backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Ablasi Tiroid

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

Ablasi Tiroid

Hipertiroidisme adalah satu dari banyak kondisi kesehatan yang bisa mengganggu fungsi kelenjar tiroid. Untuk mengatasi kondisi ini, salah satu metode yang bisa Anda gunakan adalah ablasi tiroid.

Apa itu ablasi tiroid?

Ablasi tiroid adalah metode yang digunakan untuk menghancurkan kelebihan sel tiroid atau menghilangkan nodul (benjolan) pada kelenjar tiroid.

Kelebihan sel tiroid atau pertumbuhan nodul bisa menyebabkan berbagai penyakit tiroid, seperti hipertiroidisme hingga kanker tiroid.

Saat ini ada dua metode ablasi tiroid yang bisa digunakan, yaitu radioactive iodine (RAI) dan radiofrequency ablation (RFA).

1. Radioactive iodine (RAI)

Ablasi tiroid dengan metode RAI dilakukan dengan cara pemberian kapsul atau cairan yang mengandung yodium radioaktif-131 (I-131).

Partikel radioaktif yang terdapat dalam I-131 akan menghancurkan sel-sel pada kelenjar tiroid melalui radiasi.

Partikel tersebut akan langsung menyasar/menargetkan sel-sel tiroid. Maka dari itu, metode ini juga dikenal sebagai terapi target.

Laman Cancer Research UK menyebutkan bahwa sifat ablasi tiroid dengan radioactive iodine yang tertarget akan memperkecil risiko kerusakan sel sehat di sekitarnya.

2. Radiofrequency ablation (RFA)

pengobatan hipertiroid

Berbeda dengan RAI, ablasi frekuensi radio hanya berfokus untuk mengecilkan ukuran nodul atau benjolan di sekitar kelenjar tiroid.

Menurut UW Medicine, RFA juga bisa digunakan untuk mengatasi nodul tumor yang sudah terbukti bersifat jinak melalui biopsi.

Radiofrequency ablation dilakukan dengan cara menyalurkan frekuensi radio melalui jarum kecil yang ditusukkan ke sekitar leher Anda.

Ablasi tiroid dengan RFA memang dikenal lebih aman dibandingkan RAI dan operasi. Namun, metode ini belum terbukti bisa mengatasi hipertiroid dan membantu proses penyembuhan kanker.

Tujuan dan manfaat ablasi tiroid

Melansir dari Medline Plus, ablasi tiroid merupakan metode pengobatan yang bisa membantu mengatasi atau mengendalikan hipertiroid hingga kanker tiroid.

Berikut ini adalah bagaimana cara ablasi tiroid mengendalikan kedua kondisi tersebut.

1. Pengobatan hipertiroidisme

Terapi iodium radioaktif pada pasien hipertiroid akan membunuh sel tiroid yang terlalu aktif dan mengecilkan kelenjar tiroid yang membesar. Dengan begitu, produksi hormon tiroid bisa terkendali.

Namun, pasien hipertiroid yang menerima perawatan dengan metode ini mungkin juga diminta untuk minum obat levothyroxine.

Obat yang mengandung hormon tiroid sintetis ini diberikan jika perawatan dengan ablasi tiroid membuat pasien mengalami hipotiroidisme.

2. Pengobatan kanker tiroid

Ablasi tiroid umumnya dilakukan selang 3–6 minggu setelah operasi pengangkatan kanker tiroid.

Nantinya, I-131 akan bekerja dengan cara menghancurkan sel kanker yang mungkin masih tersisa setelah operasi.

Tak hanya menghancurkan sisa sel kanker tiroid, metode ini juga dapat membunuh sel kanker tiroid yang mungkin sudah menyebar.

3. Pengobatan nodul tiroid

Jika dibiarkan, nodul pada kelenjar tiroid bisa terus membesar. Meski tidak bersifat kanker, kondisi ini bisa mengganggu kemampuan Anda untuk menelan hingga bernapas.

Ukuran kelenjar tiroid yang lebih besar juga dapat mengganggu fungsinya sebagai penghasil hormon tiroid.

Oleh karena itu, dokter Anda mungkin akan menyarankan prosedur RFA untuk mengembalikan ukuran kelenjar tiroid.

Persiapan pengobatan ablasi tiroid

penyakit tiroid bisa sembuh

Selain tes darah untuk mengetahui kadar hormon tiroid Anda, berikut adalah rangkaian persiapan yang akan Anda lakukan sebelum menjalani perawatan dengan RAI.

  • Berhenti mengonsumsi obat penekan tiroid, seperti propylthiouracil atau methimazole, setidaknya satu minggu sebelum perawatan.
  • Menerapkan pola makan rendah yodium selama 1–2 minggu sebelum prosedur supaya penyerapan I-131 bisa maksimal.
  • Menerima suntikan hormon perangsang tiroid (TSH) supaya kelenjar tiroid bisa menyerap yodium radioaktif dengan lebih baik.
  • Jika Anda menyusui, dokter akan meminta Anda untuk menghentikannya selama enam minggu sebelum perawatan.

Selain itu, dokter perlu memastikan bahwa Anda tidak sedang hamil. Pasalnya, yodium radioaktif dapat melewati plasenta sehingga mengganggu perkembangan janin.

Sementara itu, tidak ada persiapan khusus untuk ablasi tiroid menggunakan frekuensi radio. Namun, metode ini juga tidak disarankan untuk ibu hamil.

Metode pelaksanaan ablasi tiroid

Berikut ini adalah perbedaan metode pelaksanaan ablasi tiroid menggunakan yodium radioaktif dan radiofrequency.

1. Radioactive iodine (RAI)

Setiap orang bisa menerima dosis yodium radioaktif yang berbeda. Umumnya, dosis untuk perawatan kanker lebih besar dibandingkan pengobatan hipertiroid.

Setelah menentukan dosisnya, dokter dapat memberikan yodium radioaktif melalui kapsul atau cairan untuk diminum. Tenang saja, ablasi tiroid bisa dibilang tidak menimbulkan rasa sakit.

Pasien yang menerima dosis rendah biasanya bahkan tidak perlu menjalani rawat inap. Namun, tak jarang Anda perlu rawat inap di rumah sakit selama 4–7 hari.

Ablasi tiroid umumnya hanya perlu dilakukan satu kali. Meski bisa langsung pulang, pasien biasanya akan diminta untuk menjalani isolasi selama tiga hari setelah menerima terapi RAI.

Saat isolasi, pastikan untuk menjaga jarak dengan orang di sekitar Anda. Hindari berbagi alat makan dan bersihkan kamar mandi dengan baik setelah menggunakannya.

Columbia Surgery menyebutkan bahwa perawatan dengan ablasi RAI biasanya mulai mengurangi gejala hipertiroidisme setelah empat minggu. 

2. Radiofrequency ablation (RFA)

Anda biasanya akan diminta datang ke rumah sakit satu jam sebelum menerima tindakan dengan RFA, sebab dokter mungkin perlu memberikan obat penenang dosis rendah untuk membuat Anda merasa rileks.

Sebelum menusukkan jarum kecil untuk menyalurkan radiofrequency, Anda akan menerima bius lokal.

Dokter akan melakukan pemantauan kinerja radiofrequency melalui sebuah probe yang menampilkan hasilnya pada sebuah layar.

RFA biasanya hanya berlangsung selama 30–60 menit dan Anda bisa langsung pulang satu jam setelahnya.

Sebagai bagian dari bedah minimal invasif, risiko efek samping RFA relatif kecil. Anda biasanya hanya merasakan sedikit nyeri pada bagian yang diberi anestesi.

Efek samping ablasi tiroid

Jika RFA umumnya meninggalkan rasa nyeri, ablasi dengan RAI biasanya meninggalkan beberapa efek samping berikut.

  • Pembengkakan kelenjar ludah yang terlihat seperti pipi bengkak.
  • Mulut kering.
  • Leher terasa nyeri dan bengkak.
  • Gastritis atau radang lapisan lambung.
  • Penurunan nafsu makan.
  • Mata kering.

Berbagai kondisi tersebut biasanya dapat membaik dengan sendirinya tanpa perawatan tambahan. Namun, jika kondisi Anda tidak juga membaik atau justru semakin parah, segeralah kunjungi dokter.

Selain itu, RAI mungkin juga menyebabkan hipotiroid atau bahkan berhentinya produksi hormon tiroid secara total.

Meski begitu, kondisi ini telah diperkirakan oleh dokter sehingga sudah ada solusinya, yaitu pemberian obat pengganti hormon tiroid, seperti levothyroxine.

Walaupun mengandung radioaktif, perawatan dengan radioactive iodine terbilang memiliki risiko rendah. Pasalnya, zat tersebut akan terbuang bersama urine dan keringat.

Kesimpulan

  • Ablasi tiroid dapat dibedakan menjadi radioactive iodine (RAI) dan radiofrequency ablation (RFA).
  • RAI dapat digunakan untuk mengatasi hipertiroidisme dan membantu pemulihan kanker tiroid. Sementara itu, RFA digunakan untuk mengecilkan nodul pada kelenjar tiroid.
  • RAI dilakukan dengan cara memberikan yodium radioaktif melalui obat yang diminum. Sementara itu, RFA dilakukan melalui pemberian suntikan pada area leher.
  • Sebelum menjalani terapi yodium radioaktif, Anda akan diminta untuk berhenti mengonsumsi obat penekan tiroid, mengurang konsumsi yodium, dan menerima hormon suntik hormon perangsang tiroid.
  • Metode ini jarang meninggalkan komplikasi. Namun, RAI mungkin membuat Anda mengalami pembengkakan kelenjar ludah, mulut kering, dan penurunan nafsu makan sementara.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 3 minggu lalu

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan