backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan
Konten

Mengenal Hamil Kebo dan Dampaknya bagi Kesehatan Ibu

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 20/07/2023

Mengenal Hamil Kebo dan Dampaknya bagi Kesehatan Ibu

Istilah hamil kebo menjadi bahan perbincangan beberapa kalangan masyarakat di Indonesia. Lalu, apa arti sebenarnya dari hamil kebo? Apakah kondisi ini berbahaya bagi kesehatan ibu dan janinnya? Simak pembahasan selengkapnya di bawah ini.

Apa itu hamil kebo?

Hamil kebo adalah istilah yang menggambarkan kondisi ketika seorang wanita tidak menyadari bahwa dirinya hamil karena tidak mengalami tanda-tanda kehamilan.

Dalam dunia medis, hamil kebo lebih dikenal sebagai cryptic pregnancy atau kehamilan samar.

Cryptic pregnancy membuat banyak wanita tidak sadar bahwa dirinya hamil sampai menjelang akhir masa kehamilan dan bahkan hingga waktu persalinan tiba.

Wanita umumnya menyadari dirinya hamil pada minggu ke-4 sampai minggu ke-12 kehamilan.

Hal ini dapat terjadi karena mereka mengalami tanda hamil, seperti telat menstruasi atau mual dan muntah, serta mendapatkan hasil positif saat melakukan tes kehamilan.

Namun, pada wanita yang mengalami hamil kebo, tidak ada kondisi yang membuat mereka merasa bahwa dirinya sedang hamil.

Tidak adanya tanda kehamilan, hasil test pack negatif palsu, atau kekeliruan bahwa gejala hamil disebabkan oleh kondisi lain umumnya menjadi penyebab kehamilan samar.

Seberapa umumkah kasus hamil kebo?

Kehamilan samar cukup jarang terjadi. Studi kasus dalam BMJ Case Reports (2014) menyebut hanya ada sekitar 1 dari 475 kehamilan yang baru diketahui setelah minggu ke-20 kehamilan. Sekitar 1 dari 2.500 kehamilan tidak diketahui sampai ibu melahirkan. 

Mengenal ciri-ciri hamil kebo

ciri-ciri hamil kebo

Beberapa wanita dengan hamil kebo tidak mengalami tanda-tanda kehamilan. Di samping itu, tandanya mungkin ada, tetapi wanita tersebut tidak menyadarinya.

Apabila mengalami kehamilan kebo, Anda mungkin akan mengalami beberapa ciri fisik dan psikologis berikut.

1. Tidak mual dan muntah

Kebanyakan wanita dengan hamil kebo tidak mengalami gejala mual dan muntah pada awal kehamilannya. Keluhan ini dikenal dengan istilah morning sickness.

Morning sickness adalah kondisi umum yang memengaruhi 70–80% ibu hamil. Hal ini sering terjadi pada trimester pertama atau tiga bulan pertama kehamilan.

Terlepas dari namanya, morning sickness sebenarnya bisa terjadi kapan saja sepanjang hari. Gejalanya cenderung membaik saat memasuki trimester kedua.

2. Lebih banyak makan

Nafsu makan Anda mungkin berkurang selama trimester pertama. Kondisi ini disebabkan oleh mual dan muntah yang membuat Anda malas makan.

Namun, ibu yang hamil kebo mungkin merasakan kondisi sebaliknya. Nafsu makannya cenderung meningkat sebab mereka tidak mengalami morning sickness seperti wanita lainnya.

3. Sering buang air kecil

Selain terlambat menstruasi, ibu hamil kebo cenderung lebih sering buang air kecil. Kondisi ini terjadi akibat meningkatnya volume plasma darah sepanjang kehamilan.

Artikel yang diterbitkan dalam jurnal American Journal of Clinical Nutrition (2017) menjelaskan volume plasma darah meningkat 30–50% hingga mendekati waktu persalinan.

Saat volume darah meningkat, ginjal akan bekerja ekstra untuk menyaring darah serta membuang limbah melalui urine. Akibatnya, Anda akan lebih sering buang air kecil.

4. Malas beraktivitas

Ciri-ciri hamil kebo lainnya yakni malas beraktivitas. Ini disebabkan oleh kelelahan pada awal kehamilan yang terjadi akibat meningkatnya kadar hormon progesteron dalam tubuh.

Ibu hamil mungkin merasakan kelelahan yang luar biasa saat usia kehamilan baru satu minggu. Akibatnya, mereka cenderung lebih malas beraktivitas dan mudah mengantuk.

5. Mood swing

Selain gejala fisik tersebut, ibu yang tidak menyadari kehamilannya mungkin juga mengalami tanda-tanda psikologis, seperti perubahan suasana hati atau mood swing.

Perubahan hormon selama kehamilan dapat memengaruhi bahan kimia di dalam otak Anda. Ini bisa menyebabkan perasaan gelisah, cemas, dan mudah marah.

Dampak hamil kebo pada kesehatan ibu dan janin

Ibu hamil kebo sering kali menjalani kehamilan tanpa gejala. Kondisi ini bisa berdampak negatif bagi kehamilan, sebab ibu tidak menyadari bahwa ada janin yang tumbuh di dalam kandungannya.

Berikut ini adalah beberapa risiko yang harus Anda waspadai saat menjalani kehamilan kebo.

  • Ibu tidak mendapatkan perawatan prenatal yang baik untuk menjaga kehamilan yang sehat.
  • Meningkatnya risiko komplikasi kehamilan, seperti preeklampsia dan diabetes gestational, karena ibu tidak memantau kehamilannya.
  • Ibu menjalani gaya hidup yang tidak sehat karena tidak sadar akan kehamilannya, misalnya tidak minum vitamin prenatal, makan makanan tidak sehat, merokok, dan minum alkohol.
  • Bayi mungkin lahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah (BBLR).

Penanganan untuk kehamilan kebo atau cryptic pregnancy ini akan disesuaikan dengan kapan ibu menyadari bahwa dirinya sedang hamil.

Jika masih ada waktu beberapa bulan sebelum persalinan, dokter akan memberikan pelayanan dasar sesuai dengan kebutuhan ibu hamil, seperti USG dan pemeriksaan fisik.

Cryptic pregnancy bisa memengaruhi pengalaman kehamilan, persalinan, dan hubungan Anda dengan bayi setelah melahirkan. 

Apabila Anda mengalami masalah se;ama kehamilan, pastikan Anda mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Bicarakan dengan pasangan, dokter, atau psikolog jika perlu bila Anda mengalami kesulitan.

Kesimpulan

  • Hamil kebo adalah istilah untuk seorang wanita yang tidak menyadari dirinya sedang hamil karena tidak mengalami tanda kehamilan yang umum.
  • Kondisi yang juga disebut cryptic pregnancy ini cukup jarang terjadi, tetapi berdampak negatif pada ibu dan janin karena kurang idealnya perawatan prenatal.
  • Beberapa ciri-ciri kehamilan kebo yakni tidak adanya mual dan muntah, nafsu makan yang meningkat, sering buang air kecil, kelelahan, dan perubahan suasana hati.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 20/07/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan