Mengenal Gejala Sindroma Putus Alkohol, Alias Sakau Alkohol

Oleh

Minuman beralkohol merupakan salah satu jenis minuman yang peredarannya dibatasi di Indonesia, hal ini dikarenakan efek sampingnya yang membuat ketagihan. Lalu apa yang terjadi jika seseorang berhenti mengonsumsi alkohol? Terdapat efek samping lanjutan jika seseorang berhenti atau mengurangi konsumsi alkohol secara tiba-tiba. Ini dikenal dengan nama sindroma putus alkohol, atau bisa juga disebut sakau. Hal ini juga merupakan kondisi yang dapat berdampak pada kesehatan seseorang, dari timbulnya gejala ringan hingga berpotensi kematian.

Apa itu sindroma putus alkohol?

Sindroma putus alkohol adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seorang alkoholik (pecandu alkohol) yang mengurangi atau berhenti konsumsi alkohol. Gejala ini tidak akan dialami oleh seseorang yang tidak rutin mengonsumsi alkohol. Gejala putus alkohol dapat muncul dalam waktu sekitar 6 jam hingga 2 hari setelah konsumsi alkohol terakhir.

Sindroma putus alkohol diawali dengan gejala ringan seperti mual dan pusing, dan dapat bertambah parah seiring dengan berjalannya waktu hingga beberapa hari. Terdapat gejala yang disebut delirium tremens yang perlu ditangani segera karena dapat berakibat fatal bagi penderita.

Bagaimana sindroma putus alkohol dapat terjadi?

Pada umumnya, sindroma putus alkohol dialami oleh orang dewasa yang rutin mengonsumsi alkohol setiap hari, dalam durasi yang lama atau bertahun-tahun.  Semakin sering atau semakin banyak konsumsi alkohol harian, maka semakin besar risiko seseorang mengalaminya.

Sindroma putus alkohol itu sendiri merupakan suatu mekanisme tubuh dan respon reaktivitas otak akibat adanya perubahan keseimbangan dari konsumsi alkohol (ethanol) dari yang asalnya tinggi hingga menjadi rendah. Konsumsi alkohol rutin mengubah konsentransi dan fungsi dari protein Gamma-aminobutyric acid dan Excitatory amino acids, sehingga perubahan pola konsumsi alkohol secara tiba-tiba akan berdampak pada kedua protein dan menyebabkan munculnya gejala putus alkohol.

Meskipun demikian, tidak semua peminum alkohol rutin yang berhenti atau mengurangi konsumsi alkohol akan mengalami sindroma putus alkohol. Hal ini diperkirakan karena adanya faktor genetik dan kondisi kesehatan yang dapat memperburuk gejala putus alkohol pada seseorang.

Gejala dan ciri sindroma putus alkohol

Terdapat beberapa jenis gejala putus alkohol yang dapat dialami oleh seseorang, di antaranya:

Gejala putus alkohol ringan – disebabkan hiperaktivitas otak, muncul sekitar 6 jam setelah mengonsumsi alkohol, ditandai dengan:

  • Insomnia
  • Mengigil
  • Kecemasan ringan
  • Sakit perut disertai anoreksia
  • Sakit kepala
  • Berkeringat
  • Jantung berdebar kencang (palpitasi)
  • Ingin mengonsumsi alkohol kembali

Gejala putus alkohol pada tingkat ini dapat hilang dan tidak bertambah parah jika penderita kembali mengonsumsi alkohol dalam waktu 24 hingga 48 jam dari munculnya gejala. Namun gangguan serupa dapat muncul kembali pada episode gejala putuh alkohol ringan berikutnya.

Kejang akibat putus alkohol – biasanya terjadi dalam waktu 12 hingga 48 jam berhenti mengonsumsi alkohol. Gejala ini hanya terjadi pada individu yang sudah mengonsumsi alkohol dalam waktu puluhan tahun. Penanganan segera dengan konsumsi obat diperlukan untuk memperingan gejala kejang pada individu.

Halusinasi – dapat muncul dalam waktu 24 jam setelah tidak mengonsumsi alkohol sama sekali dan dapat berlangsung hingga 48 jam ke depan dan dapat dilanjutkan dengan gejala delirium tremens. Gejala halusinasi pada umumnya mempengaruhi indera pengelihatan, namun juga dapat mempengaruhi pendengaran. Halusinasi juga dapat terjadi saat kondisi vital penderita masih terbilang normal.

Delirium tremens (DT) – merupakan gejala paling serius dalam sindroma putus alkohol. Namun tidak semua penderita putus alkohol mengalaminya, diperkirakan hanya 5% penderita yang mengalami DT. Seseorang yang mengalami DT akan cenderung berhalusinasi dan mengalami disorientasi yang disertai dengan beberapa tanda fisik sepeti peningkatan detak jantung dan tekanan darah serta panas tubuh. DT dianggap serius karena terjadi akibat gangguan hemostasis cairan dan elektrolit pada individu alkoholisme yang berakibat pengurangan  aliran darah ke otak dan memicu gagal jantung.

Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi sindroma putus alkohol?

Gejala putus alkohol dapat dihentikan untuk menjadi bertambah parah jika seseorang benar-benar berhenti mengonsumsi alkohol sejak munculnya gejala ringan. Gejala putus alkohol akan bertambah parah di setiap episodenya sesuai dengan lamanya konsumsi alkohol secara rutin. Oleh karena itu, upaya yang dapat dilakukan adalah menghentikan bertambah parahnya ketergantungan minuman beralkohol dan mencegah terjadinya DT pada penderita.

Seseorang yang sudah pernah mengalami gejala kejang dan halusinasi akibat putus alkohol sebaiknya segera berobat. Hal ini diperlukan untuk memantau tekanan darah, suhu, dan detak jantung dalam mengantisipasi terjadinya DT. Penderita juga mungkin akan membutuhkan obat penenang untuk mengatasi kejang dan halusinasi.

Kesembuhan penderita sindroma putus akohol bergantung pada kerusakan dan fungsi tubuh dalam beradaptasi kembali serta seberapa baik perkembang untuk berhenti dari konsumsi alkohol. Sebagian besar gejala putus alkohol dapat hilang dengan sempurna, namun risiko kematian tetap ada, terutama jika DT terjadi.

Baca Juga:

Sumber