3 Jenis Obat Simptomatik Paling Umum dan Efek Sampingnya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Menyembuhkan penyakit tentu butuh obat. Namun pastinya harus obat yang sesuai dengan tujuannya. Pada dasarnya ada dua jenis obat yang paling umum untuk menyembuhkan penyakit berdasarkan tujuannya, yaitu obat simptomatik dan kausif. Obat simptomatik adalah obat untuk meredakan gejala dari penyakit. Apa saja yang termasuk dalam jenis obat ini?

Obat simptomatik adalah pereda gejala

Obat simptomatik adalah obat untuk meredakan gejala umum dari suatu penyakit, seperti sakit kepala, demam, mual-muntah, diare, ataupun nyeri.

Sesuai dengan namanya, obat ini hanya sebatas mengatasi gejala tapi tidak menyembuhkan penyebab dasar penyakitnya. Misalnya sakit kepala yang disebabkan oleh hipertensi. Obat simptomatik meredakan gejala sakit kepalanya, tapi tidak menyembuhkan hipertensi yang Anda miliki.

Obat simptomatik bisa didapatkan dengan atau tanpa resep dokter di toko obat atau apotek.

Jenis obat simptomatik dan risiko efek sampingnya jika digunakan sembarangan

Obat simptomatik paling umum adalah ibuprofen, paracetamol, obat antiemetik, dan obat penenang (antidepresan). Sama seperti obat-obatan lain, obat ini juga punya jangka waktu tersendiri sampai kapan harus digunakan.Bila digunakan terus menerus, zat obatnya ini dapat menyebabkan efek samping berbahaya.

Berikut adalah 3 jenis obat simptomatik yang umum serta risiko efek sampingnya:

1. Obat NSAID

Obat NSAID adalah obat pereda nyeri nonsteroid yang biasa digunakan untuk meredakan gejala seperti demam atau nyeri akibat peradangan. Misalnya keseleo, sakit kepala, migrain, nyeri haid, dan rematik. Jenis NSAID yang paling umum adalah aspirin dan ibuprofen.

Beberapa efek samping yang serius akibat mengonsumsi obat NSAI terus-terusan adalah:

  • Sakit perut atau perut terasa perih/panas
  • Sembelit
  • Diare
  • Stroke
  • Tekanan darah tinggi
  • Gagal jantung akibat pembengkakan tubuh (retensi cairan)
  • Masalah ginjal, termasuk gagal ginjal
  • Perdarahan dan luka di lambung dan usus

2. Obat antidepresan

Antidepresan adalah obat simptomatik yang digunakan untuk meredakan gejala depresi, seperti sulit tidur, mudah marah, nafsu makan berkurang, dan sering gelisah.

Lebih dari 30% orang yang menjalani terapi antidepresan merasakan efek samping pada minggu-minggu awal mulai minum obat. Efek samping yang paling sering muncul antara lain:

  • Mual
  • Pusing
  • Jari atau tangan gemetar
  • Berkeringat

Namun, biasanya efek samping tersebut akan hilang sendiri dalam waktu beberapa hari. Sementara efek samping yang cukup mengganggu adalah insomnia, gelisah, panik, kehilangan gairah seksual, dan berat badan bertambah

3. Obat antihistamin

Antihistamin adalah obat jenis simptomatik yang berfungsi untuk meredakan gejala alergi seperti gatal pada kulit, bersin-bersin, mata berair, dan mual.

Ada beberapa efek samping yang dapat terjadi saat mengonsumsi obat ini, antara lain:

  • Mengantuk (sebaiknya hindari menyetir setelah konsumsi obat ini)
  • Mual
  • Muntah
  • Kehilangan selera makan
  • Sembelit atau susah buang air besar
  • Dada terasa sesak
  • Kelemahan otot
  • Hiperaktif, terutama pada anak-anak
  • Gugup

Beberapa efek samping yang serius dapat termasuk:

  • Masalah penglihatan, contoh mata jadi buram
  • Kesulitan buang air kecil atau nyeri saat buang air kecil

Dua efek samping srius ini cenderung lebih sering terjadi pada orang tua.

Ada baiknya selalu konsultasi dan tanyakan pada dokter tentang cara pakai dan ketentuan dosis setiap obat apa pun yang harus Anda minum.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca