backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Mitos atau Fakta: Olahraga Jadi Penyebab Varikokel?

Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan · General Practitioner · None


Ditulis oleh Aprinda Puji · Tanggal diperbarui 18/06/2023

Mitos atau Fakta: Olahraga Jadi Penyebab Varikokel?

Varikokel adalah pembengkakan pembuluh darah vena di skrotum (buah zakar). Penyebabnya tidak diketahui secara pasti, tapi beredar informasi yang menyebutkan jika olahraga bisa jadi penyebab varikokel. Cari tahu kebenarannya dalam ulasan ini!

Benarkah olahraga jadi penyebab varikokel?

Olahraga memang berisiko menyebabkan varikokel. Temuan ini berasal dari sebuah studi tahun 2019 (jurnal Research and Reports in Urology) yang dilakukan pada atlet pria di Riyadh, Arab Saudi. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 48 atlet yang diperiksa, 22 di antaranya menderita varikokel.

Dalam studi tersebut, peneliti menjelaskan tingkat risiko terjadinya varikokel lebih tinggi terjadi pada atlet yang berolahraga lebih dari tiga kali per minggu. 

Meski demikian, peneliti sebenarnya menjelaskan kemungkinan terjadinya varikokel pada atlet pria. Olahraga bukanlah penyebab pasti varikokel, tapi latihan rutin pada atlet memang meningkatkan risikonya.

Penyebab terjadinya varikokel tidak diketahui secara pasti hingga kini.

Penyakit pada pria ini menyebabkan rasa nyeri saat Anda berdiri. Pada beberapa orang, tidur berbaring bisa meredakan rasa nyeri.

Di samping itu, varikokel yang cukup besar dapat terlihat di permukaan testis. Jika ukurannya cukup kecil, varikokel tidak dapat dilihat tapi bisa dirasakan lewat sentuhan adanya benjolan di testis. 

Bila diamati, testis yang terkena akan terlihat lebih kecil. Pada beberapa pria, varikokel menyebabkan infertilitas.

Penting Anda ketahui

Gejala varikokel bisa berbeda-beda pada setiap orang. Ada pula pria yang tidak menyadari karena tidak merasakan gejala nyeri atau benjolan.

Jenis olahraga yang berpotensi penyebab varikokel

olahraga angkat beban

Dari penelitian yang sama dan beberapa penelitian lain ada temuan bahwa kasus varikokel bisa terjadi pada beberapa atlet cabang olahraga tertentu.

  • Binaragawan: latihan angkat beban bisa menjadi salah satu pemicu pembengkakan pembuluh darah vena di skrotum.
  • Pemain bola basket, sepak bola, bola tangan, dan bola voli: risiko varikokel lebih tinggi ketimbang pria yang tidak aktif berolahraga.

Mekanisme bagaimana olahraga jadi penyebab varikokel belum diamati lebih lanjut. Namun, olahraga bisa menghalangi katup pembuluh darah di skrotum.

Varikokel terjadi ketika katup yang berfungsi menjaga darah tetap mengalir tidak berfungsi dengan baik. Di samping itu, jalur vena testis kiri rentan bermasalah karena memiliki jalur yang sedikit berbeda dengan vena kanan.

Ketika darah yang kekurangan oksigen tertahan di jaringan pembuluh darah vena kiri, terjadi pelebaran dan menyebabkan testis besar sebelah.

Gejala varikokel juga semakin bertambah parah selama olahraga dilakukan, terutama pada latihan angkat beban dan latihan aerobik.

Pencegahan yang bisa dilakukan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa olahraga tertentu berpotensi menjadi penyebab varikokel. Namun, hal ini tidak lantas diartikan bahwa olahraga buruk untuk kesehatan reproduksi pria.

Olahraga tetap memberikan banyak manfaat untuk kebugaran jasmani, mental, termasuk reproduksi pria sehingga Anda harus melakukannya secara rutin.

Sebagai tindakan pencegahan, Anda perlu menjalani olahraga yang sesuai dengan kemampuan tubuh dengan durasi yang tidak berlebihan.

Ikutilah tips olahraga untuk pria yang aman di bawah ini.

  • Mengatur durasi olahraga per sesinya dan frekuensi per minggunya dan sesuaikan dengan kondisi kesehatan tubuh.
  • Hindari melakukan jenis olahraga yang itu–itu saja. Kombinasikan beberapa olahraga kardio: joging, bersepeda, berenang, atau olahraga permainan.
  • Olahraga cukup 30 menit sebanyak 5 kali dalam seminggu.

Jika Anda masih kesulitan untuk membuat rencana olahraga, jangan ragu untuk konsultasi dengan dokter.

Disclaimer

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Andreas Wilson Setiawan

General Practitioner · None


Ditulis oleh Aprinda Puji · Tanggal diperbarui 18/06/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan