Memahami Neuropati Perifer, Kerusakan Saraf Tepi Akibat Pasca Kemoterapi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Kemoterapi adalah salah satu pengobatan yang paling sering dilakukan untuk mengusir sel-sel kanker. Meski begitu, ada banyak masalah yang mungkin muncul akibat kemoterapi. Ya, dampak kemoterapi kadang dapat berupa gejala ringan hingga menimbulkan masalah baru seperti neuropati perifer. Neuropati perifer adalah kerusakan sel saraf tepi pada bagian kulit, otot, persendian tulang dan kaki dan berbagai bagian tubuh lainnya.

Memang, tidak semua pasien yang menjalani kemoterapi pasti mengalaminya, hal ini tergantung dengan masing-masing kondisi dan jenis obat yang diberikan. Sebenarnya, apa saja gejala neuropati perifer? Seberapa bahaya jika pasien mengalami hal ini akibat kemoterapi?

Apa itu neuropati perifer?

Neuropati perifer adalah gangguan yang terjadi ketika bagian saraf tepi rusak. Saraf tepi sendiri merupakan bagian dari sel saraf yang membawa sinyal dari otak dan tulang belakang ke berbagai bagian tubuh lainnya.

Biasanya, gangguan ini sering diawali dengan gejala rasa nyeri dan tidak nyaman pada bagian tubuh yang mengalami kerusakan saraf tepi.  Ada banyak hal yang mungkin menyebabkan neuropati perifer, tapi yang cukup sering adalah dampak dari kemoterapi.

Gejala neuropati perifer akibat kemoterapi

Kerusakan sel saraf akibat kemoterapi dapat terjadi pada bagian tubuh kanan ataupun kiri. Namun, biasanya bagian terbawah tubuh akan rusak duluan, misalnya pangkal jari kaki dan perlahan pindah ke bagian kaki hingga naik ke tangan. Beberapa gejala yang dapat timbul pada awal kerusakan sel saraf di antaranya:

  • Sensasi nyeri yang tajam
  • Sensasi terbakar atau terasa seperti tersetrum
  • Kesemutan
  • Mulai mengalami kesulitan untuk mengerjakan kegiatan dengan kemampuan motorik sederhana seperti menulis, mengetik dan memakai kancing baju
  • Permukaan kulit terlalu sensitif
  • Refleks tubuh menurun
  • Mengalami gangguan keseimbangan sehingga mudah jatuh
  • Perubahan kepekaan terhadap suhu
  • Gangguan saat buang air kecil
  • Sembelit
  • Gangguan pendengaran
  • Kesulitan menelan
  • Nyeri pada bagian rahang

Semakin bertambahnya kerusakan saraf tepi dapat menyebabkan masalah kesehatan serius, seperti:

  • Paralisis
  • Kegagalan fungsi organ
  • Sering terjatuh
  • Gangguan bernapas
  • Perubahan denyut jantung
  • Perubahan tekanan darah

Gejala tersebut bisa muncul sejak awal kemoterapi dan bertambah buruk seiring pengobatan berlangsung. Pada beberapa pasien, gejala tersebut dapat muncul hanya sementara, atau bahkan bertahan hingga hitungan bulan, tahun, dan menetap.

Mengapa kemoterapi dapat menyebabkan neuropati perifer?

Kemoterapi dirancang untuk membunuh sel-sel yang sedang tumbuh. Obat kemoterapi akan menyebar ke seluruh bagian tubuh dan sel kanker secara otomatis hancur karena hal ini.

Namun sayangnya, sel normal lain yang sedang tumbuh dan berkembang ikut rusak karena sifat obat kemoterapi seperti itu. Kerusakan sel saraf merupakan salah satu efek samping dari pengobatan kemoterapi.

Sulit diketahui jenis obat apa yang paling berisiko untuk memicu kemoterapi karena setiap orang yang melakukan pengobatan menerima jenis obat kemoterapi yang berbeda.

Berikut beberapa jenis obat kemoterapi yang berkaitan dengan munculnya neuropati perifer:

  • Albumin-Bound Or Nab-Paclitaxel (Abraxane)
  • Bortezomib (Velcade)
  • Cabazitaxel (Jevtana)
  • Carboplatin (Paraplatin)
  • Carfilzomib (Kyprolis)
  • Cisplatin
  • Docetaxel (Taxotere)
  • Eribulin (Halaven)
  • Etoposide (VP-16)
  • Ixabepilone (Ixempra)
  • Lenalidomide (Revlimid)
  • Oxaliplatin (Eloxatin)
  • Paclitaxel (Taxol)
  • Pomalidomide (Pomalyst)
  • Thalidomide (Thalomid)
  • Vinblastine
  • Vincristine (Oncovin, Vincasar PES, Vincrex)
  • Vinorelbine (Navelbine)

Hal lain yang memicu neuropati perifer pada pasien kanker

Selain obat kemoterapi yang menyebabkan kerusakan sel saraf tepi, neuropati juga dapat terjadi dengan sendirinya atau bertambah jika penderita kanker memiliki beberapa faktor risiko seperti:

  • Diabetes
  • HIV
  • Mengalami infeksi
  • Mengalami herpes zoster
  • Mengalami penyakit peredaran darah
  • Mengalami kerusakan sel saraf akibat konsumsi alkohol
  • Kerusakan saraf tulang belakang
  • Mengalami kekurangan vitamin B

Selain kondisi kesehatan, kejadian dan perjalanan penyakit neuropati perifer pada pasien kanker dapat dipengaruhi oleh:

  • Usia
  • Obat-obatan lain yang dikonsumsi
  • Riwayat neuropati keluarga
  • Kombinasi dari obat kemoterapi
  • Dosis dan dosis total dari obat kemoterapi
  • Frekuensi penggunaan obat kemoterapi

Bisakah neuropati perifer dicegah?

Hingga saat ini belum ada cara yang efektif untuk mencegah kerusakan sel saraf tepi akibat kemoterapi. Namun para ahli menyebutkan bahwa menerapkan gaya hidup sehat dan makan makanan yang penuh nutrisi dapat melindungi sel saraf tepi dari kerusakan.

Penting juga untuk selalu berkomunikasi dengan dokter Anda, apalagi jika Anda memiliki riwayat penyakit kronis lain seperti diabetes atau penyakit jantung. Penyakit tersebut dapat mengganggu aliran darah dan bisa jadi pemicu dari kerusakan sel saraf tepi.

Orang yang lebih berisiko alami neuropati perifer, maka dosis obat kemoterapi yang diterima akan disesuaikan menjadi lebih ringan. Jika begitu, Anda mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk menjalani pengobatan kemoterapi.

Namun lagi-lagi, jangan sungkan untuk berdiskusi dan menanyakan rencana pengobatan serta risikonya pada dokter Anda. Pasalnya, setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda-beda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Anda Berisiko Kena Kerusakan Saraf? Cek di Sini!

Kerusakan pada saraf tepi disebabkan oleh berbagai kondisi yang sebenarnya sering Anda alami setiap harinya. Kenali dahulu apa saja penyebabnya, di sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Konten Bersponsor
kerusakan saraf tepi
Kesehatan Otak dan Saraf, Penyakit Saraf Tepi 1 Oktober 2019 . Waktu baca 4 menit

Penyebab Utama Kanker Mulut dan 7 Faktor Risiko yang Jarang Diketahui

Kanker mulut tidak boleh disepelekan. Mengetahui berbagai penyebab kanker mulut dapat mengurangi risiko Anda terkena penyakit ini di kemudian hari.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 12 September 2019 . Waktu baca 6 menit

5 Daftar Makanan Sehat yang Baik untuk Pasien Kemoterapi

Untuk mencegah efek samping saat menjalani terapi kanker, Anda bisa menyiasatinya dengan mengonsumsi makanan sehat untuk pasien kemoterapi berikut!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kanker 6 Juli 2019 . Waktu baca 4 menit

Tangan Sering Terasa Hangat, Pertanda Apa, Ya?

Penyebab tangan hangat sebenarnya sangat banyak, salah satunya adalah cuaca. Akan tetapi, ternyata kondisi ini juga disebabkan oleh gangguan kesehatan, lho.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kesehatan, Informasi Kesehatan 17 Mei 2019 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara mengobati obat kanker

Cara Mengobati Kanker, Mulai dari Minum Obat Hingga Prosedur Medis

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 12 menit
obat, pengobatan, dan cara mengobati kanker payudara

Jenis Obat dan Pengobatan Kanker Payudara yang Dapat Direkomendasikan Dokter

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 8 September 2020 . Waktu baca 13 menit
pengobatan dan cara mengatasi kanker darah leukemia

Ragam Obat dan Jenis Pengobatan untuk Mengatasi Leukemia

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 4 September 2020 . Waktu baca 8 menit
manfaat terapi akupuntur

Manfaat Terapi Akupuntur untuk Gangguan Sistem Saraf Tepi

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 28 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit