Dislipidemia

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Definisi

Apa itu dislipidemia?

Dislipidemia adalah kondisi yang terjadi ketika kadar lipid (lemak) di dalam darah terlalu tinggi atau terlalu rendah. Lipid, bersama dengan protein dan karbohidrat, merupakan komponen penting yang terdapat di dalam sel-sel tubuh.

Lipid adalah zat lemak yang terdiri dari kolesterol dan trigliserida. Komponen-komponen ini tersimpan di dalam tubuh dan berperan sebagai sumber tenaga untuk tubuh.

Istilah ini juga berkaitan dengan kondisi kolesterol tinggi, walaupun sebenarnya dislipidemia adalah istilah yang mencakup lebih dari sekadar kolesterol tinggi.

Kolesterol sendiri dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu kolesterol baik dan kolesterol jahat. High-density lipoprotein atau HDL merupakan kolesterol baik. Normalnya, pria memiliki kadar HDL di atas 40 mg/dL, sementara perempuan berkisar di atas 50 mg/dL.

Kolesterol jahat disebut dengan low-density lipoprotein atau LDL. Pada orang yang sehat, sebaiknya memiliki kadar LDL di bawah 100 mg/dL, dan 70 mg/dL untuk penderita diabetes dan penyakit jantung. Total kolesterol yang seharusnya dimiliki oleh orang yang sehat di bawah 200 mg/dL.

Komponen lain dari lipid adalah trigliserida. Kadar trigliserida yang normal di dalam tubuh seharusnya di bawah 150 mg/dL.

Kondisi-kondisi yang menentukan seseorang menderita dislipidemia adalah:

  • Memiliki kadar LDL atau kolesterol jahat yang tinggi
  • Memiliki kadar HDL atau kolesterol baik yang rendah
  • Memiliki kadar trigliserida yang tinggi

Ketika seseorang memiliki kadar kolesterol jahat yang tinggi, plak lemak dapat menumpuk di pembuluh arteri. Seiring berjalannya waktu, pembuluh arteri dapat tersumbat dan mengakibatkan masalah-masalah kesehatan, seperti penyakit jantung dan stroke.

Penumpukan lemak pada arteri juga dapat terjadi akibat kurangnya kadar kolesterol baik dan tingginya kadar trigliserida di dalam darah.

Seberapa umumkah dislipidemia?

Dislipidemia adalah kondisi yang cukup umum terjadi. Menurut statistik WHO yang dikutip di jurnal Science Direct, angka kejadian penyakit ini paling banyak terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika, dengan persentase kejadian 53,7% dan 47,7% secara berurutan.

Sementara itu, di negara-negara Asia Tenggara, penyakit ini memiliki persentase kejadian setinggi 30,3%. Di Indonesia, sebanyak 36% populasi yang berusia 25 tahun ke atas menderita penyakit ini, dengan 33,1% pasien pria dan 38,2% pasien wanita.

Dislipidemia adalah kondisi yang dapat diatasi dengan cara mengenali faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai penyakit ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala dislipidemia?

Pada umumnya, penderita tidak merasakan gejala apapun. Biasanya penderita baru mengetahui adanya penyakit ini saat sedang melakukan pemeriksaan untuk kondisi kesehatan lain.

Namun, apabila tidak segera ditangani, penyakit ini dapat menimbulkan masalah kesehatan lain seperti penyakit arteri koroner dan penyakit arteri perifer.

Keduanya dapat mengakibatkan beberapa komplikasi, seperti serangan jantung dan stroke. Beberapa tanda-tanda dan gejala yang mungkin Anda rasakan ketika mengalami dislipidemia adalah:

  • Kaki sakit, terutama saat berdiri atau berjalan
  • Nyeri dada
  • Dada tertekan dan terasa sesak
  • Kesulitan benapas
  • Sakit di leher, rahang, pundak, dan punggung
  • Gangguan pencernaan
  • Kepala pusing
  • Palpitasi jantung
  • Keringat dingin
  • Mual dan muntah
  • Pembengkakan di area kaki, perut, dan leher
  • Pingsan

Kemungkinan ada tanda-tanda atau gejala yang tidak disebutkan di atas. Apabila Anda memiliki kekhawatiran akan munculnya gejala tertentu, segera periksakan diri ke dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Tanyakan pada dokter apakah Anda dapat melakukan tes darah. Rekomendasi untuk usia pemeriksaan pertama bervariasi. T

Apabila hasil tes tidak menunjukkan kisaran yang memuaskan, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan di lain waktu. Dokter juga dapat menyarankan Anda melakukan tes yang lebih rutin jika Anda memiliki riwayat keluarga terhadap dislipidemia, penyakit jantung atau tekanan darah tinggi.

Namun, Anda perlu waspada jika Anda merasakan nyeri dada, kepala pusing, pingsan, atau masalah pernapasan. Kondisi ini harus mendapatkan penanganan medis sesegera mungkin.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, selalu periksakan diri ke dokter.

Penyebab

Apa saja jenis dan penyebab dislipidemia?

Berdasarkan penyebabnya, penyakit ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu primer dan sekunder. Berikut penjelasannya:

1. Dislipidemia primer

Jenis primer diturunkan dari anggota keluarga yang juga menderita penyakit ini. Jenis ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa subtipe, yaitu:

  • Familial combined hyperlipidemia

Jenis ini yang paling banyak ditemukan dalam kasus dislipidemia. Kondisi ini disebabkan oleh tingginya kadar kolesterol jahat dan trigliserida.

Kasus ini banyak ditemukan pada pasien berusia remaja atau 20 tahun ke atas. Jenis ini juga dapat meningkatkan risiko Anda terkena serangan jantung.

  • Familial hypercholesterolemia dan polygenic hypercholesterolemia

Keduanya ditandai dengan tingginya kadar kolesterol total. Anda dapat menghitung kolesterol total dengan cara menghitung kadar kolesterol LDL dan HDL Anda, bersama dengan setengah dari kadar trigliserida Anda.

  • Familial hyperapobetalipoproteinemia

Dalam kondisi ini, Anda memiliki kadar apolipoprotein B yang berlebihan di dalam tubuh Anda. Apolipoprotein B adalah salah satu jenis protein yang terdapat di kolesterol LDL.

2. Dislipidemia sekunder

Sementara itu, jenis sekunder disebabkan oleh faktor gaya hidup atau kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kadar lipid di dalam tubuh Anda.

Penyebab umum dislipidemia sekunder adalah:

  • Obesitas
  • Diabetes
  • Hipotiroidisme
  • Minum alkohol berlebihan
  • Sindrom PCOS
  • Sindrom metabolik
  • Banyak mengonsumsi makanan berlemak
  • Sindrom Cushing
  • Penyakit radang pencernaan (IBS)
  • Infeksi parah, seperti HIV
  • Aneurisma aorta pada perut

Dislipidemia adalah kondisi yang bisa disebabkan oleh faktor-faktor yang tidak dapat Anda ubah, misalnya karena keturunan alias bawaan genetik.

Penyebab gangguan lipid turunan perlu ditinjau apabila terdapat riwayat penyakit keluarga, terutama apabila penyakit kardiovaskular terjadi pada anggota keluarga di usia yang muda (di bawah 55 tahun pada pria dan di bawah 65 tahun pada wanita).

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk terkena dislipidemia?

Dislipidemia adalah kondisi yang dapat menimpa siapa saja dari berbagai golongan usia dan ras. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini.

Perlu Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau semua faktor risiko bukan berarti Anda dipastikan akan terkena penyakit ini. Ada pula kemungkinan Anda tetap terserang penyakit ini meskipun Anda tidak memiliki faktor risiko satupun.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang memicu munculnya penyakit ini:

1. Usia

Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada pasien berusia dewasa dan usia lanjut. Risiko Anda akan semakin tinggi seiring dengan bertambahnya usia.

Misalnya, ketika Anda bertambah tua, hati Anda semakin kesulitan mengatur kadar kolesterol LDL di dalam tubuh Anda.

2. Riwayat penyakit keluarga

Jika Anda memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit kardiovaskular atau hiperlipidemia, Anda memiliki peluang yang besar untuk terserang penyakit ini.

3. Memiliki berat badan berlebih atau obesitas

Apabila Anda memiliki berat badan yang melebihi batas wajar, atau indeks massa tubuh di atas 30, risiko Anda untuk terserang penyakit kolesterol lebih tinggi.

4. Memiliki pola makan yang buruk

Sering makan lemak jenuh dan tidak jenuh yang terdapat di daging atau produk olahan tertentu dapat meningkatkan kadar kolesterol Anda. Selain itu, makanan yang tinggi kolesterol, seperti daging merah dan produk olahan susu, dapat memicu munculnya penyakit ini.

5. Tidak aktif bergerak atau kurang olahraga

Olahraga dapat merangsang perkembangan kolesterol HDL atau kolesterol baik di dalam tubuh Anda. Kondisi ini dapat menyeimbangkan kadar kolesterol total dengan cara mengelola kolesterol LDL tubuh Anda.

Maka dari itu, apabila Anda jarang bergerak atau kurang berolahraga, Anda memiliki peluang lebih besar untuk terserang penyakit ini.

6. Aktif merokok

Rokok tembakau berpotensi merusak dinding pembuluh darah Anda. Kondisi tersebut dapat menyebabkan lipid lebih mudah menumpuk di dalam pembuluh darah. Merokok juga dapat menurunkan kadar kolesterol HDL di dalam tubuh Anda.

7. Menderita diabetes

Memiliki kadar gula darah yang tinggi dapat berpengaruh pada kadar kolesterol tubuh Anda. Kolesterol HDL akan mengalami penurunan, sedangkan LDL meningkat. Selain itu, gula darah yang tinggi juga berpotensi merusak lapisan pembuluh arteri Anda.

8. Terlalu sering mengonsumsi alkohol

Apabila Anda minum alkohol secara berlebihan, kemungkinan Anda untuk mengidap penyakit ini pun lebih besar.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang dapat disebabkan oleh dislipidemia?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dislipidemia adalah kondisi di mana terjadinya penumpukan lipid yang berlebihan pada pembuluh darah, terutama arteri.

Kondisi ini dapat memicu terjadinya penebalan arteri (aterosklerosis). Aliran darah di dalam arteri pun menjadi terhambat, sehingga berbagai komplikasi pun dapat muncul.

Beberapa komplikasi yang dapat disebabkan oleh penyakit ini adalah:

1. Nyeri dada

Apabila pembuluh arteri yang mengalirkan darah ke jantung terdampak (arteri koroner), Anda kemungkinan dapat mengalami nyeri dada (angina) dan gejala-gejala penyakit arteri koroner.

2. Serangan jantung

Penggumpalan darah berpotensi terjadi apabila arteri tersumbat. Hal ini dapat menyebabkan aliran darah terhambat dan jantung Anda tidak mendapat suplai darah yang cukup. Serangan jantung pun sangat mungkin terjadi.

3. Stroke

Sama seperti serangan jantung, stroke bisa terjadi apabila penggumpalan darah memotong aliran darah menuju otak Anda.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana dislipidemia didiagnosis?

Satu-satunya cara untuk mendiagnosis dislipidemia adalah dengan melakukan tes darah. Tes darah dapat melihat kadar kolesterol dan umumnya menunjukkan:

  • Total kolesterol
  • Kolesterol LDL
  • Kolesterol HDL
  • Trigliserida

Untuk pengukuran yang paling akurat, jangan mengonsumsi apapun selain air putih selama 9-12 jam sebelum sampel darah diambil.

Sebaiknya, lakukan tes darah setiap tahun, mengingat kadar kolesterol dan trigliserida di dalam darah Anda dapat selalu berubah. Hal ini penting, terlebih lagi jika dokter memberikan pengobatan tertentu untuk Anda.

Apa saja pengobatan untuk dislipidemia?

Langkah pertama untuk melawan dislipidemia adalah perubahan gaya hidup, seperti berolahraga dan mengonsumsi pola makan sehat. Namun, jika Anda telah melakukan perubahan gaya hidup ini dan kondisi Anda masih belum membaik, dokter akan merekomendasikan pengobatan.

Pilihan spesifik obat-obatan atau kombinasi obat tergantung dari berbagai faktor, termasuk faktor risiko individu, usia, kondisi kesehatan dan kemungkinan efek samping. Pilihan umumnya meliputi:

1. Statin

Obat statin dapat membantu menghambat zat yang diperlukan hati untuk menghasilkan kolesterol. Kondisi ini menyebabkan hati Anda mengeluarkan kolesterol dari darah.

Statin juga dapat membantu tubuh menyerap kembali kolesterol dari timbunan pada dinding arteri, sehingga penyakit arteri koroner dapat dicegah. Pilihan obat yang ada meliputi:

  • atorvastatin (Lipitor)
  • fluvastatin (Lescol)
  • lovastatin (Altoprev)
  • pitavastatin (Livalo)
  • pravastatin (Pravachol)
  • rosuvastatin (Crestor)
  • simvastatin (Zocor)

2. Resin pengikat asam empedu

Hati memanfaatkan kolesterol untuk menghasilkan cairan empedu, yaitu cairan yang penting dalam proses pencernaan di dalam tubuh.

Obat-obatan seperti cholestyramine (Prevalite), colesevelam (Welchol), dan colestipol (Colestid) menurunkan kolesterol secara tidak langsung dengan mengikat asam empedu.

Hal tersebut memicu hati untuk menggunakan kolesterol berlebih dalam menghasilkan asam empedu, yang mengurangi kadar kolesterol dalam darah.

3. Penghambat penyerapan kolesterol

Usus kecil Anda menyerap kolesterol dari makanan dan melepaskannya pada aliran darah. Obat ezetimibe (Zetia) membantu mengurangi kolesterol darah dengan membatasi penyerapan kolesterol dari makanan.

4. Obat suntik

Jenis obat ini dapat membantu hati menyerap lebih banyak kolesterol LDL, sehingga menurunkan kadar kolesterol yang bersirkulasi dalam darah.

Obat seperti alirocumab (Praluent) dan evolocumab (Repatha) dapat digunakan untuk orang-orang dengan masalah genetik yang menyebabkan tingginya kadar LDL.

Selain itu, obat ini juga dapat diberikan pada orang dengan riwayat penyakit arteri koroner, serta yang memiliki intoleransi terhadap statin atau obat kolesterol lainnya.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi dislipidemia?

Beberapa produk alami telah terbukti untuk mengurangi kolesterol. Dengan persetujuan dokter Anda, pertimbangkan suplemen dan produk yang menurunkan kolesterol berikut:

  • Jelai (barley)
  • Beta-sitosterol (ditemukan pada suplemen oral dan beberapa margarin seperti Promise Activ)
  • Blond psyllium (ditemukan pada kulit biji dan produk seperti Metamucil)
  • Oat bran (ditemukan pada oat meal dan oat utuh)
  • Sitostanol (ditemukan pada suplemen oral dan beberapa margarin, seperti Benecol).

Jika Anda memutuskan untuk mengonsumsi suplemen penurun kolesterol, ingatlah pentingnya gaya hidup yang sehat. Apabila dokter memberikan Anda obat penurun kolesterol, gunakan sesuai petunjuk. Pastikan dokter mengetahui suplemen apa saja yang sedang Anda gunakan.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber