Perdarahan yang terjadi selama masa kehamilan tidak boleh dianggap sepele. Pasalnya, ini bisa menandakan perdarahan antepartum yang berisiko membahayakan ibu hamil dan janin. Simak penjelasan mengenai gejala, penyebab, dan cara menanganinya berikut ini.
Apa itu perdarahan antepartum?
Perdarahan antepartum adalah perdarahan dari vagina yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu hingga sebelum persalinan dimulai. Artinya, perdarahan terjadi pada trimester kedua dan ketiga kehamilan.
Kondisi yang terjadi pada 2–5% kasus kehamilan ini tidak boleh dianggap normal. Bahkan, perdarahan ini bisa menandakan komplikasi kehamilan yang serius.
Walaupun volume darah yang keluar mungkin tidak banyak, Anda perlu segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami perdarahan saat hamil.
Diagnosis serta penanganan yang diberikan sejak dini dapat mengurangi risiko komplikasi yang berbahaya bagi ibu hamil dan janin.
Perbedaan perdarahan antepartum dan postpartum
Perdarahan antepartum dan postpartum bisa dibedakan dari waktu kemunculan gejalanya. - Perdarahan antepartum: terjadi sebelum persalinan, biasanya setelah usia kehamilan 20 minggu.
- Perdarahan postpartum: terjadi dalam 24 jam hingga 12 minggu setelah persalinan, baik melahirkan normal atau operasi caesar.
Tanda dan gejala perdarahan antepartum
Gejala utama perdarahan antepartum adalah keluarnya darah dari jalan lahir atau setelah usia kehamilan 20 minggu.
Banyaknya darah yang keluar pun bervariasi, bisa hanya berupa flek saat hamil atau keluarnya darah dalam jumlah banyak.
Beberapa tanda dan gejala perdarahan antepartum yang perlu diwaspadai adalah:
- perdarahan dari vagina, baik yang ringan maupun berat,
- nyeri pada punggung atau perut bawah,
- kontraksi rahim yang tidak biasa,
- tekanan pada panggul, serta
- berkurangnya gerakan janin.
Ketika ibu hamil kehilangan banyak darah, bisa terjadi kondisi gawat darurat yang disebut syok hipovolemik (hypovolemic shock).
Tanda-tanda syok tersebut dapat berupa pusing yang berat, keringat dingin, dan detak jantung yang cepat.
Anda harus segera menemui dokter jika mengalami kondisi ini. Penanganan yang cepat dan tepat dapat mencegah komplikasi serius.
Penyebab perdarahan antepartum

Dikutip dari situs Safer Care Victoria, hampir setengah kasus perdarahan antepartum tidak diketahui pasti penyebabnya.
Para ahli menyebutkan bahwa kondisi ini sering kali disebabkan oleh kelainan plasenta. Berikut ini adalah beberapa penyebab perdarahan saat hamil yang perlu diwaspadai.
Plasenta previa terjadi saat plasenta menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir.
Kondisi ini bisa menyebabkan perdarahan, terutama akibat robeknya pembuluh darah di area plasenta saat rahim meregang seiring pertambahan usia kehamilan.
Perdarahan akibat kelainan plasenta ini biasanya tidak disertai nyeri. Ibu hamil dengan plasenta previa perlu diawasi secara ketat, terutama bila perdarahan terjadi secara berulang.
Solusio plasenta adalah kondisi ketika plasenta lepas dari dinding rahim sebelum persalinan. Ini merupakan penyebab perdarahan antepartum yang sangat mengancam janin.
Pasalnya, kelainan plasenta ini berisiko membuat janin kehilangan pasokan oksigen dan zat gizi yang ia butuhkan karena jalurnya sudah terputus.
Penyebab lain dari perdarahan setelah kehamilan minggu ke-20 adalah vasa previa. Kondisi ini terjadi saat pembuluh darah pada tali pusat malah keluar dan melewati leher rahim.
Pembuluh darah ini mudah pecah karena dorongan janin di dalam rahim. Saat pembuluh darah pecah, ini bisa menyebabkan perdarahan berat yang membahayakan janin.
Selain itu, perdarahan saat hamil juga bisa disebabkan karena infeksi atau trauma pada saluran genital, pertumbuhan tumor pada sistem reproduksi, hingga pecahnya varises pada vagina.
Komplikasi perdarahan antepartum
Perdarahan antepartum dapat meningkatkan risiko komplikasi serius pada ibu hamil dan janin.
Pada ibu hamil, perdarahan berat akan menyebabkan anemia, syok, dan bahkan kematian bila tidak segera ditangani dengan baik.
Sementara pada janin, risiko yang mungkin timbul termasuk gangguan pertumbuhan, kelahiran prematur, hingga kematian bayi dalam kandungan (stillbirth).
Bahkan, menurut Royal College of Obstetricians & Gynaecologists, 1 dari 5 bayi yang terlahir sangat prematur (kurang dari 32 minggu) berkaitan erat dengan perdarahan antepartum.
Risikonya akan bertambah besar bila perdarahan terjadi pada trimester akhir dan tidak segera ditangani.
Maka dari itu, pemeriksaan rutin selama kehamilan merupakan salah satu langkah penting dalam upaya pencegahan perdarahan antepartum.
Penanganan perdarahan antepartum

Penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter kandungan, terutama bila darah yang keluar dari vagina cukup banyak dan disertai dengan nyeri hebat.
Meski demikian, perdarahan ringan pun tidak bisa disepelekan. Makin cepat penyebabnya diketahui, makin cepat Anda mendapatkan penanganan.
Untuk kasus ringan serta tanpa risiko tinggi, dokter dapat merekomendasikan ibu hamil bed rest dan melakukan pemeriksaan rutin untuk mengevaluasi kondisinya di kemudian hari.
Dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan, misalnya antibiotik untuk mengatasi infeksi dan kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru bila bayi kemungkinan lahir prematur.
Pada kasus perdarahan berat akibat kelainan plasenta, tindakan operasi caesar akan dilakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu dan janin.
Perdarahan antepartum adalah kondisi serius yang membutuhkan perhatian medis segera. Jika memiliki pertanyaan lebih lanjut, sebaiknya konsultasikan dengan dokter Anda.
Kesimpulan
- Perdarahan antepartum adalah perdarahan vagina yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu hingga sebelum proses persalinan dimulai.
- Komplikasi kehamilan ini dapat disebabkan oleh plasenta previa, solusio plasenta, dan vasa previa yang bisa membahayakan ibu dan janin.
- Penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasinya, seperti kelahiran prematur, gangguan pertumbuhan, hingga kematian pada ibu dan janin.