5 Mitos Aborsi yang Ternyata Salah Besar dan Menyesatkan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 Maret 2018 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Ada berbagai alasan mengapa seseorang memilih melakukan aborsi dibanding melahirkan calon jabang bayinya. Sayangnya, kebanyakan wanita yang melakukan aborsi tidak benar-benar memahami apa itu aborsi secara medis dan tidak bisa mengakses informasi yang akurat seputar aborsi. Akibatnya, banyak wanita hanya mengandalkan berbagai mitos aborsi yang tentu saja menyesatkan sekaligus membahayakan. 

Berbagai mitos aborsi yang keliru

1. Aborsi bisa dilakukan kapan pun

Aborsi tak bisa dilakukan sembarangan waktu atau kapanpun saat seorang wanita menginginkannya.

Di beberapa negara, dokter diperbolehkan melakukan aborsi pada saat usia kandungan masih sangat muda, yaitu pada trimester pertama. Ada juga yang memperbolehkannya sampai trimester kedua.

Melakukan aborsi pada usia kandungan mencapai trimester ketiga sangat dilarang karena berkaitan dengan kehidupan janin dan ibu yang tengah mengandung. 

2. Semua wanita hamil boleh melakukan aborsi

Dalam dunia medis aborsi hanya dapat dilakukan karena kondisi medis tertentu, seperti terjadinya kehamilan di luar rahim (kehamilan ektopik), risiko keguguran, bayi cacat, serta kondisi kesehatan ibu yang dapat membahayakan nyawa keduanya.

Selain itu, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 16 tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi juga dijelaskan bahwa seorang wanita bisa melakukan aborsi apabila kehamilannya akibat perkosaan. Namun kondisi ini hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.

3. Aborsi bisa bikin mandul

Jika aborsi dilakukan secara ilegal sesuai dengan prosedur medis rumah sakit, belum ada bukti ilmiah bahwa aborsi bisa menyebabkan seseorang mandul atau tidak bisa hamil lagi. Pasalnya, abrosi tidak akan mempengaruhi kemampuan seseorang wanita untuk hamil, maupun kesehatan ibu dan janin pada saat kehamilan selanjutnya.

Namun jika Anda melakukan aborsi sendiri (ilegal), bersiaplah untuk beragam risiko yang akan mengintai Anda setelahnya. Pasalnya aborsi yang dilakukan secara ilegal tidak hanya bisa merusak kandungan Anda, tapi juga membahayakan diri hingga menyebabkan kematian. 

4. Aborsi lebih berbahaya dari melahirkan

Sama seperti melahirkan, aborsi memang bisa menyebabkan komplikasi. Meskipun begitu, beberapa penelitian tidak menunjukkan bahwa aborsi lebih bahaya daripada melahirkan. Pasalnya ini akan bergantung pada praktik aborsi yang Anda lakukan.

Justru hal paling berbahaya adalah ketika Anda melakukan aborsi di tempat praktik-praktik ilegal yang ditangani oleh orang yang tidak memiliki kemampuan medis mupuni dan tidak didukung dengan peralatan yang sesuai dengan standar bedah. Akan tetapi, bila dilakukan dalam lingkungan terkontrol dengan para ahli, misalnya di klinik bersalin atau rumah sakit, berbagai risiko dan komplikasi aborsi sangat bisa diminimalisir.

5. Aborsi menyebabkan depresi dan trauma psikologi berkepanjangan

Faktanya, seperti yang dilansir dari Huffington Post, 95 persen wanita yang melakukan aborsi pada akhirnya merasa telah membuat keputusan yang tepat. Ibu hamil yang memiliki kondisi medis tertentu, justru akan merasakan stres saat kehamilannya tidak berjalan normal dan malah membahayakan dirinya sendiri dan janin.

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir

Kalkulator ini dapat memperkirakan kapan hari persalinan Anda.

Cek HPL di Sini
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kapan Bisa Mulai Haid Lagi Setelah Aborsi?

Setelah aborsi, Anda tentu saja akan bisa haid lagi karena Anda sudah tidak lagi hamil. Namun, waktu kedatangannya bisa berbeda untuk tiap wanita.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Wanita, Menstruasi 7 September 2019 . Waktu baca 4 menit

Sebenarnya, Program Keluarga Berencana (KB) Itu Apa, Sih?

Program Keluarga Berencana (KB) yang dicanangkan oleh BKKBN terbukti turunkan angka kelahiran di Indonesia sejak tahun 1991. Apa lagi manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Seksual, Kontrasepsi 3 Maret 2019 . Waktu baca 8 menit

4 Fakta Penting Seputar Obat Aborsi yang Wajib Disimak

Aborsi atau menggugurkan kandungan juga bisa dilakukan dengan minum obat aborsi. Jangan langsung berpikiran negatif, cari tahu dulu tentang fakta obat ini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Persalinan, Melahirkan, Kehamilan 9 Januari 2019 . Waktu baca 4 menit

Pantangan dan Anjuran Bagi Ibu yang Baru Menjalani Aborsi

Setelah aborsi dengan prosedur medis yang aman di dokter ahli kandungan. Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan lagi. Agar tidak terjadi komplikasi.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Persalinan, Melahirkan, Kehamilan 2 Oktober 2018 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara menggugurkan kandungan

Cara Menggugurkan Kandungan Ketika Kehamilan Bermasalah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
aborsi

Aborsi, Prosedur Medis untuk Menggugurkan Kandungan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 28 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit
aps adalah antiphospholipid syndrome

Sindrom Antifosfolipid (APS)

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 16 November 2020 . Waktu baca 7 menit

Berbagai Bahaya yang Ditimbulkan Akibat Melakukan Aborsi Sendiri

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 1 April 2020 . Waktu baca 6 menit