Mengenal Gejala Sindroma Putus Alkohol, Alias Sakau Alkohol

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 13 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Minuman beralkohol merupakan salah satu jenis minuman yang peredarannya dibatasi di Indonesia, hal ini dikarenakan efek sampingnya yang membuat ketagihan. Lalu apa yang terjadi jika seseorang berhenti mengonsumsi alkohol? Terdapat efek samping lanjutan jika seseorang berhenti atau mengurangi konsumsi alkohol secara tiba-tiba. Ini dikenal dengan nama sindroma putus alkohol, atau bisa juga disebut sakau. Hal ini juga merupakan kondisi yang dapat berdampak pada kesehatan seseorang, dari timbulnya gejala ringan hingga berpotensi kematian.

Apa itu sindroma putus alkohol?

Sindroma putus alkohol adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seorang alkoholik (pecandu alkohol) yang mengurangi atau berhenti konsumsi alkohol. Gejala ini tidak akan dialami oleh seseorang yang tidak rutin mengonsumsi alkohol. Gejala putus alkohol dapat muncul dalam waktu sekitar 6 jam hingga 2 hari setelah konsumsi alkohol terakhir.

Sindroma putus alkohol diawali dengan gejala ringan seperti mual dan pusing, dan dapat bertambah parah seiring dengan berjalannya waktu hingga beberapa hari. Terdapat gejala yang disebut delirium tremens yang perlu ditangani segera karena dapat berakibat fatal bagi penderita.

Bagaimana sindroma putus alkohol dapat terjadi?

Pada umumnya, sindroma putus alkohol dialami oleh orang dewasa yang rutin mengonsumsi alkohol setiap hari, dalam durasi yang lama atau bertahun-tahun.  Semakin sering atau semakin banyak konsumsi alkohol harian, maka semakin besar risiko seseorang mengalaminya.

Sindroma putus alkohol itu sendiri merupakan suatu mekanisme tubuh dan respon reaktivitas otak akibat adanya perubahan keseimbangan dari konsumsi alkohol (ethanol) dari yang asalnya tinggi hingga menjadi rendah. Konsumsi alkohol rutin mengubah konsentransi dan fungsi dari protein Gamma-aminobutyric acid dan Excitatory amino acids, sehingga perubahan pola konsumsi alkohol secara tiba-tiba akan berdampak pada kedua protein dan menyebabkan munculnya gejala putus alkohol.

Meskipun demikian, tidak semua peminum alkohol rutin yang berhenti atau mengurangi konsumsi alkohol akan mengalami sindroma putus alkohol. Hal ini diperkirakan karena adanya faktor genetik dan kondisi kesehatan yang dapat memperburuk gejala putus alkohol pada seseorang.

Gejala dan ciri sindroma putus alkohol

Terdapat beberapa jenis gejala putus alkohol yang dapat dialami oleh seseorang, di antaranya:

Gejala putus alkohol ringan – disebabkan hiperaktivitas otak, muncul sekitar 6 jam setelah mengonsumsi alkohol, ditandai dengan:

  • Insomnia
  • Mengigil
  • Kecemasan ringan
  • Sakit perut disertai anoreksia
  • Sakit kepala
  • Berkeringat
  • Jantung berdebar kencang (palpitasi)
  • Ingin mengonsumsi alkohol kembali

Gejala putus alkohol pada tingkat ini dapat hilang dan tidak bertambah parah jika penderita kembali mengonsumsi alkohol dalam waktu 24 hingga 48 jam dari munculnya gejala. Namun gangguan serupa dapat muncul kembali pada episode gejala putuh alkohol ringan berikutnya.

Kejang akibat putus alkohol – biasanya terjadi dalam waktu 12 hingga 48 jam berhenti mengonsumsi alkohol. Gejala ini hanya terjadi pada individu yang sudah mengonsumsi alkohol dalam waktu puluhan tahun. Penanganan segera dengan konsumsi obat diperlukan untuk memperingan gejala kejang pada individu.

Halusinasi – dapat muncul dalam waktu 24 jam setelah tidak mengonsumsi alkohol sama sekali dan dapat berlangsung hingga 48 jam ke depan dan dapat dilanjutkan dengan gejala delirium tremens. Gejala halusinasi pada umumnya mempengaruhi indera pengelihatan, namun juga dapat mempengaruhi pendengaran. Halusinasi juga dapat terjadi saat kondisi vital penderita masih terbilang normal.

Delirium tremens (DT) – merupakan gejala paling serius dalam sindroma putus alkohol. Namun tidak semua penderita putus alkohol mengalaminya, diperkirakan hanya 5% penderita yang mengalami DT. Seseorang yang mengalami DT akan cenderung berhalusinasi dan mengalami disorientasi yang disertai dengan beberapa tanda fisik sepeti peningkatan detak jantung dan tekanan darah serta panas tubuh. DT dianggap serius karena terjadi akibat gangguan hemostasis cairan dan elektrolit pada individu alkoholisme yang berakibat pengurangan  aliran darah ke otak dan memicu gagal jantung.

Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi sindroma putus alkohol?

Gejala putus alkohol dapat dihentikan untuk menjadi bertambah parah jika seseorang benar-benar berhenti mengonsumsi alkohol sejak munculnya gejala ringan. Gejala putus alkohol akan bertambah parah di setiap episodenya sesuai dengan lamanya konsumsi alkohol secara rutin. Oleh karena itu, upaya yang dapat dilakukan adalah menghentikan bertambah parahnya ketergantungan minuman beralkohol dan mencegah terjadinya DT pada penderita.

Seseorang yang sudah pernah mengalami gejala kejang dan halusinasi akibat putus alkohol sebaiknya segera berobat. Hal ini diperlukan untuk memantau tekanan darah, suhu, dan detak jantung dalam mengantisipasi terjadinya DT. Penderita juga mungkin akan membutuhkan obat penenang untuk mengatasi kejang dan halusinasi.

Kesembuhan penderita sindroma putus akohol bergantung pada kerusakan dan fungsi tubuh dalam beradaptasi kembali serta seberapa baik perkembang untuk berhenti dari konsumsi alkohol. Sebagian besar gejala putus alkohol dapat hilang dengan sempurna, namun risiko kematian tetap ada, terutama jika DT terjadi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

Makanan tinggi garam bukan hanya membuat Anda berisiko mengalami tekanan darah tinggi. Simak berbagai bahaya makanan asin pada tubuh kita.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Hidup Sehat, Tips Sehat 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Jangan sampai berbagai efek samping imunisasi (vaksin) bikin Anda takut apalagi ragu diimunisasi. Pelajari dulu seluk-beluknya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

11 Prinsip Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Sehari-hari

Banyak kebiasaan sehari-hari yang tanpa Anda sadari dapat berdampak negatif pada kesehatan mulut dan gigi. Begini cara mengakalinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 16 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gejala leptospirosis

Cara Mengatasi Gejala Leptospirosis, Penyakit Khas di Musim Hujan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
bikin kopi yang sehat

6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
perlukah lansia minum susu

Apakah Lansia Masih Perlu Minum Susu? Berapa Banyak yang Dibutuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit