Mana yang Lebih Sehat: Minum Air Galon atau Air Rebusan dari Keran?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 02/12/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Dari mana sumber air minum di rumah Anda? Air dalam kemasan atau air keran yang direbus? Kebanyakan orang menyediakan air galon khusus untuk minum dan masak. Sementara itu, sebagian rumah tangga memilih untuk merebus dari air keran. Namun, sebenarnya mana yang lebih sehat dan bersih untuk diminum? Pelajari perbandingan air galon dan air keran berikut ini, yuk.

Apakah air galon pasti aman?

Air minum dalam kemasan yang dijual dalam bentuk galon memang kesannya lebih aman. Pasalnya, dilihat dari iklannya air galon tampak diproses secara higienis. Akan tetapi, sebelum memercayakan pilihan pada air galon, sebaiknya perhatikan apakah merek air galon tersebut sudah mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan telah diuji sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Air minum yang belum mendapat izin dari BPOM dan SNI berisiko mengandung berbagai jenis bakteri patogen penyebab penyakit.

Bila merek sudah terstandardisasi, cari tahu tanggal kadaluwarsanya. Jangan mengonsumsi air minum yang sudah lewat dari masa berlaku yang dicantumkan. Air memang tidak bisa kadaluwarsa, tetapi air yang dikemas dalam galon berbahan dasar plastik berisiko terkontaminasi bakteri dan zat kimia beracun kalau sudah terlalu lama. Ini karena selama galon disimpan di gudang atau toko, panasnya udara atau paparan sinar matahari bisa membuat bahan kimia plastik ikut luruh ke dalam air. Bakteri jahat juga akan berkembang biak dengan ganas.

Bagaimana dengan air keran? Apakah juga aman?

Air keran di setiap rumah berasal dari sumber yang berbeda-beda. Ada yang dari sumur (air tanah) dan ada yang dari sungai atau danau (air PAM). Air dari pusat instalasi PAM pada dasarnya sudah diproses sedemikian rupa sehingga aman untuk diminum tanpa harus dimasak dulu.

Akan tetapi, kualitas air tersebut kemungkinan besar menurun setelah dialirkan menuju rumah-rumah penduduk. Hal ini mungkin disebabkan oleh pemasangan pipa yang tidak sesuai standar mutu PAM atau berbagai masalah teknis lainnya. Akibatnya, bakteri tumbuh di pipa dan air pun belum tentu aman diminum tanpa dimasak.

Sedangkan air tanah dari sumur atau galian di rumah Anda belum terjamin mutunya. Anda masih harus membawa sampel air tersebut ke laboratorium untuk diuji kualitas dan kebersihannya. Setelah dinyatakan bersih dan aman, barulah Anda bisa mengonsumsinya.

Jika air tanah di rumah Anda belum diuji, jangan dipakai untuk minum dan masak. Apalagi kalau ada tanda-tanda kontaminasi seperti air keruh, berwarna kekuningan, atau mengeluarkan bau yang asing.

Apakah merebus air keran bisa efektif membunuh bakteri?

Beberapa jenis racun dan bakteri bisa mati jika air direbus sampai mendidih. Akan tetapi, ingatlah bahwa ada juga jenis bakteri yang tetap bertahan hidup meskipun sudah direbus sampai mendidih. Artinya, merebus air tidak seratus persen menjamin air Anda aman diminum.

Bakteri tertentu seperti Clostridium botulinum masih bisa hidup di atas suhu 100 derajat Celsius. Bakteri yang hidup di tanah, sungai, dan danau ini bisa menyebabkan penyakit botulisme pada manusia yang terinfeksi.  

Tips memilih antara air galon dan air keran

Pada akhirnya memang ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan sebelum memilih antara air galon dan air keran. Bila Anda ingin pakai air galon, Anda hanya boleh membeli air dari merek yang telah terdaftar BPOM dan SNI. Pastikan juga galon belum kedaluwarsa dan dijauhkan dari paparan sinar matahari.

Sementara kalau Anda ingin pakai air keran, uji dulu kualitas air dengan membawa ke laboratorium dinas kesehatan setempat. Kalau sudah dinyatakan bebas bakteri, virus, atau racun, rebus air hingga titik didih, yaitu seratus derajat Celsius. Biarkan air mendidih selama paling tidak sepuluh menit sebelum mematikan api kompor.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Mungkin Anda kaget saat tahu kalau kelopak mata bengkak tiba-tiba. Ada banyak hal yang bisa bikin kelopak mata Anda bengkak. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

Momen anak disunat menjadi salah satu hal penting, khususnya di Indonesia. Tapi, dari sisi medis, kapan waktu yang tepat untuk melakukan sunat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 07/07/2020 . Waktu baca 4 menit

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Banyak gejala penyakit yang sering kali kita abaikan karena terkesan remeh. Padahal, jika dibiarkan justru efeknya bisa fatal.

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Sering Mimpi Buruk? Ini Cara Mengatasinya

Mimpi buruk bisa datang kapan saja di setiap malam Anda. Ini bisa sangat mengganggu Anda jika sering terjadi. Temukan cara mengatasi mimpi buruk di sini.

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hidup Sehat, Tips Sehat 02/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengusir biang keringat

3 Bahan Alami yang Bisa Mengusir Biang Keringat

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 13/07/2020 . Waktu baca 3 menit
kode wadah plastik pada makanan atau minuman

Apakah Wadah Plastik untuk Makanan Anda Aman Bagi Kesehatan? Cari Tahu Lewat Kode Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
manfaat bersepeda

Yuk, Ketahui Beragam Manfaat Bersepeda Bagi Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 3 menit