home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Panduan Makanan Bergizi untuk Orang dengan Thalassemia

Panduan Makanan Bergizi untuk Orang dengan Thalassemia

Thalasemia adalah penyakit genetik yang diturunkan melalui darah keluarga. Penyakit thalasemia tidak ada obatnya, tapi berbagai gejala thalasemia dapat dikendalikan dengan terapi dan gaya hidup sehat. Salah satu hal yang harus diperhatikan untuk mengatasi thalasemia adalah soal pemilihan makanan. Pasalnya, penyakit ini sering kali menyebabkan masalah gizi pada penderitanya, sehingga dampaknya pun bisa lebih fatal. Lantas, apa saja pilihan makanan yang dianjurkan untuk penderita thalasemia?

Penderita thalasemia perlu memperhatikan konsumsi zat besi

makanan buah dan sayur yang baik dan bagus untuk pasien kanker ovarium

Orang dengan thalasemia rentan mengalami penumpukan zat besi dalam tubuh. Hal ini umumnya terjadi akibat prosedur pengobatan thalasemia berat, yaitu transfusi darah.

Orang dengan thalasemia ringan juga masih dapat menyerap zat besi dari makanan secara berlebihan.

Sekalipun penyerapan zat besi dari makanan tidak tidak terjadi dalam jumlah besar, orang dengan thalasemia, baik ringan maupun berat—tetap perlu memperhatikan asupan zat besinya.

Kelebihan zat besi di dalam tubuh tentu bisa menyebabkan masalah pada organ vital Anda, seperti hati dan jantung.

Studi tahun 2010 yang diterbitkan dalam The New York Academy of Sciences melaporkan bahwa masalah gizi yang paling sering ditemui pada orang-orang dengan thalasemia adalah kekurangan vitamin A, D, E, seng, hingga asam folat.

Masalah kekurangan gizi yang ditimbulkan penyakit ini mengakibatkan berbagai komplikasi thalasemia, seperti melemahnya sistem imun tubuh dan meningkatnya risiko terkena osteoporosis.

Sementara itu, thalasemia pada anak dan remaja dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang serta gangguan pubertas.

Panduan makanan untuk penderita thalasemia

Untungnya, orang dengan thalasemia masih bisa menjalani hidup yang lebih sehat apabila dibarengi dengan makan makanan bergizi.

Tentunya, pilihan menu makanan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan gizi untuk penderita thalasemia.

Berikut adalah kandungan nutrisi pada makanan yang perlu diperhatikan untuk penderita thalasemia.

1. Zat besi

Makanan tinggi zat besi dirasa sebagai pilihan yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien thalasemia. Zat besi membantu produksi hemoglobin sekaligus juga membantu produksi sel darah merah.

Namun, pemilihan makanan sumber zat besi untuk thalasemia harus mempertimbangkan kualitas dari jenis zat besinya itu sendiri.

Dalam Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics, dijelaskan bahwa kebutuhan zat besi bagi thalasemia dibedakan menjadi dua.

Orang-orang dengan thalasemia yang tidak menjalani transfusi darah disarankan untuk mengurangi produk makanan yang mengandung banyak zat besi.

Sementara itu, pasien thalasemia yang harus rutin transfusi darah dan menjalani kelasi besi, tidak perlu untuk menjalani diet rendah zat besi.

Pada kasus ini, diet rendah zat besi justru dianggap bisa menurunkan kualitas hidup orang dengan thalasemia.

Ingat, yang perlu dilakukan penderita thalasemia adalah mengurangi asupan zat besi, bukan menghindari sama seklai. Ketika Anda tidak mendapatkan asupan zat besi sama sekali, zink di dalam tubuh juga akan menurun.

Padahal, zink sangat penting untuk pembentukan kekebalan tubuh, menjaga kesehatan tulang, dan pertumbuhan.

Lalu, apa saja pilihan makanan yang perlu dikurangi untuk penderita thalasemia? Sebelumnya, Anda perlu mengetahui bahwa zat besi terbagi menjadi 2 jenis, yaitu heme dan nonheme.

Zat besi heme lebih mudah terserap oleh tubuh, sementara jenis nonheme harus dicerna secara tuntas sebelum terserap oleh tubuh.

Untuk penderita thalasemia yang tidak menjalani transfusi darah, sebaiknya kurangi konsumsi makanan dengan kandungan zat besi jenis heme, seperti:

  • daging merah (sapi, kambing, domba, dan babi),
  • ikan salmon,
  • dada ayam, dan
  • kerang hijau.

Sebagai pengganti, Anda bisa memilih makanan yang mengandung zat besi jenis nonheme untuk mencegah penumpukan zat besi berlebih, seperti:

  • tahu,
  • produk berbahan dasar gandum (roti gandum, biskuit, sereal oat),
  • kacang merah,
  • kacang lentil,
  • brokoli,
  • bayam,
  • telur, dan
  • kurma.

Penderita thalasemia juga dapat memilih makanan atau minuman yang dapat membantu mengurangi proses penyerapan zat besi, seperti teh dan susu.

2. Seng

makanan untuk penderita thalasemia

Nutrisi penting lain yang wajib terdapat dalam makanan untuk penderita thalasemia adalah zink.

Mineral ini bermanfaat untuk memperlancar pertumbuhan, menjaga sistem kekebalan tubuh, serta menjaga kesehatan dan kekuatan tulang.

Zink merupakan mineral yang tidak bisa disimpan di dalam tubuh, sehingga kita harus mendapatkannya dari makanan harian. Asupan zink dapat Anda peroleh dari makanan dan minuman, seperti:

  • daging merah
  • kacang-kacangan
  • telur
  • keju
  • susu
  • sereal berbahan gandum

Namun perlu diingat bahwa konsumsi daging pada pasien thalasemia masih harus dibatasi karena kandungan zat besinya yang tinggi. Anda bisa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mengenai takaran zink dan zat besi yang seimbang dalam menu harian Anda.

3. Vitamin D

protein untuk anak saat puasa

Kekurangan vitamin D juga merupakan kondisi yang banyak ditemukan pada orang thalasemia.

Padahal, vitamin D berperan untuk menyerap mineral pada jaringan tulang dan gigi, menjaga daya tahan tubuh, serta melawan berbagai macam penyakit yang mungkin timbul akibat sistem imun yang melemah karena thalasemia.

Vitamin D juga dapat mengurangi aktivitas sistem yang mengontrol tekanan darah Anda.

Oleh karena itu, pastikan penderita thalasemia mendapatkan asupan makanan dengan vitamin D yang cukup untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Anda bisa mendapatkan vitamin D melalui makanan seperti:

  • telur,
  • susu,
  • yoghurt,
  • tuna,
  • salmon,
  • sereal,
  • hati sapi,
  • minyak ikan, dan
  • jus jeruk.

Produk susu merupakan pilihan asupan gizi yang tepat bagi orang dengan thalasemia.

Susu berguna untuk mengurangi penyerapan zat besi yang berlebihan dari makanan, tetapi tetap memberikan manfaat ke tubuh sebagai sumber kalsium untuk memperkuat tulang.

4. Vitamin E

manfaat minyak biji bunga matahari untuk kulit

Vitamin E memiliki fungsi sebagai antioksidan, yaitu menjaga kerusakan sel akibat radikal bebas.

Zat gizi yang satu ini biasanya diproduksi ketika tubuh terpapar langsung dengan sinar UV, asap rokok, dan polusi yang menjadi penyebab utama berbagai penyakit kanker.

Vitamin E juga memiliki fungsi kekebalan, yaitu melindungi tubuh dari penyakit. Vitamin ini juga berperan untuk menjaga kesehatan dan fungsi berbagai sel dalam tubuh.

Sumber vitamin E yang baik untuk thalasemia adalah produk makanan yang mengandung lemak sehat, seperti:

  • minyak sayur,
  • minyak jagung,
  • biji bunga matahari,
  • sunflower oil,
  • kacang almond,
  • kacang hazelnut,
  • alpukat,
  • produk susu,
  • sereal, dan
  • telur.

5. Vitamin C

manfaat makan buah

Vitamin C adalah vitamin yang tak boleh Anda lewatkan dalam asupan makanan harian untuk penderita thalasemia. Vitamin ini penting untuk pertumbuhan dan perbaikan sel-sel dalam tulang, gigi, dan kulit.

Vitamin C juga melindungi tubuh Anda dari berbagai infeksi karena mampu memelihara fungsi sistem kekebalan tubuh.

Selain itu, vitamin C bekerja sebagai antioksidan yang membantu mencegah kerusakan sel akibat radikal bebas.

Sumber makanan tinggi vitamin C adalah sayur dan buah-buahan, seperti jeruk, stroberi, pepaya, dan stroberi.

Vitamin C meningkatkan penyerapan zat besi yang memainkan peran penting dalam fungsi tubuh Anda. Zat besi membantu membuat hemoglobin, bagian dari sel darah merah yang membawa oksigen.

Vitamin C juga membantu dalam produksi sel darah merah.

Namun, hindari konsumsi makanan sumber vitamin C berbarengan dengan makanan sumber zat besi untuk penderita thalasemia. Ini untuk menghindari penyerapan zat besi yang berlebihan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Cunningham, E. (2016). Is There a Special Diet for Thalassemia?. Journal Of The Academy Of Nutrition And Dietetics116(8), 1360. https://doi.org/10.1016/j.jand.2016.06.001

Fung, E. (2016). The importance of nutrition for health in patients with transfusion-dependent thalassemia. Annals Of The New York Academy Of Sciences1368(1), 40-48. https://doi.org/10.1111/nyas.13003

Taher, A., Viprakasit, V., Musallam, K., & Cappellini, M. (2013). Treating iron overload in patients with non-transfusion-dependent thalassemia. American Journal Of Hematology88(5), 409-415. https://doi.org/10.1002/ajh.23405

Fung, E. (2010). Nutritional deficiencies in patients with thalassemia. Annals Of The New York Academy Of Sciences1202(1), 188-196. https://doi.org/10.1111/j.1749-6632.2010.05578.x

Fung, E., Xu, Y., Trachtenberg, F., Odame, I., Kwiatkowski, J., & Neufeld, E. et al. (2012). Inadequate Dietary Intake in Patients with Thalassemia. Journal Of The Academy Of Nutrition And Dietetics112(7), 980-990. https://doi.org/10.1016/j.jand.2012.01.017

Fung, E., Aguilar, C., Micaily, I., Haines, D., & Lal, A. (2011). Treatment of vitamin D deficiency in transfusion-dependent thalassemia. American Journal Of Hematology86(10), 871-873. https://doi.org/10.1002/ajh.22117

Standard-of-Care Clinical Practice Guidelines – Northern California Comprehensive Thalassemia Center. (n.d.). Retrieved August 6, 2020, from https://thalassemia.com/treatment-guidelines-1.aspx#gsc.tab=0

Nutrition and Diet – Northern California Comprehensive Thalassemia Center. (n.d.). Retrieved August 6, 2020, from https://thalassemia.com/nutrition-and-diet.aspx#gsc.tab=0

Nutrition Corner – United Kingdom Thalassemia Society. (n.d.). Retrieved August 6, 2020, from https://ukts.org/treatment/nutrition/#more-5604

Iron – NZ Nutrition Foundation. (2018). Retrieved August 6, 2020, from https://nutritionfoundation.org.nz/nutrition-facts/minerals/iron#:~:text=There%20are%20two%20types%20of,as%20well%20by%20the%20body.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Rr. Bamandhita Rahma Setiaji Diperbarui 18/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.