backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Mengenal Nyamuk Aedes Albopictus Penyebab DBD

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 4 minggu lalu

Mengenal Nyamuk Aedes Albopictus Penyebab DBD

Selama ini, nyamuk yang dikenal sebagai penyebab demam berdarah dengue (DBD) adalah Aedes aegypti. Namun, faktanya demam berdarah bisa disebabkan oleh nyamuk lain, yaitu Aedes albopictus.

Supaya bisa lebih waspada, kenali nyamuk Aedes albopictus melalui uraian berikut. Dengan begitu, Anda bisa melakukan tindakan pencegahan penularan demam berdarah yang lebih baik.

Ciri-ciri fisik nyamuk Aedes albopictus

Nyamuk Aedes albopictus atau yang juga dikenal dengan Asian tiger mosquito ini memiliki sayap gelap yang cukup mengkilap dengan corak tipis keperakan.

Sementara itu, skutum (punggung) nyamuk memiliki warna dominan hitam. Anda mungkin melihat garis-garis putih sampai di sekitar kaki, tetapi tidak terlalu rapat seperti Aedes aegypti.

Corak pada toraks atau dada (bagian di bawah kepala) Aedes albopictus juga terlihat lebih sederhana dengan satu garis putih saja, berbeda dengan aedes aegypti yang memiliki corak bergelombang.

Jika dibandingkan dengan Aedes aegypti, Asian tiger mosquito cenderung memiliki ukuran yang lebih kecil.

Meski tidak terlalu signifikan, nyamuk Aedes albopictus betina dinilai memiliki ukuran lebih besar. Secara umum, nyamuk ini berukuran 2–10 mm.

Perbedaan lain dari Asian tiger mosquito jantan dan betina dapat dilihat dari antena dan mulutnya. Antena nyamuk jantan cenderung diselimuti oleh bulu halus yang lebih tebal.

Sementara itu, nyamuk betina memiliki mulut yang lebih panjang. Bentuk ini membuatnya lebih mudah mengisap darah. Faktanya, jenis nyamuk yang mengisap darah memang hanya betina.

Meski lebih menyukai nektar, nyamuk pejantan tetap sering ditemukan menempel ke kulit manusia. Namun, ia tidak bertujuan mengisap darah Anda.

Karakteristik nyamuk Aedes albopictus

nyamuk malaria penyebab malaria

Meski sama-sama bisa menyebabkan demam berdarah dengue, kasus DBD akibat nyamuk Aedes albopictus memang tidak setinggi Aedes aegypti. Pasalnya, nyamuk ini lebih banyak ditemukan di hutan, bukan di rumah.

Supaya Anda lebih awas terhadap kehadiran Aedes albopictus di sekitar Anda, kenali karakteristiknya berikut ini.

1. Waktu mencari mangsa

Melansir dari situs Dauphin County Conservation District Home, Asian tiger mosquito disebut lebih suka berburu atau mencari makan di pagi dan siang menjelang sore hari.

Selain manusia, nyamuk DBD betina juga bisa mengisap darah hewan, khususnya hewan peliharaan.

Nyamuk DBD akan mencari mangsanya menggunakan palpus yang berada di bawah mulut mereka. Palpus dapat merasakan keberadaan karbon dioksida dari udara yang dihirup sehingga mengetahui keberadaan manusia.

2. Habitat

Meski diberi nama nyamuk macan Asia, penemuan pertama Aedes albopictus justru terjadi di Texas, Amerika Serikat pada tahun 1985.

Setelah itu, penyebaran Asian tiger mosquito memang cukup pesat, khususnya di wilayah beriklim tropis dan subtropis.

Meski bisa masuk ke rumah Anda, nyamuk ini lebih sering ditemukan di luar ruangan, khususnya kawasan hutan.

3. Sumber makanan

Makanan utama nyamuk harimau Asia jantan adalah nektar, cairan manis dari bunga atau tumbuh-tumbuhan. Sementara itu, nyamuk betina membutuhkan protein dari darah untuk berkembangbiak.

Nyamuk betina bahkan dinilai tetap bisa hidup tanpa asupan nektar selama mereka masih bisa mengisap darah.

Siklus hidup nyamuk Aedes albopictus

Laman Animal Diversity menyebutkan bahwa rentang hidup nyamuk Aedes albopictus secara umum adalah 30–40 hari dengan usia pejantan yang lebih singkat.

Berikut adalah siklus kehidupan nyamuk Aedes albopictus dari larva hingga menjadi nyamuk dewasa.

  1. Telur: berbentuk lonjong dengan warna hitam berukuran 0,5 mm. Waktu yang dibutuhkan telur untuk menjadi larva bisa berbeda-beda, tergantung dengan suhu dan kelembapan air di tempatnya berada.
  2. Larva atau jentik-jentik: bertahan hidup dengan makan mikroorganisme lain yang berada di sekitarnya. Siklus hidupnya sampai menjadi pupa bisa mencapai 42 hari. Namun, tahap pematangannya hanya berlangsung selama dua hari.
  3. Pupa atau kepompong: tahap transisi antara larva aedes albopictus menjadi nyamuk dewasa. Pada tahap ini, nyamuk akan mengembangkan sayap dan kakinya.
  4. Nyamuk dewasa: mulai bisa bereproduksi pada usia 7–8 hari. Nyamuk betina bisa mengeluarkan 100 butir telur dalam satu kali proses bertelur.

Cara mencegah gigitan nyamuk Aedes albopictus

Sebagai wilayah beriklim tropis, Indonesia memang menjadi tempat yang tepat untuk perkembangan nyamuk demam berdarah. Berikut ini adalah berbagai langkah pencegahan gigitan nyamuk Aedes albopictus.

  • Kuras bak mandi minimal seminggu sekali dan bersihkan genangan air di sekitar tempat tinggal secara berkala.
  • Gunakan losion anti nyamuk ketika akan bepergian, khususnya di wilayah hutan.
  • Dapatkan vaksin DBD, yaitu tetravalent dengue vaccine (TDV).
  • Gunakan pakaian yang menutup kulit dan longgar.
  • Pangkas tanaman liar di sekitar rumah.
  • Terapkan gaya hidup sehat untuk menjaga daya tahan tubuh.

Jika keberadaan nyamuk Asian tiger mosquito tidak juga berkurang setelah melakukan berbagai langkah pencegahan di atas, cobalah untuk menghubungi Dinas Kesehatan terdekat.

Apabila memenuhi persyaratan, pemerintah bisa memberikan fogging gratis di lingkungan Anda.

Kesimpulan

  • Nyamuk Aedes albopictus memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari Aedes aegypti. Nyamuk ini punya toraks dengan satu garis putih saja. Sementara itu, garis hitam putih di tubuh dan kakinya tidak terlalu rapat.
  • Asian tiger mosquito biasanya bertahan hidup selama 30–40 hari, berburu pada pagi dan siang menjelang sore hari, serta lebih banyak ditemukan di luar rumah.
  • Cegah gigitan nyamuk demam berdarah dengan menguras bak mandi seminggu sekali, menggunakan losion anti nyamuk, dan mendapatkan vaksin DBD.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 4 minggu lalu

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan