home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Berbagai Bahaya yang Ditimbulkan Akibat Melakukan Aborsi Sendiri

Berbagai Bahaya yang Ditimbulkan Akibat Melakukan Aborsi Sendiri

Setiap tahunnya, angka aborsi di Indonesia meningkat. Bahkan, menurut laporan dari Guttmacher Institute, setiap tahunnya sekitar dua juta induksi aborsi dilakukan, termasuk cara aborsi sendiri.

Sayangnya, hampir sebagian besar wanita pada angka tersebut kurang mengetahui bahaya di balik aborsi ilegal. Simak ulasan di bawah ini untuk mengetahui betapa bahayanya melakukan aborsi tanpa bantuan dari ahlinya.

Apa itu aborsi ilegal?

hukum aborsi di Indonesia

Menurut WHO, aborsi yang tidak aman adalah prosedur yang dilakukan oleh seseorang tanpa memiliki keterampilan atau dilakukan di lingkungan yang sesuai untuk mengakhiri kehamilan.

Umumnya, aborsi yang ilegal dan tidak aman terjadi di tempat yang tidak memiliki izin praktek. Selain itu, metode ini juga lebih sering terjadi pada negara-negara berkembang, seperti di Indonesia.

Bahkan, cara aborsi yang satu ini termasuk dilakukan sendiri, tanpa bantuan dari klinik atau orang lain.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi.

Dalam pasal 31 disebutkan bahwa aborsi diperbolehkan, dengan beberapa alasan, seperti:

  • Kehamilan hasil dari pemerkosaan
  • Terdapat indikasi darurat medis

Selain itu, aborsi hasil dari pemerkosaan hanya boleh dilakukan ketika janin masih berusia di bawah 40 hari.

Berbagai cara aborsi sendiri membahayakan tubuh

Kehamilan yang tidak direncanakan tidak jarang memunculkan emosi yang cukup negatif. Mungkin bagi beberapa orang kabar ini adalah kegembiraan, namun tidak sedikit pula yang merasa terancam, panik, dan takut hingga memilih jalan aborsi.

Rasa takut dihakimi oleh keluarga dan orang lain sering membuat para wanita mencari cara aborsi sendiri di internet yang terlihat aman dan murah, seperti:

1. Tanaman herbal

Sumber: Jamuin

Menurut sebuah penelitian dari Journal of Toxicology, beberapa jenis tumbuhan tertentu telah digunakan sejak lama sebagai cara aborsi yang dilakukan sendiri.

Dari sekian banyak tumbuhan yang ada, terdapat tiga tanaman yang sering digunakan untuk mengakhiri kehamilan, yaitu:

  • Ruda (ruta chalpensis)
  • Cola de quirquincho (Lycopodium saururus)
  • Produk herbal yang dijual bebas, yaitu Carachipita

Di dalam penelitian tersebut juga disebutkan terdapat 15 kasus aborsi yang menggunakan tanaman secara oral.

Salah satu kasus di antaranya adalah pelaku aborsi mengalami kegagalan sistem organ tubuh ketika menelan ruda. Bahkan, ada seorang wanita yang meninggal akibat mengonsumsi Carachipita.

Penyebabnya pun sama, yaitu kegagalan sistem organ tubuh. Meskipun penelitian ini belum benar-benar bisa membuktikan bahaya dari tanaman herbal tersebut, konsumsi tanaman herbal bisa meningkatkan risiko kematian.

2. Aktivitas fisik

Selain mengonsumsi tanaman herbal, cara aborsi sendiri lainnya adalah dengan melakukan aktivitas fisik yang bisa menggugurkan kandungannya.

Pada 2007 terdapat sebuah penelitian dari Denmark yang mengungkapkan bahwa melakukan olahraga berat sebelum mencapai minggu ke-18 bisa meningkatkan risiko keguguran.

Di dalam penelitian tersebut ditemukan wanita yang rutin berolahraga cenderung berisiko keguguran 3.5 kali lebih besar dibandingkan mereka yang tidak olahraga sama sekali.

Mulai dari jogging, sepak bola, bola basket, dan permainan yang menggunakan raket memungkinkan potensi keguguran. Terlebih lagi jika aktivitas tersebut dilakukan lebih dari tujuh jam per minggu.

Selain itu, memaksakan diri untuk mengangkat barang yang berat terkadang menjadi cara yang cukup aneh bagi seseorang untuk menggugurkan kandungannya.

Meskipun terbilang cukup aman, aktivitas fisik ini tentu bisa berdampak buruk terhadap kesehatan Anda secara keseluruhan. Apalagi jika tujuannya untuk mengakhiri kehamilan Anda.

3. Melukai diri sendiri

melukai diri sendiri

Salah satu cara aborsi tanpa meminta bantuan dari dokter adalah melukai diri sendiri.

Melukai diri sendiri biasanya dilakukan untuk mengatasi rasa sakit secara emosional, kemarahan, dan frustasi sesaat.

Namun, cara ini ternyata juga dilakukan oleh para wanita yang ingin mengugurkan kandungannya. Mereka bisa melakukan beberapa cara yang cukup berbahaya, seperti:

  • Menjatuhkan diri sendiri
  • Memukul perut
  • Menusukkan benda tumpul ke dalam vaginanya.

Cara tersebut dilakukan agar janin yang ada di dalam perut mereka tidak dapat hidup kembali. Tentu saja dengan cara ini kesehatan tubuh akan menurun.

Oleh karena itu, melukai diri sendiri untuk mengakhiri kehamilan termasuk metode aborsi yang cukup berbahaya karena bisa membahayakan nyawa.

4. Minum obat-obatan yang dijual bebas

obat aborsi

Sebenarnya, cara yang paling sering dilakukan ketika aborsi sendiri adalah minum obat-obatan tanpa resep dari dokter.

Di Indonesia mungkin jenis obat aborsi ini tidak diperjual-belikan secara bebas, namun di negara lain biasanya mudah ditemukan di apotek terdekat.

Akan tetapi, tidak dipungkiri bahwa cara ini masih bisa diperoleh melalui online shop yang beredar di media sosial.

Pil aborsi ini biasanya lebih sering disebut mifepristone. Obat ini fungsinya untuk menghambat hormon progesteron yang bisa menyebabkan kandungan Anda pecah.

Menurut sebuah penelitian dari Journal of clinical and diagnostic research, penggunaan obat-obatan aborsi tanpa diawasi oleh dokter bisa meningkatkan risiko kematian.

Oleh karena itu, mengonsumsi obat aborsi diperlukan arahan dari dokter agar Anda mengetahui cara penggunaannya dan apa yang harus dilakukan setelahnya.

Bahaya dari aborsi yang dilakukan sendiri

solusio plasenta

Setelah mengetahui apa saja cara aborsi yang dilakukan sendiri, tentu saja cara ini kemungkinan besar mempunyai efek buruk terhadap tubuh.

Umumnya, aborsi yang menggunakan obat-obatan termasuk aman, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya komplikasi, seperti:

  • Obat tidak berfungsi dan kandungan tidak gugur
  • Jaringan kehamilan masih ada yang tertinggal di rahim
  • Pembekuan darah di rahim
  • Infeksi
  • Alergi terhadap salah satu obat aborsi

Jika kondisi di atas terjadi pada Anda, biasanya masih bisa diobati dengan perawatan yang dilakukan di rumah sakit.

Namun, ketika Anda mengalami beberapa gejala di bawah ini, segera periksakan ke dokter untuk menghindari risiko terjadinya komplikasi yang lebih berbahaya.

  • Tidak mengalami perdarahan setelah mengonsumsi obat selama 24 jam.
  • Perdarahan hebat dari vagina yang membutuhkan 2 pembalut selama 2 jam berturut-turut.
  • Mengeluarkan darah yang beku seukuran lemon selama lebih dari 2 jam.
  • Merasakan kram pada perut yang tidak kunjung sembuh setelah minum obat.
  • Demam dengan suhu lebih dari 38°C 24 jam setelah mengonsumsi obat aborsi.
  • Mengalami diare, mual, muntah, dan merasa lemas.

Komplikasi yang ditimbulkan akibat melakukan aborsi tanpa pengawasan dokter tentu membuat Anda semakin sadar bahwa metode di atas cukup berbahaya.

Oleh karena itu, cara aborsi sendiri tidak direkomendasikan untuk siapapun karena taruhannya cukup besar.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ciganda, C., & Laborde, A. (2003). Herbal infusions used for induced abortion. Journal of Toxicology: Clinical Toxicology. Retrieved 14November 2019. 

Danielsson, K. (2019). The Relationship Between Miscarriage and Exercise During Pregnancy. Retrieved 14 November 2019, from https://www.verywellfamily.com/does-exercise-cause-miscarriages-and-pregnancy-loss-2371373 

Ganatra, B. (2014). From concept to measurement: operationalizing WHO’s definition of unsafe abortion. World Health Organization. Retrieved 14 November 2019, from https://www.who.int/bulletin/volumes/92/3/14-136333/en/ 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Reproduksi. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Retrieved 14 November 2019. 

Nivedita, K., & Shanthini, F. (2015). Is It Safe to Provide Abortion Pills over the Counter? A Study on Outcome Following Self-Medication with Abortion Pills. Journal of clinical and diagnostic research : JCDR, 9(1), QC01–QC4. doi:10.7860/JCDR/2015/11626.5388 Retrieved 14 November 2019. 

Planned Parenthood. (2019). Is the Abortion Pill Safe? | Read About Abortion Pill Safety. Retrieved 14 November 2019, from https://www.plannedparenthood.org/learn/abortion/the-abortion-pill/how-safe-is-the-abortion-pill 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Adinda Rudystina
Tanggal diperbarui 01/04/2020
x