Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Coronavirus pada Sperma, Bisakah Menular Lewat Hubungan Seks?

Coronavirus pada Sperma, Bisakah Menular Lewat Hubungan Seks?

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Para peneliti di Tiongkok mendapatkan temuan baru terkait COVID-19. Mereka menemukan coronavirus pada sampel sperma pria yang positif terjangkit COVID-19. Temuan ini tentu menuai tanda tanya. Mungkinkah COVID-19 menular melalui hubungan seksual?

Setelah memasuki tubuh, SARS-CoV-2 diketahui dapat menyebar hingga ke paru-paru, ginjal, dan saluran pencernaan. Belum ada dugaan bahwa coronavirus dapat ditemukan pada sperma, meskipun bukan berarti mustahil. Lantas, bagaimana cara SARS-CoV-2 memasuki sistem reproduksi dan apa pengaruhnya bagi tubuh?

Kata peneliti tentang coronavirus pada sperma pasien

Sumber: Fertility Center of San Antonio

Penelitian tersebut dilakukan terhadap 38 pasien di Shangqiu, Tiongkok, yang sedang menjalani pengobatan COVID-19. Sebanyak 15 pasien diambil sampel spermanya saat masih menunjukkan gejala COVID-19, sedangkan sampel lainnya diambil dari 23 pasien yang baru pulih.

Sampel sperma kemudian diteliti untuk mendeteksi keberadaan SARS-CoV-2. Hasilnya, sebanyak enam sampel mengandung bahan genetik yang menyusun virus bermahkota tersebut. Jumlah ini setara dengan 16% dari total peserta penelitian.

Bila diuraikan, empat sampel berasal dari 15 pasien yang sakit, sedangkan dua sampel berasal dari 23 pasien yang baru pulih. Belum dipastikan apakah perbedaan angka ini berkaitan dengan kondisi kesehatan pasien saat pengambilan sampel.

Temuan ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya di Wuhan, Tiongkok. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 12 pasien yang baru saja pulih, berbeda dengan penelitian terbaru yang lebih berfokus pada pasien dengan gejala berat.

Mereka saat itu juga menemukan bahan genetik penyusun coronavirus pada beberapa sampel sperma pasien. Perbedaan hasil dengan penelitian di Shangqiu mungkin ada kaitannya dengan tingkat keparahan penyakit dan waktu pengambilan sampel.

Bagaimana SARS-CoV-2 bisa berada di sperma?

motilitas sperma

Testis, plasenta, dan sistem saraf pusat adalah contoh tempat pada tubuh yang dikenal sebagai immunoprivileged sites. Tempat-tempat ini mampu menyesuaikan diri dengan zat asing yang masuk ke tubuh tanpa memanggil sistem imun.

Ketika SARS-CoV-2 menginfeksi paru-paru, sel paru-paru dan sistem imun di dalamnya akan merespons dengan memanggil lebih banyak sel darah putih. Sel darah putih dapat membunuh virus, tapi proses ini juga memicu peradangan dan kerusakan jaringan paru.

Tempat-tempat yang termasuk immunoprivileged sites sedikit berbeda karena mereka terlindung dari peradangan dan kerusakan. Namun, virus kadang diuntungkan oleh hal ini. Bukannya hancur, SARS-CoV-2 justru bertahan dan ikut terlindung di dalamnya.

Penemuan virus pada immunoprivileged sites, sebenarnya bukan baru kali ini terjadi. Virus Ebola sebelumnya pernah ditemukan pada sperma pasien yang berhasil sembuh. Coronavirus dari tipe lain juga pernah terdeteksi pada sperma pasien yang terinfeksi.

gejala dan komplikasi coronavirus

Para peneliti belum sepenuhnya paham bagaimana SARS-CoV-2 dapat bertahan pada sperma. Mereka juga belum dapat menyimpulkan pengaruhnya pada kesehatan pasien maupun pengobatan. Pasalnya, hasil penelitian tentang topik ini masih amat beragam.

Salah satunya dilaporkan dalam penelitian pada jurnal Fertility and Sterility. Penelitian ini berfokus pada pasien yang sudah pulih selama hampir sebulan. Di antara 34 pria yang diteliti, tidak ada satu pun yang sampel spermanya mengandung coronavirus.

Bisakah COVID-19 menular lewat hubungan seksual?

kentut vagina

Temuan terkait coronavirus pada sperma pasien tentu menimbulkan kecemasan bagi sebagian orang. Terlebih lagi karena bahan genetik virus masih bisa dideteksi setelah pasien pulih dari COVID-19. Namun, Anda tidak perlu cemas akan hal ini.

Walaupun peneliti menemukan virus pada sperma, yang mereka temukan sebenarnya adalah bahan genetik penyusun virus, bukan SARS-CoV-2 dalam bentuk virus utuh. Bahan genetik tersebut tidak memiliki kemampuan menginfeksi seperti halnya virus.

COVID-19 memang dapat menular saat Anda berhubungan seksual, tapi penularannya kemungkinan besar bukan melalui sperma. Penularan terjadi karena Anda melakukan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi.

Ketika terjadi kontak dekat, Anda bisa saja menghirup droplet (percikan air liur) mengandung virus atau menyentuh sesuatu yang terkontaminasi virus. Virus kemudian masuk ke dalam tubuh saat Anda menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan.

Hilang Penciuman dan Pengecapan Bisa Jadi Gejala COVID-19

Masih banyak yang belum kita ketahui tentang COVID-19 dan virus penyebabnya, SARS-CoV-2. Meskipun terkesan tidak lazim, coronavirus yang ditemukan pada sperma pasien mungkin dapat menjadi petunjuk bagi para ilmuwan yang meneliti COVID-19.

Masyarakat setidaknya bisa sedikit tenang karena COVID-19 belum terbukti menular melalui hubungan seks. Penularan utama tetaplah melalui droplet, dan Anda dapat melindungi diri dengan cara mencuci tangan serta menerapkan physicial distancing.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Coronavirus found in infected men’s semen. (2020). Retrieved 11 May 2020, from https://www.livescience.com/coronavirus-found-in-semen.html

Coronavirus found in semen of young men with COVID-19. (2020). Retrieved 11 May 2020, from https://www.thejakartapost.com/life/2020/05/08/coronavirus-found-in-semen-of-young-men-with-covid-19.html

Li, D., Jin, M., Bao, P., Zhao, W., & Zhang, S. (2020). Clinical Characteristics and Results of Semen Tests Among Men With Coronavirus Disease 2019. JAMA Network Open, 3(5), e208292. doi: 10.1001/jamanetworkopen.2020.8292

Song, C., Wang, Y., Li, W., Hu, B., Chen, G., & Xia, P. et al. (2020). Absence of 2019 novel coronavirus in semen and testes of COVID-19 patients†. Biology Of Reproduction. doi: 10.1093/biolre/ioaa050

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 31/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro