Mengenal Siklus Tidur Bayi, Sejak Dalam Kandungan Hingga Setelah Lahir

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 18/02/2018
Bagikan sekarang

Pernahkah Anda terpikir apa saja yang dilakukan oleh bayi selama di dalam kandungan? Bayi bisa bergerak menendang perut ibunya, mendengar dan belajar suara-suara di sekitarnya, dan juga tertidur. Namun, di antara semua yang dilakukan, bayi lebih banyak tidur. Ini berefek pada siklus tidurnya setelah bayi dilahirkan. Lalu, bagaimana cara menata siklus tidur bayi agar menjadi normal?

Bayi menghabiskan waktunya untuk tidur di dalam kandungan

Saat usia kehamilan memasuki usia tujuh bulan, bayi menghabiskan banyak waktunya untuk tidur. Bahkan pada minggu ke-32, bayi bisa tidur hampir 90 sampai 95 persen setiap harinya. Beberapa jam dihabiskan dengan tidur nyenyak, beberapa di antaranya juga mengalami REM (rapid eye movement), dan juga tidur ayam. Ini disebabkan oleh hormon melatonin, yang memengaruhi siklus tidur dan bangun belum cukup matang pada otak bayi.

Sekitar bulan ke-7 perkembangan janin, gerakan mata cepat bayi (REM) akan terlihat pertama kalinya. Perkembangan otak bayi pada saat itu akan menyebabkan pergantian antara tidur REM dan non-REM yang berlangsung selama 20 sampai 40 menit. Namun, siklus tidur ini masih diperdebatkan dalam penelitian.

Siklus tidur bayi di dalam kandungan ternyata memengaruhi siklus tidur bayi setelah lahir

Pola tidur manusia dikendalikan oleh jam biologis tubuh, yang disebut ritme sirkadian. Jam ini menunjukkan siklus secara berulang setiap 24 jam dari hari terang dan hingga gelap. Bila mata merasakan kegelapan, maka otak akan melepaskan hormon melatonin dan membuat Anda menjadi mengantuk.

Namun pada bayi, hormon melatonin belum dihasilkan secara sempurna sampai bayi berusia tiga bulan. Di dalam kandungan, bayi mengandalkan sinyal dari jam biologis dari tubuh sang ibu. Melatonin sang ibu akan mengalir ke plasenta dan ini memengaruhi pola tidur bayi dan gerakan bayi.

Saat terlahir ke dunia, karena bayi belum memiliki hormon melatonin yang sempurna, ia akan memiliki siklus tidur yang tidak teratur. Bahkan, siklus tidurnya tidak berbeda jauh dengan siklus tidur saat di dalam kandungan. Untungnya, hormon melatonin yang dihasilkan dari tubuh ibunya bisa tersalurkan melalui ASI. Ini bisa membantu bayi untuk mengembangkan jam biologis pada tubuhnya.

Bayi yang baru lahir akan tidur selama 16 sampai 18 jam per hari. Namun, masa tidur nyenyak bayi hanya empat sampai enam jam saja. Begitu berusia sekitar dua minggu, Anda mulai bisa mengajarkan perbedaan gelapnya malam dan terangnya pagi dan siang hari. Sampai usia tiga bulan, barulah bayi akan memiliki siklus tidur yang teratur dan normal, yaitu lebih banyak menghabiskan waktu tidurnya di malam hari.

bahaya bayi tidur pakai selimut

Bagaimana cara menata siklus tidur bayi baru lahir?

Pada minggu awal kelahiran bayi, mungkin Anda akan mengalami sedikit kesulitan untuk tidur nyenyak sebab bayi masih sering terbangun di malam hari. Untuk itu, beberapa tips berikut dapat membantu Anda melatih jam tidur bayi supaya normal karena siklus tidurnya masih berantakan.

Pertama, sering-sering mengajak bayi jalan-jalan ke luar rumah untuk menikmati sinar matahari. Dilansir dari Science of Mom, sebuah studi mengamati bayi yang berusia 6 sampai 12 minggu yang memiliki tidur lebih baik di malam hari karena lebih banyak terpapar cahaya matahari pada pagi dan sore hari. Ini menunjukkan bahwa hormon melatonin pada bayi mengalami perkembangan setelah dijemur matahari pagi, sehingga siklus tidurnya lebih baik.

Kedua, biasakan rutinitas tidur yang konsisten, supaya bayi bisa beradaptasi lebih mudah dengan waktu tidur yang teratur. Kemudian, ciptakan suasana tidur yang nyaman pada malam hari, supaya bayi tidak mudah terbangun.

Ketiga, saat bayi mandi sore, berikan pijat-pijatan ringan pada tubuh bayi memberikan relaksasi pada tubuh bayi supaya bayi bangun dengan segar keesokan harinya. Menjelang tidur, Anda bisa memberikan ASI sambil mendekap tubuh bayi supaya lebih hangat dan lebih cepat tertidur di malam hari.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bayi Baru Lahir Menangis Tanpa Air Mata, Kenapa Ya?

Bayi menangis tidak keluar air mata, wajar adanya. Pada usia tiga hingga empat minggu, kelenjar air mata pada bayi masih dalam proses perkembangan.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda

Kenali Berbagai Masalah Perkembangan Bayi Sejak Dini

Penting bagi orangtua memerhatikan tanda masalah perkembangan bayi. Semakin cepat masalah ini ditemukan, semakin cepat pula perawatan bisa diberikan

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Memahami Tahap Perkembangan Kemampuan Bahasa Bayi

Kecepatan perkembangan kemampuan bahasa bayi tidak tidak selalu sama. Ketahui tahap-tahap perkembangan kemampuan bayi sesuai usia.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Purple Crying, Kondisi Saat Bayi yang Baru Lahir Terus-terusan Menangis

Istilah purple crying mungkin masih asing di telinga Anda. Padahal, purple crying adalah hal yang hampir pasti dialami bayi yang baru lahir.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji

Direkomendasikan untuk Anda

Waktu istirahat untuk anak

Tak Melulu Bermain, Waktu Istirahat Juga Penting untuk Tumbuh Kembang Anak

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020
frekuensi normal BAB bayi baru lahir

Begini Frekuensi Normal BAB Bayi yang Baru Saja Lahir

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 27/04/2020
rumah aman agar anak bebas bergerak

Tips Membuat Rumah Aman untuk Anak Bebas Bergerak

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 05/04/2020
bermain bersama bayi

Bermain Bersama Membuat Otak Bayi dan Orangtua Makin Terhubung

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 16/01/2020