Kopi memang bisa membawa manfaat bagi kesehatan tubuh apabila diminum dalam jumlah yang wajar dan tetap diimbangi dengan air putih. Namun, minum kopi terlalu banyak bisa membawa berbagai efek samping bagi kesuburan pria.
Kopi memang bisa membawa manfaat bagi kesehatan tubuh apabila diminum dalam jumlah yang wajar dan tetap diimbangi dengan air putih. Namun, minum kopi terlalu banyak bisa membawa berbagai efek samping bagi kesuburan pria.

Beberapa pria minum kopi untuk meningkatkan kesuburannya. Bahkan, sebagian orang minum kopi campur telur dan madu untuk menambah stamina dan gairah seksualnya.
Kebiasaan ini tak ayal menyebabkan konsumsi kopi secara berlebihan. Penelitian dalam Reproductive Toxicology (2016) menemukan bahwa konsumsi kopi berlebihan bisa berdampak negatif bagi kesehatan pria.
Diketahui bahwa pria yang mengonsumsi lebih dari 300 mg kafein per hari atau setara 3 cangkir kopi memiliki fekundabilitas lebih rendah dibandingkan pria yang mengonsumsi kafein kurang dari 100 mg per hari.
Fekundabilitas adalah kemampuan sperma dalam membuahi sel telur. Karena pria yang terlalu banyak minum kopi memiliki fekundabilitas rendah, artinya sperma yang mereka hasilkan cenderung lebih sulit membuahi sel telur.
Meski demikian, dalam penelitian tersebut tidak disebutkan apakah fekundabilitas terjadi karena penurunan kualitas atau jumlah sperma.
Penelitian lain dalam Nutrition Journal (2017) menunjukkan bahwa asupan kafein yang berlebihan dapat memengaruhi aneuploidi.
Aneuploidi adalah kondisi kromosom yang tidak normal karena terjadi kesalahan selama proses pembelahan.
Meskipun tidak diketahui apakah aneuploidi terjadi pada kromosom seks, kondisi ini dinilai dapat berpengaruh pada jumlah dan kualitas sperma.
Efek buruk kopi terhadap kesuburan pria juga bisa terjadi meski Anda mengonsumsi kopi hitam.
Pasalnya, kafein yang dianggap dapat menurunkan kualitas dan jumlah sperma juga ditemukan dalam kopi hitam.
Sampai saat ini, efek buruk dari terlalu banyak minum kopi terhadap kesehatan sel sperma pria memang masih terus diteliti. Namun, Anda dianjurkan untuk membatasi asupannya.
Batas harian konsumsi kafein adalah 400 mg. Apabila dalam satu gelas kopi terkandung sekitar 100 mg kafein, Anda sebaiknya tidak minum lebih dari 4 cangkir kopi per hari.
Namun, harus diingat bahwa kafein tidak hanya terdapat dalam kopi, tetapi juga minuman lain, seperti soda, teh, hingga cokelat.

Kopi memang dikenal dapat meningkatkan kewaspadaan dan fokus. Inilah alasan mengapa minuman ini cukup banyak dicari, khususnya oleh para pekerja.
Namun, pastikan Anda selalu membatasi jumlah kopi yang diminum. Terlalu banyak minum kopi juga bisa membawa efek buruk pada kesehatan pria seperti berikut ini.
Kafein yang berlebihan di dalam tubuh akan mempersempit pembuluh darah. Kondisi ini dapat membuat tekanan pada pembuluh darah meningkat.
Kafein dalam secangkir kopi juga bisa meningkatkan hormon adrenalin yang menyebabkan efek samping berupa jantung berdebar atau palpitasi.
Jika dibiarkan terus, hal ini akan meningkatkan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi. Inilah alasan pengidap hipertensi disarankan untuk mengurangi konsumsi kafein.
Kafein dapat memblokir reseptor adenosin yang berfungsi menciptakan rasa kantuk. Kondisi ini membuat Anda tetap terjaga pada waktu yang seharusnya digunakan untuk tidur.
Namun, kebiasaan minum kopi hitam berlebihan bisa menimbulkan efek negatif untuk pola tidur pria. Akibatnya, Anda akan mengalami penurunan kualitas tidur dan berisiko mengalami insomnia.
Efek stimulan dari kafein dalam kopi hitam akan meningkatkan kewaspadaan. Akan tetapi, saat diminum terlalu banyak, kopi bisa menimbulkan efek mudah cemas dan gelisah bagi pria.
Hal tersebut terjadi karena senyawa adenosin yang dihasilkan kafein bisa meningkatkan tingkat katekolamin di dalam aliran darah.
Katekolamin adalah senyawa yang bisa memberikan efek serupa ketika seseorang menghadapi ketakutan. Inilah yang membuat Anda merasa cemas setelah minum kopi.
Efek terlalu banyak minum kopi bagi pria yang selanjutnya adalah menyebabkan diare. Seperti obat pencahar, kopi juga bisa membuat usus Anda bekerja lebih cepat.
Karena sifatnya yang asam, kopi juga bisa memicu naiknya asam lambung ke kerongkongan yang dapat menyebabkan maag atau refluks asam lambung (GERD).
Ada baiknya Anda tidak minum kopi saat perut kosong. Tanpa makanan, cairan asam lambung akan menumpuk sehingga risiko GERD saat minum kopi meningkat.
Kebiasaan minum kopi dapat menyebabkan caffeine withdrawal atau putus kafein, yaitu beragam gejala fisik dan emosional yang muncul setelah berhenti minum kopi.
Gejala putus kafein antara lain pusing, sakit kepala, sulit konsentrasi, dan perubahan suasana hati. Makin tinggi konsumsi kopi harian Anda, makin berat pula gejala yang Anda rasakan.
Namun, bukan berarti Anda tidak bisa berhenti minum kopi. Mulailah mengurangi konsumsi kopi Anda secara bertahap, tidak langsung menghentikannya sama sekali.
Di balik dampak negatifnya, kopi juga punya manfaat bila Anda konsumsi dengan bijak.Salah satunya yakni khasiat kopi untuk hubungan intim.
Kandungan kafein di dalam kopi dapat meningkatkan aliran darah sehingga bagus untuk performa di atas ranjang.
Dengan konsumsi yang seimbang dan tidak berlebihan, tentu pria bisa merasakan manfaat dari kopi tanpa harus mengalami efek samping yang merugikan.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Spilling the beans: How much caffeine is too much? (2023). U.S. Food and Drug Administration. Retrieved February 13, 2025, from https://www.fda.gov/consumers/consumer-updates/spilling-beans-how-much-caffeine-too-much
What doctors wish patients knew about the impact of caffeine. (2022). American Medical Association. Retrieved February 13, 2025, from https://www.ama-assn.org/delivering-care/public-health/what-doctors-wish-patients-knew-about-impact-caffeine
Ricci, E., Viganò, P., Cipriani, S., Somigliana, E., Chiaffarino, F., Bulfoni, A., & Parazzini, F. (2017). Coffee and caffeine intake and male infertility: A systematic review. Nutrition Journal, 16(1). https://doi.org/10.1186/s12937-017-0257-2
Wesselink, A. K., Wise, L. A., Rothman, K. J., Hahn, K. A., Mikkelsen, E. M., Mahalingaiah, S., & Hatch, E. E. (2016). Caffeine and caffeinated beverage consumption and fecundability in a preconception cohort. Reproductive Toxicology, 62, 39-45. https://doi.org/10.1016/j.reprotox.2016.04.022
Mills, J., & Yao, D. (2016). Male infertility: Lifestyle factors and holistic, complementary, and alternative therapies. Asian Journal of Andrology, 18(3), 410. https://doi.org/10.4103/1008-682x.175779
Versi Terbaru
20/02/2025
Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
Diperbarui oleh: Edria
Ditinjau secara medis oleh
dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa
General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro