat. Petugas biasanya memang menyarankan lansia untuk turun setelah penumpang lainnya.

Dengan begitu, mereka tidak akan tergencet atau berdesakan. Posisi ini juga membuat awak pesawat lebih leluasa untuk memberikan bantuan jika dibutuhkan.

Kenyamanan merupakan poin penting dalam setiap perjalanan, terutama bagi seorang lansia dengan kondisi medis tertentu.

Selain memenuhi syarat dan melakukan berbagai tips di atas, pastikan bahwa lansia mendapatkan waktu tidur atau istirahat yang cukup sebelum naik pesawat.

Dengan begitu, tubuh lansia memiliki energi yang mencukupi untuk menyesuaikan diri selama perjalanan.

Kesimpulan

  • Tidak ada syarat mengenai batas usia bagi lansia yang hendak naik pesawat. Namun, lansia sebaiknya memeriksakan diri ke dokter jika memiliki komorbiditas.
  • Lansia yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri selama penerbangan mungkin perlu mengisi medical information form (MEDIF).
  • Agar lansia tetap aman dan nyaman selama penerbangan, pertimbangkan untuk menggunakan layanan prioritas, bawa obat-obatan yang diperlukan, pilihlah kursi dari deretan aisle, dan jangan terburu-buru saat keluar dari pesawat.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 10/04/2024

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan